Pilot Malaysia Airlines Ditangkap, Selundupkan Ekstasi

Ilustrasi, Pilot Malaysia Airlines ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta karena menyelundupkan puluhan kilogram ekstasi jaringan internasional.
Ilustrasi

JOSS.CO.ID – Upaya penyelundupan narkotika lintas negara kembali terungkap di Indonesia. Kali ini, aparat Bea Cukai bersama Bareskrim Polri mengamankan seorang pilot maskapai Malaysia Airlines yang diduga membawa puluhan kilogram pil ekstasi melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.

Kasus ini menjadi sorotan karena melibatkan awak pesawat, profesi yang selama ini identik dengan standar keamanan tinggi. Penangkapan tersebut terjadi setelah petugas mencurigai koper milik pilot berkewarganegaraan Malaysia yang baru mendarat dari Kuala Lumpur menggunakan penerbangan MH 727.

Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai Soekarno-Hatta, Hengky Tomuan Parlindungan Aritonga, mengungkapkan bahwa kasus ini tergolong tidak biasa. Ia menyebut jaringan narkotika internasional diduga telah menyusup hingga ke sektor penerbangan.

“Jadi, ini ada pilot dari maskapai penerbangan asing, menerbangkan pesawat dari Kuala Lumpur ke Soekarno-Hatta, MH 727, landing di Soekarno-Hatta, kemudian pada saat kami lakukan pemeriksaan terhadap bagasi koper yang bersangkutan, ditemukan kecurigaan,” ujar Hengky dalam konferensi pers di Kantor Bea Cukai Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat (31/7/2026).

Dari hasil pemeriksaan awal, petugas menemukan 14 paket berisi pil ekstasi di dalam koper tersebut. Setelah dilakukan pendalaman, total barang bukti yang diamankan mencapai 70.114 butir dengan berat bruto sekitar 26 kilogram dan netto lebih dari 25 kilogram.

Nilai ekonomi dari barang haram tersebut diperkirakan sangat besar. Dalam pengakuannya, pelaku disebut menerima bayaran sebesar 50 ribu ringgit atau sekitar Rp 220 juta untuk menjalankan aksi penyelundupan tersebut.

Modus yang digunakan juga terbilang cerdik. Pelaku memanfaatkan jalur khusus bagi awak pesawat atau crew yang selama ini mendapatkan perlakuan berbeda dibandingkan penumpang umum. Sistem ini memungkinkan proses check-in dan penanganan bagasi dilakukan melalui jalur tersendiri.

“Jadi di claim tag-nya itu tersendiri, ada claim tag crew. Jadi pada saat dia check-in di Kuala Lumpur, berarti jalurnya berbeda dengan check-in penumpang karena di claim tag-nya disebutkan crew di situ,” beber Hengky.

Penggunaan jalur khusus ini diduga dimanfaatkan sindikat untuk menghindari pemeriksaan ketat. Dengan status sebagai pilot, pelaku dianggap memiliki akses yang lebih longgar, sehingga penyelundupan dinilai lebih aman dibandingkan menggunakan kurir biasa.

Sementara itu, pihak Malaysia Airlines memberikan tanggapan resmi terkait kasus yang menjerat salah satu pilotnya. Maskapai nasional Malaysia tersebut menyatakan akan bersikap kooperatif terhadap proses hukum yang berjalan di Indonesia.

“Malaysia Airlines ingin menegaskan kembali bahwa pihaknya tidak mentolerir segala bentuk pelanggaran dan saat ini sedang melakukan peninjauan internal atas masalah tersebut,” katanya, dilansir Free Malaysia Today, Jumat (31/7/2026).

Maskapai juga menegaskan bahwa mereka tidak akan memberikan komentar lebih jauh karena kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan oleh otoritas Indonesia. Namun demikian, aspek keselamatan, keamanan, dan integritas operasional tetap menjadi prioritas utama perusahaan.

Kasus ini menambah daftar panjang upaya penyelundupan narkotika melalui jalur udara di Indonesia. Bandara internasional kerap menjadi target karena tingginya mobilitas penumpang dan barang lintas negara. Namun, keterlibatan awak pesawat menunjukkan adanya pola baru yang perlu diwaspadai oleh aparat.

Baca Juga: Pangeran Arab Saudi Tewas di Hotel London Usai Pesta Narkoba

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*