Penyebab Kebakaran TPA Putri Cempo Solo dan Solusi Pemadamannya Menurut Pakar UNS

SOLO, JOSS.CO.ID – Kebakaran yang melanda TPA Putri Cempo, Mojosongo, Kecamatan Jebres, Surakarta, telah berlangsung selama sepekan terakhir. Menanggapi musibah tersebut, Guru Besar Bidang Pencemaran atau Lingkungan Hidup Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prabang Setyono, memberikan analisis saintifik mengenai fenomena kebakaran sampah ini.

Menurut Prabang, kondisi cuaca saat ini berada di puncak musim kemarau yang memicu terbentuknya elemen penyebab kebakaran atau segitiga api. Fenomena ini melibatkan tingginya suhu udara akibat El Nino, ketersediaan oksigen dari hembusan angin, serta ketersediaan gas metana dari tumpukan sampah.

“Secara saintifik data BMKG memperkirakan puncak El Nino kemarau panjang kan September sehingga segitiga apinya yaitu adanya panas dampak El Nino, oksigen dari angin dan bahan bakar gas metana CH4 dari tumpukan sampah saat bertemu bersamaan maka kebakaran api akan terjadi dengan sendirinya,” tutur dia kepada Espos, Rabu (9/9/2026).

Faktor Geografis dan Pemicu Tambahan

Selain faktor cuaca, kontur tanah dan bentuk lahan TPA Putri Cempo yang menyerupai cekungan turut memperburuk situasi. Bentuk cekungan ini memicu fenomena perangkap panas (heat trap).

“Harapan pemutus segitiga apinya hanya sumber panas dari kemarau El Nino-nya berakhir sekitar akhir tahun. Tumpukan sampah TPA Putri Cempo yang terletak di daerah cekungan secara bentang lahan maka panas yang ada akan terjebak di dalam cekungan tersebut atau diistilahkan sebagai heat trap,” urai dia.

Kondisi bentang alam yang memicu heat trap menjadikan TPA Putri Cempo sangat rentan terbakar, terlebih dengan adanya jenis sampah tertentu yang responsif terhadap panas.

“Heat trap membuat rawan terjadinya kebakaran tumpukan sampah di TPA itu sendiri. Hal lain yang dapat sebagai trigger atau pemicu munculnya api jenis sampah campuran yang berupa sisa bahan sampah yang bersifat flammable atau mudah terbakar, misalnya sisa korek api atau korek gas, bahan kimia yang mudah terbakar dan lain-lain,” terang dia.

Metode Sedimen Sungai untuk Pemadaman

Guna menanggulangi titik api tanpa perlu menunggu berakhirnya musim kemarau di penghujung tahun, Prabang menawarkan skema penanganan dengan memutus suplai gas metana ($CH_4$) langsung pada sumbernya.

“Strategi efektif dalam memutus rantai segitiga api tersebut di luar menunggu dampak El Nino atau kemarau panjang, adalah memutus siklus bahan bakunya gas metana CH4 dengan menutup celah-celah di agregat tumpukan sampahnya dengan material sedimen air sungai untuk memadamkan api di tumpukan sampah tersebut. Gas metan CH4 itu munculnya dari celah-celah agregat tumpukan sampah tersebut yang akan release ke atmosfer,” urai dia.

Pemanfaatan sedimen lumpur sungai ini dinilai memiliki manfaat ganda (double benefit). Pengerukan dasar sungai berfungsi untuk normalisasi saluran air guna memperbesar kapasitas tampung sungai saat musim hujan. Di sisi lain, kandungan air dalam sedimen akan memadamkan kobaran api di permukaan, sementara partikel padatnya efektif menyumbat celah retakan tumpukan sampah agar gas metana tidak terus menguap ke udara.

Baca Juga: Karhutla Dekat IKN dan Bukit Soeharto Padam, Tim Gabungan Siaga Patroli

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*