
JoSS, JOGJA – Raja Willem-Alexander dan Ratu Máxima Zorreguieta Cerruti dari Kerajaan Belanda dijadwalkan mengunjungi Yogyakarta pada 11 Maret 2020 besok. Kunjungan ini merupakan yang pertama sejak kunjungan sebelumnya pada 25 tahun lalu.
Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Lambert Grijns menjelaskan, Jogja dipilih menjadi tujuan kunjungan keluarga Kerajaan Belanda, karena dianggap memiliki latar belakang budaya kerajaan yang sama, serta memiliki sejarah cukup istimewa,.
“Yogya menjadi pusat pengetahuan, sains, sekaligus budaya. Paket komplit ini tidak dimiliki daerah lain,” ujarnya usai bertemu Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam X di Ndalem Ageng, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, belum lama ini.
Belanda, ujar Grijns melihat Jogja sebagai daerah yang trendi, tak kekurangan intelektual muda dan maju dalam sektor inovasi dan kebudayaan. Grijns menuturkan Kerajaan Belanda sangat tertarik dan ingin tahu lebih tentang rencana masa depan dan peran khusus yang akan dilakukan Yogyakarta.
Oleh sebab itu, dalam kunjungan nanti, ujar Grijns, Raja dan Ratu Belanda akan bertemu dan berdiskusi langsung dengan Raja Keraton sekaligus Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Keraton Yogyakarta.
Baca juga: Gegara Dicap ‘Antek Londo’ Gusti Moeng Luruskan Sejarah Kraton Mataram
Selain menyambangi keluarga Keraton, Raja dan ratu Belanda juga bakal bertolak menyambangi kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), yang dipandang sebagai ikon dan pusat ilmu pengetahuan dan teknologi di Jogya, “Sektor pendidikan menjadi satu fokus dalam kunjungan Raja dan Ratu Belanda nanti,” ujar Grijns.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur DIY Paku Alam X menuturkan kunjungan pucuk pimpinan kerajaan Belanda ke Yogyakarta, bisa menjadi energi positif untuk memperbaiki lagi hubungan kedua belah pihak yang pasang surut di masa lampau.
Paku Alam tak menampik, sejarah hubungan Yogyakarta – Belanda pada masa penjajahan tidak bisa dikatakan baik. Namun bukan berarti tidak ada nilai positif yang bisa diambil dari sejarah hubungan tersebut.
“Salah satu sisi positif tersebut adalah diadopsinya beberapa kebudayaan Belanda seperti bangunan arsitektur dan adopsi bahasa,” ujarnya seperti dikutipd ari Kompastravel.com.
Paku Alam menuturkan sudah sejak lama Yogya – Belanda menjalin hubungan kerjasama dalam berbagai bidang. Kemitraan tersebut terjalin kuat karena terhubung ikatan budaya dan sejarah.
“Kami berharap kunjungan nanti dapat meningkatkan kerjasama bidang ekonomi, sains, budaya, pariwisata, dan teknologi hingga dampaknya meningkatnya kesejahteraan masyarakat kerajaan Belanda dan Yogya,” ujar Paku Alam. (lna)

Leave a Reply