
JoSS, TRIPOLI – Jumlah korban tewas akibat bentrokan bersenjata antara milisi yang berafiliasi dengan PBB di Ibukota Libya, Tripoli sejak akhir Agustus lalu terus bertambah, sedikitnya 115 tewas, 400 luka-luka, selain itu ribuan warga mengungsi dan 500.000 anak terancam jiwanya.
Badan Urusan Anak Internasional PBB / UNICEF mengatakan lebih dari 1.200 keluarga mengungsi dalam waktu 48 jam terakhir karena bentrokan yang meningkat di wilayah Tripoli Selatan sebelum akhirnya berhenti pada Senin (24/9).
“Bentrokan itu membuat lebih dari 25.000 orang terlantar dan setengah dari mereka adalah anak-anak,” katan Direktur UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Geert Cappelaere, seperti dikutip dari CNN, Selasa (25/9).
Dia mengatakan bahwa dalam pertempuran, anak-anak sering menjadi korban dan direkrut oleh kelompok-kelompok bersenjata. “Kami melihat anak-anak dicegah pergi ke sekolah dan kami melihat anak-anak tidak memiliki vaksinasi yang sangat mereka butuhkan,” kata dia.
Anak-anak yang orang tuanya datang ke Libya dengan harapan dapat bermigrasi ke Eropa lewat laut, malah mendapat penderitaan dua kali lebih berat
“Mereka sudah menghadapi kondisi hidup yang mengerikan, banyak dari mereka yang ditahan. Ini merupakan sebuah situasi yang diperburuk olehh kekerasan yang terjadi hari ini,” kata dia.
Baca juga : Perjalanan Mekah ke Madinah Kini Cukup Ditempuh Setengah Jam Saja
UNICEF juga mengatakan sekolah semakin banyak digunakan untuk melindungi keluarga yang terlantar yang kemungkinan besar dimulainya tahun akademik baru akan tertunda.
Penduduk juga menghadapi kekurangan pangan, lsitrik, dan air. Bentrokan ini akan memperparah nasib para imigran.
“Ratusan pengungsi yang ditahan dan imigran termasuk anak-anak telah dipaksa pindah karena kekerasan. Sedangkan yang lainnya sedang terdampar dalam kondisi yang memprihatinkan,” kata dia.
Bentrokan bersenjata antara milisi yang berafiliasi dengan PBB Libya dan sejak 26 Agustus 2018 lalu, meskipun terjadi gencatan senjata yang ditengahi PBB pada 4 September lalu, namun pertempuran kembali pecah di wilayah distrik Tripoli Selatan.
Kekerasan itu meletus setelah Brigade Infanteri Ketujuh Libya (berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan) menuduh Brigade Revolusi Tripoli (berafiliasi dengan Kementerian Dalam Negeri) menyerang posisinya di pinggiran selatan kota.
Ibu kota Libya telah menjadi pusat pertempuran antara kelompok bersenjata sejak diktator Muammar Qaddafi digulingkan dalam pemberontakan 2011 yang didukung NATO.
Pemerintah baru yang berusaha mempersatukan negara itu telah berjuang untuk mengendalikan berbagai milisi dan pemerintahan lawan yang berbasis di Libya Timur. (lna)

Leave a Reply