JoSS, DENPASAR – Suhu udara di Bali mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir. Stasiun BMKG Wilayah III Denpasar mencatat suhu minimum di Bali pernah mencapai 20 derajat celcius.
Berdasarkan catatan stasiun BMKG Wilayah III Denpasar, suhu minimum hingga 20 derajat celcius terjadi di Kabupaten Jembrana dengan suhu maksimum mencapai 27 derajat celcius. Sementara, di Denpasar suhu minumnya 23,3 derajat celcius dan suhu maksimum mencapai 30,6 derajat celcius.
Kadek Setiya Wati, Prakirawati BMKG Wilayah III Denpasar mengatakan kondisi ini agak beda dari biasanya, padahal saat ini Bali masih mengalami musim kemarau. Dia menjelaskan, penurunan suhu belakangan ini lebih dominan disebabkan beberapa hari terakhir di wilayah Indonesia, khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT kandungan uap di atmosfer cukup sedikit. Hal ini terlihat dari tutupan awan yang tidak signifikan selama beberapa hari terakhir.
“Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga bulan September nanti. Namun, untuk suhu minimum dan maksimum di setiap daerah di Bali berbeda-beda,” ujar Kadek Setiya Wati, Prakirawati BBMKG Wilayah III Denpasar saat dikonfirmasi, Senin (16/7).
Baca juga : Ini Daftar Kloter Calon Jemaah Haji Yang Diberangkatkan Dari Donohudan
Menurut dia secara fisik, uap air dan air merupakan zat yang cukup efektif dalam menyimpan energi panas yang menyebabkan rendahnya kandungan uap di atmosfer.
Dia menjelaskan kondisi ini menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi ke luar angkasa pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer dan energi yang digunakan untuk meningkatkan suhu atmosfer di atmosfer lapisan dekat permukaan bumi tidak signifikan.
Kondisi seperti ini bertolak belakang dengan kondisi saat musim hujan atau peralihan. Saat itu, kandungan uap air di atmosfer cukup banyak, sehingga atmosfer menjadi semacam “reservoir panas” saat malam hari.
Selain itu, pada Juli ini wilayah Australia berada dalam periode musim dingin. Sifat dari massa udara yang berada di Australia ini dingin dan kering.
Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia semakin signifikan. Akibatnya penurunan suhu udara yang cukup signifikan pada malam hari terjadi di wilayah Indonesia, khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT. (bps/lna)

Leave a Reply