Soal Impor Rektor, Ini Kata Sejumlah Rektor di Jogja

Ilustrasi | Foto: google

JoSS, JOGJA – Rencana pemerintah untuk mendatangkan rektor asing ke Tanah Air demi menaikkan level universitas di Indonesia masuk 100 besar dunia menuai beragam komentar, khususnya dikalangan rektor.

Di Jogja misalnya, wacana pemerintah tersebut bisa dianggap sebagai tantangan percepatan bertambahnya PTN yang berkelas dunia, namun pada prakteknya tidaklah mudah.

Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, Prof.Sutrisna Wibawa menjelaskan memasukkan orang asing ke Indonesia perlu diikuti dengan kesiapan SDM.

“Kalau menurut saya, bukan rektornya. Tetapi memperbanyak dosen, riset-riset bersama, kemudian mengirim mahasiswa ke luar [luar negeri] yang di luar [mahasiswa asing] ke dalam [Indonesia], usulan saya lebih kesitu,” kata dia, Kamis (1/8) seperti dikutip dari HarianJogja.

Dengan demikian, percepatan untuk jadi perguruan tinggi kelas dunia dimulai lewat kerjasama internasional, dosen-dosen internasional, mahasiswa Internasional.

UNY sendiri sudah melakukan langkah-langkah secara bertahap dan terukur, untuk mencapai universitas dunia pada 2025. Ada rencana, rancangan yang jelas.

“Kapan masuk Asia, kapan masuk 1.000 dunia, kami punya rencana yang jelas. Ada tahapan yang jelas,” ungkapnya.

Menurut Sutrisna, yang paling penting dalam menyiapkan universitas laik masuk peringkat dunia adalah terkait bagaimana visiting professor, dosen keluar masuk [pengalaman internasional]. Sehingga punya pengalaman di luar negeri, join riset, join publication. Termasuk juga perihal mahasiswa Indonesia bisa kuliah di luar negeri dan sebaliknya juga ada regulasi yang jelas.

Baca juga: Soal Rektor Impor, Begini Tanggapan Yosep Parera

Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof.Panut Mulyono mengungkapkan, setiap pemimpin PTN tentu mempunyai tujuan tertentu. Demikian juga terkait upaya mempercepat ranking kelas dunia.

“Bagi kami sendiri, berpikiran bahwa sebenarnya percepatan ranking dunia PTN, seperti UGM misalnya, sudah tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana caranya, sudah tahu. Tapi semuanya kendala utama adalah bagaimana kita mendanai hal-hal itu agar bisa dipercepat,” paparnya.

Begitu juga untuk kriteria yang dinilai tentang peningkatan ranking, semisal jumlah publikasi internasional, kualitas lulusan, alumni bekerja di perusahaan bonafit, UGM sudah menunjukkan kualitas mereka.

“Bagaimana peran serta dosen kita [Indonesia] dalam pemecahan masalah bangsa dan kontribusi ke kemajuan dunia, inikan semuanya membutuhkan fasilitas dan biaya,” lanjut dia.

Untuk bisa membuat penelitian yang bagus, perlu alat laboratorium yang baik, dana riset yang besar, survei ilmu sosial juga butuh biaya yang besar, imbuh Panut.

Sekarang, bila mendatangkan rektor asing, Panut membayangkan pikiran yang dibawa rektor asing tersebut kalau dengan kisi meningkatkan ranking secara cepat.

“Saya bisa menduga apa yang akan dilakukan, yakni perbaiki alat laboratorium, sediakan alat yang canggih, jumlah profesor sedikit lalu ditambah dan lainnya. Apa bisa berjalan dengan baik, ini harus kita pikirkan, lalu apakah ada rektor asing yang digaji sama dengan rektor Indonesia? kalau gaji jomplang antara profesor dan rektor asing akan menimbulkan persoalan tersendiri, disharmonisasi lingkungan,” paparnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*