
PERJALANAN panjang kehidupan di Bumi ternyata masih memiliki “sisa waktu” yang cukup lama, meski tidak abadi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa makhluk hidup, khususnya tumbuhan, kemungkinan masih bisa bertahan hingga sekitar 1,8 miliar tahun ke depan sebelum kondisi planet ini benar-benar tidak lagi layak huni.
Selama ini, banyak orang mengira kehancuran Bumi baru akan terjadi saat Matahari memasuki fase raksasa merah sekitar 5 miliar tahun mendatang. Pada fase tersebut, bintang pusat tata surya diperkirakan akan membesar dan berpotensi menelan Bumi. Namun, para ilmuwan menegaskan bahwa kehidupan akan punah jauh sebelum peristiwa ekstrem itu terjadi.
Seiring bertambahnya usia, Matahari terus mengalami peningkatan kecerahan. Saat ini saja, energinya sudah sekitar sepertiga lebih besar dibandingkan saat tata surya terbentuk. Dalam jangka panjang, peningkatan ini akan berdampak langsung pada suhu dan keseimbangan atmosfer Bumi.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal JGR Atmospheres menjelaskan bahwa peningkatan radiasi Matahari akan mengganggu siklus karbon di planet ini. Para peneliti menulis, “The ultimate life span of Earth’s biosphere is limited due to the steady brightening of the sun as it progresses in age,”. Mereka menambahkan, “Earth’s long-term carbon cycle may respond by drawing carbon dioxide out of the atmosphere and into carbonate rocks, thereby reducing the greenhouse effect and offsetting the increased sunlight.”
Penurunan kadar karbon dioksida menjadi faktor krusial. Gas ini sangat dibutuhkan tumbuhan untuk melakukan fotosintesis. Tanpa cukup CO2, tanaman—yang menjadi dasar rantai makanan—tidak akan mampu bertahan, dan dampaknya akan merembet ke seluruh ekosistem.
Studi-studi sebelumnya sempat memperkirakan kehidupan tumbuhan akan berakhir dalam waktu sekitar 100 juta tahun. Namun, seiring perkembangan pemahaman tentang variasi fotosintesis, estimasi tersebut direvisi hingga 1,5 miliar tahun. Penelitian terbaru bahkan memperluas kemungkinan tersebut hingga lebih dari 1,8 miliar tahun.
Perbedaan ini berkaitan dengan jenis fotosintesis yang dimiliki tumbuhan. Sekitar 95 persen tanaman menggunakan fotosintesis C3 yang membutuhkan sekitar 150 bagian per juta CO2. Sementara itu, tanaman dengan fotosintesis C4—seperti jagung dan rumput—hanya membutuhkan sekitar 15 bagian per juta. Ada pula jenis CAM seperti kaktus dan anggrek yang mampu bertahan dengan kadar CO2 sangat rendah, bahkan hanya sekitar 1 bagian per juta.
Untuk memperkirakan masa depan biosfer, para ilmuwan membangun 29 model iklim yang mensimulasikan berbagai skenario. Dua kondisi ekstrem diuji, yakni saat CO2 tetap tinggi namun suhu meningkat drastis, serta kondisi sebaliknya ketika CO2 sangat rendah tetapi suhu relatif stabil.
Hasilnya menunjukkan variasi umur bertahan tumbuhan. Dalam skenario tertentu, tanaman dengan fotosintesis CAM bisa bertahan hingga sekitar 1,87 miliar tahun. Sementara dalam kondisi lain, kehidupan tumbuhan berakhir sekitar 1,35 miliar tahun. Meski demikian, jika menggunakan ambang kemampuan tanaman CAM, angka ketahanan bisa mencapai sekitar 1,84 miliar tahun.
Menariknya, periode kepunahan tumbuhan ini diperkirakan terjadi bersamaan dengan hilangnya lautan Bumi. Peningkatan panas Matahari akan membuat air menguap dan perlahan lepas ke luar angkasa, mempercepat berakhirnya kehidupan.
Namun, para ilmuwan juga mengakui adanya keterbatasan dalam penelitian ini. Model yang digunakan masih berdasarkan kondisi fotosintesis saat ini, belum mempertimbangkan kemungkinan evolusi organisme di masa depan. Mereka menegaskan, “Life on Earth is resilient, and limits posed by thermal stress or starvation may only reflect our observations of the biosphere today rather than hard limits on how the biosphere may evolve,”.
Sejarah panjang Bumi, kehidupan memang telah menunjukkan kemampuan adaptasi luar biasa selama miliaran tahun, termasuk melewati berbagai peristiwa kepunahan massal. Hal ini membuka kemungkinan bahwa bentuk kehidupan tertentu mungkin tetap bertahan lebih lama dari perkiraan saat ini.
Meski demikian, studi ini memberikan gambaran penting bahwa keberlangsungan hidup di Bumi sangat bergantung pada keseimbangan antara energi Matahari dan komposisi atmosfer. Ketika keseimbangan itu terganggu secara permanen, maka berakhir pula era kehidupan seperti yang kita kenal sekarang.
Baca Juga: Nasib Bumi Saat Matahari Mati, Bisa Selamat?

Leave a Reply