Batik Masih Menjadi Produk Ekspor Andalan Dari Solo

ekspor
Deratan motif batik | Foto : instagram saudagarbatiknusantara

JoSS, SOLO – Batik masih menjadi produk utama ekspor Solo ke berbagai negara selain tekstil dan produk tekstil serta kantong plastik. Nilai ekspor batik pada semester pertama tahun ini mencapai US$ 4 juta, atau naik dibandingkan periode sama tahun lalu yang hanya US$2,68 juta.

Kasi Perdagangan Luar Negeri Dinas Perdagangan Solo Endang Kurnia Maharani mengatakan batik disebut masih potensial sebagai komoditas ekspor. Batik masuk tiga besar komoditas unggulan selain tekstil dan produk tekstil serta kantong plastik.

Meski demikian dari pelaku batik berharap agar Solo memiliki kegiatan-kegiatan yang sifatnya nasional untuk bisa mendongkrak pasar batik di tingkat lokal.

“Di Solo, batik memang masih menjadi salah satu produk utama. Sebenarnya batik juga masuk tekstil dan produk tekstil, tapi memang sengaja kami pisahkan [kategorinya],” kata dia seperti dikutip dari Solopos, Selasa (2/10).

Secara umum, barang dari Solo banyak diekspor ke Australia, Amerika Serikat, Emirat Arab, Malaysia, Singapura dan sebagainya. “Kalau yang khusus batik, kami tidak memisahkannya berdasarkan komoditasnya. Tapi secara umum sasaran ekspor ke negara-negara itu,” kata dia.

Terkait pelaku ekspor batik, selama ini ada sekitar 10 pelaku ekspor batik dari Solo. Meskipun kemungkinan banyak pelaku usaha yang sudah memasarkan barangnya ke luar negeri melalui bantuan pihak ke tiga.

Baca juga : Penurunan Harga Daging Ayam Picu Deflasi di Solo

Sementara itu, secara kuantitas maupun nilai, ada sedikit penurunan untuk ekspor batik tersebut. Berdasarkan data yang ada, pada 2015 lalu volume ekspor mencapai 579.073,49 kg dengan nilai US$10.87 juta

Sedangkan pada 2016 dan 2017 volumenya turun menjadi sekitar 420.000 kg dengan nilai sekitar US$7 juta. Namun Endang mengatakan untuk realisasi ekspor tahun ini diperkirakan kembali akan meningkat.

“Pada semester pertama 2017 capaiannya sekitar US$2,689 juta. Sedangkan semester pertama tahun ini telah mencapai sekitar US$4 juta. Jadi sudah ada peningkatan,” kata dia.

Ketua Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman (PKWBK), Gunawan Setyawan, mengatakan untuk saat ini pasar lokal batik masih cenderung lesu. Dia menyebutkan dalam dua tahun terakhir secara umum pemasaran batik turun hingga 40%. Meskipun ada pula pelaku bisnis batik yang tetap bisa memasarkan dengan baik.

“Kalau untuk ekspor kami belum. Menurut kami batik itu busana nasional sehingga peminatnya lebih banyak masyarakat dalam negeri. Meskipun ada juga yang memasarkan ke luar negeri dengan motif yang disesuaikan dengan keinginan pasar luar,” kata dia, Selasa.

Namun untuk pasar lokal, dia berharap ke depan Solo memiliki gebrakan lebih kuat. “Kalau mau ramai, harus ada kegiatan besar yang bisa menarik masyarakat luar Solo datang ke Solo. Kemungkinan batik akan ikut ramai, begitu juga kuliner dan sebagainya,” kata dia.

Peringatan Hari Batik yang diperingati dengan mengenakan busana batik, menurutnya juga bisa berdampak baik pada perkembangan batik. Setidaknya, ungkap dia, hal itu menjadi edukasi agar masyarakat semakin mengenal batik. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*