
JOGJA, JOSS.CO.ID – Kawasan Jalan Malioboro berubah menjadi ruang kreatif terbuka dalam gelaran Simfoni 1001 Pembatik pada Sabtu (3/10/2026). Diikuti oleh 1.000 peserta yang membentang dari Toko Batik Terang Bulan hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta, aksi membatik masal ini diselenggarakan untuk memeriahkan Hari Batik Nasional 2026 sekaligus memperingati HUT ke-270 Kota Yogyakarta.
Rangkaian acara dimulai pukul 06.00 WIB dengan pelepasan sepeda batik yang berakhir di Titik Nol Kilometer, kemudian dilanjutkan dengan aksi membatik bersama.
Ajak Generasi Muda Lebih Mindful Lewat Membatik
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menunjukkan bahwa Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia terus menjaga dan mengembangkan batik. Ia menilai proses membatik menggunakan canting juga dapat menjadi sarana untuk mengenalkan nilai kesabaran dan ketelitian kepada generasi muda.
“Ini kesempatan pertama saya memegang batik. Yang paling penting adalah ini dimulai dengan canting,” jelas Wawan pada Sabtu, dilansir laman resmi Pemkot Yogyakarta.
Menurut Wawan, membatik dengan canting membutuhkan kesabaran dan ketelitian yang relevan dengan kehidupan generasi muda yang terbiasa dengan aktivitas serba cepat. “Buat orang yang kesabarannya, kalau anak muda sekarang bilang kesabaran saya setipis tisu, ini kayaknya tantangan besar,” ujarnya.
Ia juga menyebut aktivitas membatik membutuhkan konsentrasi dan ketenangan sehingga dapat melatih mindfulness. “Membatik itu juga salah satu cara healing, alias mindful. Harus mindful karena kalau tidak pasti belok-belok, mencong-mencong,” katanya.
Wawan menegaskan, upaya melestarikan batik tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah. Peran masyarakat dan berbagai elemen lainnya diperlukan agar batik tetap hidup dan berkembang.
Beragam Upaya Menjaga Kelestarian Batik
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian, Emi Suryandari, mengatakan pengembangan batik perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga batik sebagai bagian dari budaya Indonesia.
“Upaya tersebut kami arahkan untuk bagaimana batik sebagai industri atau sebagai budaya kita itu industrinya bisa tetap tumbuh, mempunyai daya saing, inovasi, dan juga berkelanjutan,” ungkapnya.
Pemerintah juga memberikan sejumlah fasilitasi bagi industri, seperti sertifikasi halal, SNI industri hijau, dan verifikasi gas rumah kaca. Melalui program Batik Go to Government, Kementerian Perindustrian juga mengajak 628 instansi pemerintah di seluruh Indonesia untuk memahami pentingnya mengenal, menggunakan, dan mendukung batik asli Indonesia.
Emi menekankan bahwa batik bukan sekadar kain bermotif, tetapi juga mencakup proses pembuatannya. “Batik ini bukan hanya sekadar kain yang terlihat seperti motif batik, tetapi prosesnya pun juga proses membatik,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat menggunakan batik asli Indonesia sekaligus mendukung keberlangsungan industri batik. “Pelestarian batik membutuhkan gerakan bersama,” katanya.
Menurut Emi, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan batik Indonesia. Ia pun mengajak peserta Simfoni 1001 Pembatik untuk mengenal dan mencintai batik. “Kalau tidak, maka budaya ini tidak akan ada yang melestarikan,” tegasnya.
Generasi Muda Perlu Terlibat Menjaga Batik sebagai Warisan
Pelestarian batik juga mendapat perhatian dari para pelajar yang mengikuti Simfoni 1001 Pembatik. Salah satunya Sarah (17), pelajar SMP Muhammadiyah Kasihan, yang mengaku mendapat pengalaman baru dari kegiatan tersebut.
Ia mengatakan, membatik memberinya kesempatan untuk mengenal budaya lokal melalui praktik secara langsung. Menurutnya, generasi muda perlu terlibat dalam menjaga batik sebagai bagian dari warisan leluhur.
“Kita harus lestarikan budaya batik seperti ini karena menginspirasi dari zaman-zaman lampau. Terutama dalam membatik tulis membutuhkan ketelitian. Kita melukis batik pelan-pelan agar tidak meluber keluar dari pola. Tetapi membatik ternyata kegiatan yang sangat seru,” ungkapnya.
Melalui kegiatan yang digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY tersebut, para peserta bersama-sama menggoreskan malam di atas kain dengan motif Sumbu Filosofi Jogja, mulai dari Gunung, Tugu, Panggung Krapyak, Keraton, Plengkung Gading, dan lainnya. Malioboro pun menjadi ruang bersama untuk menghidupkan tradisi membatik.
Pengalaman Pertama Membatik di Malioboro
Antusiasme terlihat dari para peserta yang datang dari berbagai daerah. Sebagian bahkan baru pertama kali mencoba menggunakan canting dan menggoreskan malam di atas kain. Salah satunya Eka Nurdi, pria berusia 54 tahun asal Jakarta yang sedang berlibur di Jogja.
Bagi Eka, pengalaman pertama membatik justru membuatnya semakin memahami proses panjang di balik selembar kain batik.
“Ini pengalaman pertama membatik dan terus terang setelah melakukan ini jadi lebih menghargai pembatik dan tahu gitu kalau batik itu mahal tuh kenapa alasannya, ya ini salah satunya memang susah,” ujarnya.
Eka mendapat motif Tugu Jogja untuk dibatik. Dari pengalaman tersebut, ia menyadari bahwa pembuatan batik membutuhkan kesabaran dan ketelitian.
“Ikut garis itu saja lurus susah, apalagi yang saya lihat di TV itu kan pembatik tuh enggak pakai garis-garis ini, bahkan langsung gitu kan, itu sudah kebayang susahnya. Dan [betapa] terampilnya mereka,” ucapnya sambil menunjukkan hasil karyanya.
Belajar Batik Sejak SMK
Peserta lainnya, Pasha (19), datang dari Sleman untuk semakin mengenal batik sekaligus memahami cara membuatnya. Ketertarikan Pasha bermula ketika bersekolah di SMKN 5 Yogyakarta jurusan tekstil dan batik.
“Sekitar 3 tahun [belajar batik]. Tugas akhir saya buat batik kontemporer. Campuran, dari yang lawas dan ini motif baru. Kemarin saya menjual di Dekranasda Sleman, itu kain saya terjual dua kain,” ujarnya.
Batik Perlu Terus Dikembangkan
Ketua Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) DIY, Sugeng Waskito, menyambut baik pelaksanaan Simfoni 1001 Pembatik sebagai sarana melestarikan batik hingga ke tingkat internasional. Sugeng yang menekuni dunia batik selama 22 tahun melalui Gee Batik berharap kegiatan serupa terus berlanjut.
“Saya di dunia batik baru 22 tahun, saya punya butik namanya Gee Batik. Kita harus melestarikan budaya batik agar tidak dicaplok ke negara lain,” ucapnya.
Sugeng menambahkan bahwa batik perlu dikemas lebih modern agar semakin dekat dengan anak muda, salah satunya melalui motif abstrak kontemporer.
“Kalau kita batik pakem itu kan hanya gitu-gitu aja kan. Yang sekarang trennya lagi batik abstrak kontemporer. Katanya kalau pakai batik yang itu lebih terkesan lebih tua, nggak juga sih. Sebenarnya kita modifikasi untuk batik biar lebih modern,” lanjutnya.
Masyarakat Diajak Mengenal Proses Membatik
Ketua Harian Dekranasda DIY, GKBRAA Paku Alam atau Gusti Putri, menekankan pentingnya masyarakat memahami rumitnya proses pembuatan batik.
“Saya ingin masyarakat tahu bahwa pembatik itu ada prosesnya. Nah, prosesnya inilah yang menjadikan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia,” ujarnya.
“Ternyata membatik itu sukar, mempunyai proses yang panjang. Jadi saya ingin masyarakat tahu bahwa inilah membatik, tidak segampang yang mereka bayangkan, tapi tidak sesukar yang mereka bayangkan,” tuturnya.
Gusti Putri menyebutkan dua tantangan pelestarian batik saat ini, yaitu kurangnya minat generasi muda untuk membatik dan maraknya produk tekstil bermotif batik.
“Saya penginnya mereka memberitahu bahwa ini ada tekstil yang motif batik, bukan batik asli Yogyakarta atau Indonesia,” lanjutnya.
Kadin DIY Dorong Pelestarian Batik
Ketua Panitia Simfoni 1001 Pembatik, Indah Rahayu Murniati, menjelaskan bahwa kegiatan sepanjang 550 meter di kawasan Malioboro ini merupakan program kerja Kadin DIY 2026 di bawah bidang pemberdayaan perempuan.
“Kegiatan membatik dilaksanakan sepanjang 550 meter di kawasan jalan raya Malioboro, membentang dari perempatan Batik Terang Bulan hingga Monumen Serangan Umum 1 Maret di Titik Nol Yogyakarta,” ucapnya.
“Bersamaan dengan perayaan HUT ke-270 Kota Jogja, kegiatan ini ditujukan sebagai ruang edukasi bagi generasi muda dan momentum untuk mengukuhkan eksistensi Yogyakarta sebagai kota batik dunia,” jelasnya.
Wakil Ketua Umum Koordinator 2 Kadin DIY, Gunarta Adibrata, menambahkan bahwa batik merupakan warisan adiluhung bangsa yang menjadi simbol tradisi sekaligus penggerak ekonomi.
“Oleh karena itu, melestarikan batik adalah ikhtiar bersama menjaga jati diri sekaligus membangun masa depan,” ujarnya.
Baca Juga: Jadwal Acara HUT Ke-270 Jogja Oktober 2026: Malioboro Run hingga Kustomfest!

Leave a Reply