
CILACAP, JOSS.CO.ID — Rantai pasok bahan baku untuk bahan bakar pesawat udara ramah lingkungan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) kini mulai mengarah pada sektor kemasyarakatan dan pelayanan gizi. Pertamina melalui Kilang Unit IV Cilacap tengah menjajaki pengumpulan used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah yang dihasilkan dari program makan bergizi gratis (MBG) serta Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Langkah integrasi pasokan ini ditegaskan oleh Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap, Hermawan Budiantoro. Ia menceritakan bahwa potensi limbah minyak goreng dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan KDMP bakal dihimpun untuk diolah menjadi avtur ramah lingkungan.
“UCO (used cooking oil/minyak jelantah) nanti dikumpulkan dari SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi), KDMP,” kata Hermawan di sela temu media nasional di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis.
Skema kerja sama yang diterapkan untuk mengamankan stok dari SPPG dan koperasi desa tersebut mengusung pola business to business (BtoB). Hermawan memproyeksikan bahwa nilai atau harga pembelian UCO melalui skema BtoB ini diperkirakan lebih tinggi dibandingkan dengan skema business to consumer(BtoC).
Diversifikasi Sumber Pasokan: Dari Horeka hingga Rumah Tangga
Strategi Pertamina dalam menjamin ketersediaan bahan baku SAF tidak semata-mata bergantung pada limbah dapur program MBG dan KDMP. Pemenuhan pasokan UCO dibentuk secara inklusif dengan menjangkau berbagai ekosistem.
Pada jalur BtoB, Pertamina menyasar komoditas limbah dari sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka), serta menggandeng asosiasi pemasok seperti Gabungan Pengusaha/Pelaku Usaha Limbah Minyak Goreng Indonesia (Gapulimgi). Asosiasi Gapulimgi sendiri mencatatkan potensi volume pasokan yang sangat signifikan, yakni berkisar antara 240 hingga 300 ribu ton UCO per tahun.
Sementara itu, untuk memperluas jangkauan ke tingkat tapak, skema BtoC diterapkan dengan menyasar langsung masyarakat umum, komunitas, dan skala rumah tangga. Lewat skema BtoC ini, masyarakat dapat menyetorkan minyak jelantah mereka dengan harga pembelian mencapai Rp6.000 per liter.
Kesiapan Teknis dan Rekam Jejak Penerbangan SAF Indonesia
Pengumpulan limbah minyak goreng dari berbagai lini tersebut menjadi fondasi utama bagi komitmen Indonesia dalam menghadirkan bahan bakar avtur yang lebih hijau. Pengembangan SAF nasional sendiri telah melewati berbagai fase pengujian ketat sebelum diproduksi secara massal.
Tahap produksi perdana SAF di dalam negeri telah sukses dilaksanakan pada rentang Juli-Agustus 2025. Sebelumnya, keandalan bahan bakar ini telah diuji coba pada penerbangan komersial armada Garuda Indonesia Boeing 737-800 sejak September 2023. Dalam uji terbang tersebut, komposisi avtur dikombinasikan dengan 2,4 persen minyak inti sawit olahan atau refined, bleached, and deodorized kernel oil (RBDPKO).
Ke depannya, formula campuran SAF ditargetkan terus meningkat hingga mencapai 3 persen. Pengembangan SAF Indonesia juga telah mengantongi pengakuan global melalui sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC).
Saat ini, komersialisasi SAF tidak hanya dimanfaatkan oleh maskapai nasional seperti Garuda Indonesia dan Pelita Air, tetapi juga telah diserap oleh sejumlah maskapai internasional yang beroperasi di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta dan Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali.
Baca Juga: 70 Siswa di Bantul Diduga Keracunan MBG, SPPG Patalan 2 Diberhentikan

Leave a Reply