
SOLO, JOSS.CO.ID – Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta menjadi saksi perhelatan Pameran Seni Rupa Sinergi #4 bertajuk Tenun Imagi yang berlangsung mulai Jumat (2/10/2026) hingga Jumat (9/10/2026). Pameran ini menghadirkan puluhan karya seni rupa memukau hasil kreasi para alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Solo dari berbagai generasi.
Melalui pameran ini, pengunjung diajak menelusuri ragam karya dalam katalog pameran yang merekam tradisi, ingatan personal, hingga dinamika kehidupan modern, sekaligus melihat bagaimana akar budaya Jawa direpresentasikan ulang secara dinamis.
Salah satu bentuk representasi ulang tersebut terlihat pada karya tempaan logam Keris Dhapur Inu buatan Bening Tri Suwasono, yang secara halus memadukan motif Topeng Panji pada bilah keris. Selain karya berbasis tradisi, pameran ini juga menjadi wadah kritik sosial yang bersumber dari keresahan para seniman. Hal ini tampak pada karya lukis berjudul Penjual Moral karya Supriyono Kobis yang hadir sebagai satir atas hilangnya integritas demi keuntungan sesaat.
Keseluruhan pameran dibingkai dalam empat lanskap tematik utama, yaitu Tenun Akar, Tenun Luka & Ingatan, Tenun Kota & Politik, serta Tenun Masa Depan.
Kurator pameran Tenun Imagi, Gigih Wiyono, menjelaskan bahwa pameran ini berhasil mempertemukan kembali 50 seniman alumni ISI Solo lintas angkatan sejak 1988. Menurutnya, pemilihan kata “tenun” memiliki makna mendalam, yakni merajut, menganyam, dan menyatukan kembali benang-benang yang sempat terpisah.
“Misalnya tradisi keris atau wayang beber. Karya yang lahir sekarang menampilkan tampilan baru yang lebih dinamis. Tradisi itu menjadi pijakan, namun gagasan-gagasannya bisa tumbuh menyesuaikan kondisi saat ini,” paparnya.
Selain menjalankan peran sebagai kurator, Gigih turut memamerkan karyanya sendiri yang diberi judul Benang Merah Luka Bangsa. Lukisan ini menampilkan figur dua perempuan yang memegang simbol wayang kesuburan, Dewi Sri dan Raden Sadana, yang berhadapan langsung dengan sosok manusia dengan sekujur tubuh terbalut perban luka.
Gigih menjelaskan bahwa karya tersebut merupakan sebuah kritik terhadap ironi ketahanan pangan serta beban pajak yang harus ditanggung oleh rakyat.
“Lukisan saya berbicara tentang luka bangsa, tentang ketahanan pangan yang diklaim baik, tapi realitas di lapangan banyak yang kekurangan. Makanya saya bentuk orang yang seluruhnya diperban karena luka,” tegasnya.
Menatap ke depan, Gigih berharap pameran Tenun Imagi tidak hanya berfungsi sebagai ruang apresiasi seni bagi masyarakat luas, tetapi juga menjadi sarana katarsis bagi para seniman yang terlibat.
“Pameran ini menjadi muara apresiasi dan semacam oase bagi teman-teman untuk saling memacu kreativitasnya, sehingga tahun depan akan lahir karya-karya yang lebih baik lagi,” katanya.
Baca Juga: Benning x Padelions 2026, Perkuat Solo Wellness Tourism

Leave a Reply