Isu Daya Beli Menurun, Perjalanan Wisatawan Domestik Tembus 842 Juta

Ilustrasi, di tengah isu penurunan daya beli masyarakat, data BPS mencatat pergerakan perjalanan wisatawan domestik mencapai 842,15 juta perjalanan hingga Agustus 2026.
Ilustrasi, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 842,15 juta hingga Agustus 2026, naik 4,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.(DOK. PT KAI)

JOSS.CO.ID – Kekhawatiran mengenai pelemahan ekonomi dan penurunan daya beli masyarakat sempat menjadi sorotan. Namun, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan dinamika sebaliknya pada sektor pariwisata domestik. Pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) justru mencatatkan pertumbuhan signifikan.

“Perkembangan jumlah perjalanan wisnus Indonesia pada periode Januari-Agustus 2026 menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Jumlah perjalanan wisnus pada periode Januari-Agustus 2026 tercatat sebesar 842,15 juta perjalanan,” bunyi keterangan data Badan Pusat Statistik, dikutip Selasa (6/10/2026).

Angka 842,15 juta perjalanan tersebut naik 4,29 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang tercatat sebanyak 807,55 juta perjalanan.

Pertumbuhan Bulanan dan Dominasi Pulau Jawa

Khusus pada Agustus 2026, jumlah pergerakan wisnus mencapai 104,30 juta perjalanan. Meski melandai 2,92 persen dibandingkan Juli 2026, angka ini melonjak 11,47 persen dibandingkan Agustus 2025.

Baca Juga: Pakar UGM: Downgrading Konsumsi Jadi Alarm Tekanan Daya Beli Kelas Menengah

Pulau Jawa masih menjadi pusat utama aktivitas turis domestik dengan menyumbang 64,64 persen dari total perjalanan nasional berdasarkan daerah asal.

  • Jawa Barat: Menjadi daerah asal perjalanan terbanyak dengan 19,38 juta perjalanan (18,59 persen dari total nasional), naik 13,96 persen secara tahunan (year-on-year).
  • Jawa Timur: Menyumbang 15,79 juta perjalanan (15,14 persen).
  • Jawa Tengah: Mencatat 12,87 juta perjalanan (12,34 persen).

Daerah lain yang mencatat pergerakan tinggi meliputi DKI Jakarta, Banten, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan. Pertumbuhan perjalanan tertinggi berdasarkan daerah asal secara tahunan dicapai oleh Papua Barat yang melonjak 31,49 persen, disusul Kalimantan Tengah (25,22 persen), Maluku (23,18 persen), dan Jawa Tengah (19,98 persen).

Jawa Barat dan DI Yogyakarta Jadi Destinasi Favorit

Dari sisi daerah tujuan, Pulau Jawa menyerap 67,77 juta perjalanan atau 64,98 persen dari total perjalanan wisnus secara nasional pada Agustus 2026.

  1. Jawa Barat: Provinsi tujuan utama dengan 18,71 juta kunjungan.
  2. Jawa Timur: Posisi kedua dengan 16,44 juta kunjungan.
  3. Jawa Tengah: Posisi ketiga dengan 13,79 juta kunjungan.

Berdasarkan pertumbuhan tahunan (YoY) daerah tujuan, DI Yogyakarta mencatat kenaikan tertinggi sebesar 29,64 persen pada Agustus 2026 dibandingkan Agustus 2025, diikuti Jawa Tengah (25,80 persen) dan Maluku (21,05 persen). Sementara itu, Papua mencatat kenaikan tertinggi secara bulanan (month-to-month) sebesar 8,91 persen.

Dampak Positif Perkembangan Infrastruktur dan Ekonomi Kerakyatan

Perkembangan infrastruktur transportasi—seperti jalan tol, kereta api modern, hingga rute penerbangan domestik yang kompetitif—menjadikan opsi berlibur jarak dekat dan menengah kian terjangkau serta mudah diakses.

Lonjakan pergerakan turis domestik ini memberikan dampak berganda (multiplier effect) yang kuat bagi perekonomian. Sektor pariwisata langsung menghidupkan kembali sentra kerajinan tangan, produk fesyen lokal, kuliner khas daerah, hingga pasokan produk pertanian segar ke hotel dan restoran.

Melalui sinergi program pemerintah pada pemerataan destinasi—seperti pengembangan desa wisata dan promosi wisata nusantara—serta partisipasi pelaku usaha lokal, sektor pariwisata terbukti efektif menjaga perputaran roda ekonomi kerakyatan secara berkelanjutan.

Baca Juga: Pakar UGM: Downgrading Konsumsi Jadi Alarm Tekanan Daya Beli Kelas Menengah

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*