
JoSS, SOLO – Konflik internal di Kraton Kasunanan Surakarta antara GKR Koes Moertiyah Wandansari dengan Raja Kraton Surakarta ISKS Pakoe Boewono XIII belum juga reda, meski telah ditengahi Menkopolhukam Wiranto.
Seperti yang terlihat pada Rabu (22/8) di sela – sela keluarnya dua gunungan, jaler dan estri, di Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, saat peringatan Hari Raya Idul Adha atau upacara adat Grebeg Besar, sempat terjadi geger di kraton peninggalan Dinasti Mataram ini.
Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Kraton Kasunanan Surakarta GKR Koes Moertiyah Wandansari yang biasa dipanggil Gusti Moeng ditolak masuk menemui Raja Kraton Surakarta ISKS Pakoe Boewono XIII, meski konflik internal ini sudah terjadi sejak setahun terakhir.
PB XIII menolak untuk bertemu Gusti Moeng yang masuk ke ndalem Keputren Kraton, wilayah kraton yang selama konflik menjadi kawasan steril terutama bagi kelompok Dewan Adat.
Polisi yang berdatangan berupaya memfasilitasi pertemuan dua bersaudara kandung putra pasangan Paku Boewono XII dengan garwa selir KRAy Pradapaningrum (GKR Koes Moertiyah dengan PB XIII Hangabehi.Red), tetap tidak membuahkan hasil.
GKR Koes Moertiyah kepada JoSS.co.id mengatakan pihaknya awalnya berupaya menyelesaikan suasana konflik dua kubu di dalam kraton Surakarta, LDA yang berisi sentana dalem PB XII dengan trah dari PB II hingga PB XI dengan kubu PB XIII Hangabehi.
“Setelah ditengahi pemerintah melalui Menkopolhukam Wiranto, sebenarnya telah banyak kemajuan. Namun saya mendapat banyak info kalau kakak saya raja PB XIII Hangabehi sulit untuk rukun dengan saudara-saudaranya karena adanya dua orang oknum dari luar kraton Surakarta,”ujarnya tanpa menyebut nama oknum yang dimaksud.
Padahal, lanjut Gusti Moertiyah, beliau (PB XIII Hangabehi.Red) saat penobatan, yang menobatkan menjadi raja adalah LDA. Dia juga terus berupaya untuk menyelesaikan konflik internal ini dengan bertemu dengan raja PB XIII.
Baca juga : Kominfo Canangkan Media Bermartabat Untuk Pemilu Berkualitas

Namun sayang, ujar Gusti Moeng, meski dirinya sudah berada di ndalem keputren yang berdekatan dengan lokasi tempat bersemayam raja PB XIII yakni di Sasana Putra, PB XIII menolak untuk bertemu dengan dirinya yang notabene adik kandung raja PB XIII.
Gusti Moeng mengatakan cara lain adalah dengan pengawalan polisi untuk masuk ke ruangan Sasana Wilapa, karena status saya masih menjadi Pengageng Sasana Wilapa, namun tidak bisa masuk karena kuncinya dibawa oleh pihak-pihak yang mengatasnamakan Sinuwun (sebutan PB XIII.Red).
“Padahal itu orang-oragnya dua oknum di sekeliling raja PB XIII yang tidak rela kalau saya bisa bersilaturahmi dan rukun kembali dengan kakak saya PB XIII,” ujar Gusti Moeng.
Sementara itu prosesi Grebeg Besar di kraton Surakarta, Rabu (22/8) tidak terpengaruh dengan insiden gagalnya pertemuan dua bersaudara yang sama-sama putra Sinuhun PB XII dari garwa selir KRAy. Pradapaningrum itu Prosesi Grebeg Besar tetap digelar untuk menandai puncak peringatan Idul Adha pada 10 Dzulhijah, atau 10 Besar dalam penanggalan Jawa.
Pengageng parentah Kraton Surakarta KGPH Dipo Koesoemo memberangkatkan dua gunungan yang terdiri dari Gunungan Estri (wanita) yang berisi rengginang, onde-onde Ceplus, dan nasi lengkap dengan lauk pauknya.
Sedangkan Gunungan Jaler (laki-laki) berisi sayur-sayuran seperti kacang panjang, wortel, dan cabai. Dua gunungan kemudian dikirab dari Kraton Surakarta menuju ke Masjid Agung Surakarta. Rute kirab dari Kori Kamandungan Lor – Jalan Supit Urang – Alun-alun Utara Kraton Surakarta hingga berakhir ke Masjid Agung Surakarta. (ton/lna)

Leave a Reply