Sempat Lumpuh Akibat Rob, Petambak Pekalongan Kembali Bangkit Pakai Metode Silvofishery

Ilustrasi, Terdampak rob dan abrasi parah, petambak di Pekalongan bangkit kembali dengan metode silvofishery.
Ilustrasi, metode silvofishery.

PEKALONGAN, JOSS.CO.ID – Bencana rob dan abrasi air laut yang melanda kawasan pesisir sempat melumpuhkan perekonomian warga. Namun, para petambak di Kelurahan Degayu, Kota Pekalongan, Jawa Tengah kini menemukan harapan baru. Mereka mulai beralih ke metode silvofishery untuk membangkitkan mata pencaharian yang sempat tenggelam.

Metode silvofishery memadukan antara budidaya perikanan dan pelestarian ekosistem mangrove. Tanaman mangrove ditanam mengelilingi area tambak untuk membentengi pesisir dari ancaman abrasi sekaligus menahan hempasan rob.

Bencana rob dan abrasi berskala besar mulai menghantam wilayah Degayu sejak tahun 2018 dan berlanjut hingga beberapa tahun berikutnya.

Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mina Muda Mandiri, Mohammad Arif Rohman (36), membeberkan kondisi parah yang melanda daerahnya:

“Jadi mulai rob besar itu tahun 2018, terus parah banget 2019, 2020 dan 2021 terus penurunan tanah. Itu sawah semuanya hilang, tambak-tambak juga. Mungkin ada ribuan hektare semuanya tenggelam jadi laut,” ujar Arif saat ditemui di tambak silvofishery, Sabtu (23/10).

Dampak dari bencana alam ini langsung menghentikan denyut perekonomian warga lokal. Padahal, mayoritas masyarakat Degayu bergantung pada hasil budidaya komoditas perikanan seperti udang vaname, kerang, hingga ikan bandeng.

“Kerugiannya itu bisa sampai miliaran rupiah karena tambak-tambaksnya hilang,” jelas Arif.

Harapan baru muncul pada tahun 2025 lewat pendampingan dari program Kemitraan beserta sejumlah pihak terkait. Masyarakat mulai meninggalkan sistem tambak intensif dan mengadopsi sistem silvofishery.

Dahulu, para petambak fokus pada keuntungan besar tanpa memedulikan keanekaragaman hayati pesisir. Kini, orientasi tersebut diubah secara bertahap demi keberlanjutan lingkungan.

Langkah Pengembangan Awal:

  • Lahan Percontohan: Menyiapkan petak tambak berukuran sekitar $9 \times 70$ meter.
  • Penyebaran Benih: Menebar sebanyak 2.000 benih ikan bandeng.
  • Sabuk Hijau: Menanam pohon-pohon mangrove di sekeliling bentangan tambak.

Arif menekankan pentingnya keseimbangan antara produksi perikanan dan kelestarian ekosistem:

“Konsepnya, tambak dan mangrove harus bersinergi. Jadi, bukan hanya untuk menghasilkan ikan, tetapi juga menjaga lingkungan dan mempersiapkan masa depan anak-anak kita,” jelas Arif.

Selain ikan bandeng, kelompok ini juga menjajaki potensi budidaya komoditas lain seperti kepiting, rumput laut, dan kerang hijau dengan memperhatikan kondisi perairan.

“Yang paling penting harus dibarengi dengan penanaman mangrove,” tegas Arif.

Penerapan konsep baru ini membuahkan hasil yang menjanjikan. Nurhadi (35), salah satu anggota kelompok, mengaku optimistis melihat tingkat kelangsungan hidup bibit ikan yang cukup tinggi.

“Kalau untuk proses ke depan, masih semangat. Perkembangannya bagus. Umur ikan kurang lebih dua bulan dan kematian yang kami perkirakan sekitar 0,3 persen. Nanti bisa dipanen sekitar umur 6 bulan. Sudah besar-besar,” imbuh Nurhadi.

Hadirnya pepohonan mangrove kini berfungsi sebagai pagar hidup pembendung air pasang. Para petambak pun tak lagi cemas saat rob melanda kawasan tambak mereka.

“Memang awalnya tidak mudah, tapi kami memang harus beradaptasi dengan perubahan iklim sekarang,” kata Nurhadi.

Kota Pekalongan menjadi salah satu daerah paling terdampak perubahan iklim di Jawa Tengah. Hal ini dikonfirmasi oleh Team Leader PMU Kemitraan Indonesia, Arief Mahmudi, yang menilai masyarakat perlu terus beradaptasi.

“Jadi Pekalongan itu salah satu kota yang paling parah. Ada pencemaran, ada penurunan muka tanah yang cukup tinggi dibanding kota lainnya dan ada beberapa masalah lain,” ungkap Arief.

Ia menjelaskan bahwa dampak perubahan iklim merusak seluruh sektor mata pencaharian warga lokal secara mendasar.

“Kita lihat banyak dampak di perubahan iklim terutama di mata pencaharian masyarakat. Petani nggak bisa nanam karena rob, apalagi petambak hilang semua termasuk pemukiman mereka. Nah mereka ini butuh penghidupan baru,” jelas dia.

Melalui pendampingan metode silvofishery ini, Kemitraan mengajak masyarakat untuk tetap dapat bekerja menjaga taraf hidup sekaligus melestarikan lingkungan pesisir dari kerusakan lanjutan.

Baca Juga: Jaga Air Tanah dari Rumah, Pemprov Jateng Gelorakan Gerakan Sak Omah Sak Sumur Resapan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*