JoSS, MATARAM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis jumlah korban meninggal dunia dalam gempa di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, dengan kekuatan tujuh pada Skala Richter pada Minggu (05/08) menjadi 91 orang dan ratusan lainnya luka.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan korban terbanyak terjadi di Kabupaten Lombok Utara yang merupakan pusat gempa.
Sementara itu Humas Basarnas Mataram, Agus Hendra Sanjaya mengatakan korban meninggal lain tersebar, termasuk di kota Mataram dan Lombok Barat, dan bahwa angka korban ini adalah sementara.
“Hingga pukul 09:00 WITA Senin 6 Agustus masih dilakukan evakuasi oleh tim rescue Basarnas Mataram. Korban rata-rata mengalami luka di bagian kepala dan patah tulang akibat reruntuhan,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima JoSS.co.id Senin (6/8) pagi.
Dia mengatakan pihaknya sudah menyebar tim di wilayah terdampak paling parah. Kesulitan yang kami alami, mengingat masih terjadinya gempa susulan berskala kecil mengakibatkan kemacetan di jalan. “Akhirnya membuat kami kesulitan. Dan listrik, penerangan padam total,” kata Agus.
Para petugas juga telah menghimbau warga agar tak bermalam di dalam rumah karena masih ada gempa susulan.
“Untuk saat ini warga sudah kami himbau agar tidak bermalam di dalam rumah. Mengingat masih terjadinya gempa susulan. Sudah kami himbau menggunakan pengeras suara,” kata Agus.
Di ibu kota NTB, Mataram sendiri, warga berkumpul di tempat-tempat terbuka dalam suasana gelap karena listrik padam. Setidaknya ada gempa susulan terjadi sampai belasan kali.
“Hingga saat ini telah ada 14 kali gempa susulan,” jelas Sutopo.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan bahwa gempa di Pulau Lombok yang terjadi pada tanggal 29 Juli lalu merupakan gempa pendahuluan dengan kekuatan 6,4.

“Gempa hari ini kami simpulkan sebagai gempa utama yang mencapai magnitudo tujuh. Ini yang tinggi kekuatannya,” katanya.
Dengan demikian, lanjutnya, gempa lebih besar lagi diperkirakan tidak akan terjadi sebab sebagian energi yang tersimpan sudah terlepas melalui gempa pertama dan gempa hari ini (05/08).
Dia menjelaskan Pulau Lombok mempunyai dua generator pembangkit gempa bumi, dan yang berperan kali ini satu generator saja. Ia merujuk pada patahan naik atau sesar naik Flores.
“Di sebelah utara Pulau Lombok, tepatnya di Laut Flores, terdapat sesar atau patahan batuan. Ini kondisi tetonika atau pergerakan lempeng-lempeng penyusun kerak bumi,” jelasnya.
Di sebelah selatan dari Pulau Lombok, tepatnya di Samudera Hindia, terjadi tumpukan lempeng Samudera Indo-Australia menumpuk ke arah lempeng Asia, Eurasia melewati bagian bawah Lombok.
Pihak berwenang sempat mengeluarkan peringatan tsunami, tetapi peringatan itu dicabut karena ketinggian air yang masuk ke daratan diperkirakan hanya sekitar 10- 13 cm, sebagaimana dikatakan oleh Sutopo Purwo Nugroho.
Baca juga : Mengurai Kisah Rambut Gimbal Anak Dieng
Sutopo menambahkan kerusakan tercatat di Bali, termasuk rumah-rumah yang rusak, kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Sumbawa Barat.
Gempa kali ini terjadi seminggu setelah gempa di Lombok yang menyebabkan 16 orang meninggal dunia.
Hingga saat ini pihak berwenang dan tim relawan memberikan pertolongan pertama dan melakukan pendataan.
“Laporan terkini hampir seluruh wilayah Lombok gelap total. Mati lampu. Gempa terasa sangat keras sekali. Kami menerima banyak laporan masuk tentang robohnya rumah-rumah warga,” ujar Kusmayadi, Koordinator Tim Emergency Response dari lembaha kemanusiaan ACT.
Lalu Muhammad Fauzal, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat mengatakan kondisi hotel-hotel aman dan “para tamu masih berada di titik kumpul masing-masing.”
Juru bicara Angkasa Pura, Awaludin, mengatakan tercatat “beberapa kerusakan fasilitas pendukung terminal” di Bandara Ngurah Rai, Bali dan juga Lombok Praya dan sempat terjadi padam listrik. (*/lna)

Leave a Reply