Bank ‘Pelat Merah’ Urung Danai Akuisisi Freeport

freeport
Bank milik pemerintah batal danai akurasi saham Freeport | Foto : google

JoSS, JAKARTA – Bank milik pemerintah dipastikan batal mendanai akuisisi saham PT Freeport Indonesai melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sebesar 51,23%. Pembiayaan sepenuhnya akan dilakukan oleh perbankan milik swasta dan asing.

Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Jasa Konsultasi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Gatot Trihargo mengatakan Menteri BUMN Rini Soemarno telah menginstruksikan seluruh bank pelat merah untuk tidak membiayai divestasi saham PT  Freeport Indonesia ke PT Inalum.

Seperti diketahui proses divestasi yang akan mengerek porsi saham Inalum menjadi 51,23 persen tersebut dilakukan melalui pembelian saham milik Freeport-McMoran dan hak partisipasi Rio Tinto di Freeport Indonesia.

“Pendanaan untuk Inalum kan banyak tidak hanya untuk akuisisi saja, Untuk transaksi ini, mungkin kami perlu skala prioritas dari yang lainnya,” katanya.

Secara terpisah, Ketua Himpunan Bank Negara (Himbara) Maryono membenarkan hal tersebut, dia mennyatakan 4 bank BUMN tidak ikut serta pembiyaan modal bagi PT Inalim dalam proses akuisisi saham PT Freeport sebesar 51 persen.

“Kami dari BTN tidak akan ikut dalam pembiayaan dalam pengalihan saham Freeport dan 4 bank BUMN juga kemungkinan sama. Tidak ikut dalam pembiayaan,” ujarnya.

Maryono menambahkan, pembiayaan akuisisi saham Freeport akan didanai bank asing dan swasta. Menurutnya, hal ini bertujuan untuk menarik dana dari luar negeri untuk tambahan devisa.

“Ya ini nanti akan dikonsentrasikan dibiayai oleh bank-bank asing, dan bank swasta. Alasannya supaya ada juga uang mengalir dari negara-negara lain sehingga bisa menambahkan devisa kita,” katanya.

Baca juga : Masyarakat Semarang Antusias Sambut Api Asian Games 2018

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menyatakan hal yang sama terkait pembatalan fasilitas kredit US$ 500 juta ke PT Inalum untuk membiayai pengambilalihan saham PT Freeport Indonesia.

Direktur Utama BNI Achmad Baiquni mengatakan keputusan tersebut diambil karena banknya tak bisa bersaing dengan bank asing yang menawarkan tingkat bunga kredit yang lebih rendah dan menarik kepada Inalum.

Baiquni tidak menjelaskan berapa besaran bunga yang bisa ditawarkan bank asing. Namun, salah satu bank yang menawarkan kredit ke Inalum, disebut memasang bunga sebesar 4 persen.

“Dengan tawaran tersebut, sulit bagi kami kalau harus bersaing dengan bank-bank global. Berat bersaingnya,” ujar Baiquni.

Menurut Baiquni, daripada BNI bersaing dengan bank asing untuk memberikan bunga rendah untuk Inalum, lebih baik kredit tersebut diberikan ke pihak lain dengan bunga yang sesuai standar pasar.

Penyaluran kredit tersebut menurutnya jauh lebih menguntungkan bagi bank.

“Apalagi kan sekarang kami tidak diwajibkan untuk biayai itu (Inalum). Kami dibebaskan, diberi keleluasaan untuk kalau mau biayai, silakan. Kalau tidak, silakan,” terangnya.

Di sisi lain, ia meyakini bahwa Inalum pun tentu akan lebih memilih sumber dana yang murah, sehingga tak memberatkan bagi mereka ke depannya. Untuk itu, tawaran dari para bank asing bisa dimanfaatkan oleh Inalum.

Selain masalah persaingan, Baiquni mengatakan pembatalan pemberian fasilitas kredit ke Inalum juga dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar keuangan saat ini.

Sebelumnya, BNI mengaku akan bergabung dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI memberikan kredit sindikasi untuk membantu Inalum mendapatkan 51,23 % saham Freeport. Mereka berencana memberi kredit US$1,5 miliar kepada Inalum. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*