
PEKALONGAN, JOSS.CO.ID – Dinas Kesehatan Kota Pekalongan mulai memperluas langkah penanganan tuberkulosis dengan menyasar warga yang punya riwayat kontak erat dengan pasien TBC. Program skrining aktif ini menjadi bagian dari upaya menemukan kasus lebih cepat, sebelum penularan penyakit berkembang lebih jauh di lingkungan sekitar pasien.
Langkah tersebut digelar di tengah masih adanya 140 pasien TBC yang sedang menjalani pengobatan di kota itu. Dari jumlah itu, petugas kesehatan menargetkan sekitar 1.350 orang untuk diperiksa melalui penelusuran langsung ke keluarga dan warga sekitar pasien.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Puji Winarti, mengatakan penemuan kasus TBC selama ini cenderung berjalan pasif. Artinya, masyarakat yang merasa sakit datang sendiri ke fasilitas kesehatan untuk memeriksakan diri.
Kini, pola itu diubah. Petugas puskesmas bersama kader kesehatan akan turun ke lapangan dan mendatangi lingkungan tempat tinggal pasien yang sudah terdiagnosis TBC. Pendekatan ini diharapkan mampu menemukan warga yang belum sadar bahwa dirinya berisiko terpapar.
Puji menjelaskan bahwa program Active Case Finding atau ACF itu telah diluncurkan pada Juli 2026 dan akan berlangsung hingga September 2026. Dalam pelaksanaannya, Dinkes juga menggandeng kader dari Mentari Sehat Indonesia untuk membantu proses penelusuran di lapangan.
Menurut dia, percepatan deteksi dini menjadi sangat penting karena TBC dapat menular jika tidak segera ditangani. Masyarakat juga diminta mewaspadai sejumlah gejala awal, terutama batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, demam pada malam hari, serta nafsu makan yang menurun.
Selain faktor kontak dengan pasien, kondisi lingkungan ikut memengaruhi risiko penularan. Sanitasi yang buruk dan kedekatan dengan penderita yang belum menuntaskan pengobatan bisa memperbesar peluang penyebaran penyakit.
Puji juga menegaskan pentingnya kepatuhan pasien dalam menjalani terapi. Pengobatan TBC tidak boleh berhenti di tengah jalan karena membutuhkan waktu panjang, umumnya minimal enam bulan. Pada kondisi tertentu, masa terapi bisa diperpanjang sampai satu tahun, bahkan dua tahun, tergantung tingkat keparahan penyakit dan kondisi pasien.
Dalam keterangannya, Puji Winarti menyampaikan, “Saat ini terdapat 140 pasien TBC yang sedang menjalani pengobatan. Dari kasus tersebut kami akan melakukan penelusuran kepada keluarga maupun masyarakat di sekitarnya dengan target sekitar 1.350 orang dapat menjalani skrining,” kata Puji Winarti, Kamis (23/7/2026).
Ia juga menegaskan bahwa TBC tidak memilih umur. Penyakit ini bisa menyerang bayi, anak-anak, orang dewasa, hingga lanjut usia, sehingga siapa pun yang mengalami gejala atau memiliki riwayat kontak erat dianjurkan segera menjalani pemeriksaan.
Kota Pekalongan sendiri masih menghadapi tantangan pengendalian TBC dari waktu ke waktu. Data yang pernah dipublikasikan menunjukkan kasus TBC di wilayah ini terus menjadi perhatian, sehingga strategi jemput bola seperti ACF dipandang penting untuk menutup celah kasus yang belum terdeteksi.
Melalui skrining aktif ini, Dinkes berharap rantai penularan bisa diputus lebih awal. Pemeriksaan yang lebih dekat ke warga dinilai menjadi cara paling efektif untuk menjangkau kelompok yang selama ini tidak datang ke layanan kesehatan meski berisiko tinggi tertular.

Leave a Reply