Periodontitis Parah Terkait Penurunan Fungsi Ginjal

Ilustrasi, Studi terbaru mengungkap periodontitis parah berkaitan dengan penurunan fungsi ginjal sejak tahap awal penyakit.

MASALAH kesehatan mulut ternyata tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan lokal semata. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan, kondisi gusi yang buruk dapat berdampak pada organ vital lain, termasuk ginjal.

Sebuah studi berskala besar di Jerman menemukan keterkaitan antara periodontitis atau penyakit gusi kronis dengan penurunan fungsi ginjal. Hubungan ini bahkan terdeteksi sejak tahap awal penyakit ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD), sehingga membuka perspektif baru mengenai pentingnya menjaga kesehatan mulut.

Periodontitis dikenal sebagai infeksi serius pada jaringan penyangga gigi. Gejalanya meliputi gusi mudah berdarah, peradangan berkepanjangan, hingga kerusakan jaringan yang dapat menyebabkan gigi tanggal. Namun, dampaknya ternyata tidak berhenti di rongga mulut.

Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti telah mengaitkan peradangan kronis akibat periodontitis dengan berbagai penyakit sistemik, seperti gangguan kardiovaskular dan diabetes. Hal ini memicu penelitian lebih lanjut untuk memahami apakah kondisi serupa juga berpengaruh terhadap kesehatan ginjal, terutama pada fase awal gangguan.

Penelitian tersebut dilakukan oleh tim dari University Medical Center Hamburg-Eppendorf yang dipimpin Dr Christian Schmidt-Lauber dan Prof Dr Ghazal Aarabi. Studi ini melibatkan 6.179 peserta yang tergabung dalam Hamburg City Health Study.

“Kami bertujuan mengevaluasi hubungan antara periodontitis dan penanda awal gangguan fungsi ginjal, termasuk penurunan fungsi ginjal serta albuminuria, sekaligus mengeksplorasi peran mediasi potensial dari penanda inflamasi sistemik,” kata Dr Schmidt-Lauber, dikutip dari Medical Net.

Para peserta menjalani pemeriksaan kondisi gusi secara menyeluruh. Tingkat keparahan penyakit periodontal kemudian diklasifikasikan menggunakan standar American Academy of Periodontology/European Federation of Periodontology (AAP/EFP) 2017.

Di sisi lain, fungsi ginjal diukur melalui dua indikator utama, yakni estimated glomerular filtration rate (eGFR) dan rasio albumin terhadap kreatinin dalam urine (uACR). Selain itu, peneliti juga memeriksa kadar penanda inflamasi dalam darah seperti hsCRP dan IL-6 untuk melihat peran peradangan sistemik.

Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten. Semakin parah kondisi periodontitis, semakin besar pula penurunan fungsi ginjal yang terdeteksi. Data menunjukkan prevalensi periodontitis berat meningkat dari 14 persen pada individu dengan fungsi ginjal normal menjadi 36 persen pada mereka yang mengalami gangguan fungsi ginjal tingkat sedang.

Temuan serupa juga terlihat pada indikator albuminuria. Kadar albumin yang lebih tinggi dalam urine, yang menjadi salah satu tanda awal kerusakan ginjal, cenderung diikuti oleh kondisi periodontal yang lebih buruk.

Tak hanya itu, kerusakan jaringan gigi yang bersifat kumulatif, seperti kehilangan perlekatan jaringan (clinical attachment loss) dan jumlah gigi yang hilang, juga meningkat seiring menurunnya fungsi ginjal. Hal ini memperkuat dugaan bahwa proses peradangan kronis memiliki peran penting dalam menghubungkan kedua kondisi tersebut.

Sebagai konteks, penyakit ginjal kronis merupakan masalah kesehatan global yang sering tidak terdeteksi pada tahap awal karena gejalanya yang minim. Di Indonesia sendiri, CKD menjadi salah satu penyakit tidak menular yang terus meningkat, terutama akibat faktor risiko seperti hipertensi dan diabetes. Temuan baru ini menambah daftar faktor yang perlu diwaspadai, termasuk kesehatan mulut.

Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Oral Science Volume 18 pada 6 April 2026 ini memberikan sinyal bahwa pemeriksaan gigi dan gusi tidak hanya penting untuk menjaga senyum tetap sehat, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari deteksi dini gangguan organ lain.

Ke depan, para ahli menilai perlunya pendekatan kesehatan yang lebih terintegrasi antara perawatan gigi dan pemeriksaan medis umum. Dengan demikian, risiko komplikasi akibat penyakit kronis dapat ditekan sejak tahap awal melalui langkah pencegahan yang lebih komprehensif.

Baca Juga: Kasus Penyakit Autoimun Meningkat, Wanita Paling Rentan

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*