
PEKALONGAN, JOSS.CO.ID – Bencana rob dan abrasi air laut yang melanda kawasan pesisir sempat melumpuhkan perekonomian warga. Namun, para petambak di Kelurahan Degayu, Kota Pekalongan, Jawa Tengah kini menemukan harapan baru. Mereka mulai beralih ke metode silvofishery untuk membangkitkan mata pencaharian yang sempat tenggelam.
Metode silvofishery memadukan antara budidaya perikanan dan pelestarian ekosistem mangrove. Tanaman mangrove ditanam mengelilingi area tambak untuk membentengi pesisir dari ancaman abrasi sekaligus menahan hempasan rob.
Bencana rob dan abrasi berskala besar mulai menghantam wilayah Degayu sejak tahun 2018 dan berlanjut hingga beberapa tahun berikutnya.
Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mina Muda Mandiri, Mohammad Arif Rohman (36), membeberkan kondisi parah yang melanda daerahnya:
Dampak dari bencana alam ini langsung menghentikan denyut perekonomian warga lokal. Padahal, mayoritas masyarakat Degayu bergantung pada hasil budidaya komoditas perikanan seperti udang vaname, kerang, hingga ikan bandeng.
Harapan baru muncul pada tahun 2025 lewat pendampingan dari program Kemitraan beserta sejumlah pihak terkait. Masyarakat mulai meninggalkan sistem tambak intensif dan mengadopsi sistem silvofishery.
Dahulu, para petambak fokus pada keuntungan besar tanpa memedulikan keanekaragaman hayati pesisir. Kini, orientasi tersebut diubah secara bertahap demi keberlanjutan lingkungan.
Langkah Pengembangan Awal:
- Lahan Percontohan: Menyiapkan petak tambak berukuran sekitar $9 \times 70$ meter.
- Penyebaran Benih: Menebar sebanyak 2.000 benih ikan bandeng.
- Sabuk Hijau: Menanam pohon-pohon mangrove di sekeliling bentangan tambak.
Arif menekankan pentingnya keseimbangan antara produksi perikanan dan kelestarian ekosistem:
Selain ikan bandeng, kelompok ini juga menjajaki potensi budidaya komoditas lain seperti kepiting, rumput laut, dan kerang hijau dengan memperhatikan kondisi perairan.
Penerapan konsep baru ini membuahkan hasil yang menjanjikan. Nurhadi (35), salah satu anggota kelompok, mengaku optimistis melihat tingkat kelangsungan hidup bibit ikan yang cukup tinggi.
Hadirnya pepohonan mangrove kini berfungsi sebagai pagar hidup pembendung air pasang. Para petambak pun tak lagi cemas saat rob melanda kawasan tambak mereka.
Kota Pekalongan menjadi salah satu daerah paling terdampak perubahan iklim di Jawa Tengah. Hal ini dikonfirmasi oleh Team Leader PMU Kemitraan Indonesia, Arief Mahmudi, yang menilai masyarakat perlu terus beradaptasi.
Ia menjelaskan bahwa dampak perubahan iklim merusak seluruh sektor mata pencaharian warga lokal secara mendasar.
Melalui pendampingan metode silvofishery ini, Kemitraan mengajak masyarakat untuk tetap dapat bekerja menjaga taraf hidup sekaligus melestarikan lingkungan pesisir dari kerusakan lanjutan.
Baca Juga: Jaga Air Tanah dari Rumah, Pemprov Jateng Gelorakan Gerakan Sak Omah Sak Sumur Resapan

Leave a Reply