Waspada Bediding Jogja, Risiko Kesehatan Mengintai

Ilustrasi, Fenomena bediding Jogja saat kemarau picu suhu ekstrem dan risiko kesehatan, BPBD tingkatkan kesiapsiagaan.
Ilustrasi suhu dingin

JOGJA, JOSS.CO.ID – Perubahan cuaca ekstrem mulai dirasakan warga Kota Yogyakarta memasuki puncak musim kemarau 2026. Suhu yang dingin pada malam hingga pagi hari tiba-tiba berganti panas menyengat saat siang menjadi ciri khas fenomena yang dikenal sebagai bediding.

Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kenyamanan, tetapi juga membawa dampak serius bagi kesehatan dan potensi kebencanaan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja pun meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi situasi tersebut, sekaligus mengingatkan masyarakat agar lebih waspada.

Fenomena bediding sendiri merupakan kejadian alam yang lazim terjadi di musim kemarau, terutama ketika tutupan awan berkurang drastis. Analis Kebijakan Ahli Muda BPBD Kota Jogja, Iswari Mahendrarko, menjelaskan bahwa kondisi ini membuat panas matahari langsung mencapai permukaan bumi pada siang hari, sementara pada malam hari panas tersebut cepat hilang ke atmosfer.

“Akibatnya masyarakat merasakan perbedaan suhu yang cukup ekstrem. Pada malam hingga pagi hari udara terasa dingin dengan suhu berkisar 19 hingga 21 derajat Celsius, sedangkan pada siang hari suhu dapat mencapai 31 hingga 32 derajat Celsius,” ujarnya, Minggu (12/7/2026).

Ia menambahkan, fenomena ini juga diperkuat oleh angin Monsun Australia yang membawa udara kering dan relatif dingin ke wilayah selatan Indonesia, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta. Kombinasi faktor ini menyebabkan udara terasa lebih kering sekaligus meningkatkan amplitudo suhu harian.

Dampak dari kondisi tersebut mulai dirasakan di berbagai aspek, terutama kesehatan masyarakat. Udara kering dan berdebu meningkatkan risiko gangguan pernapasan, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk, hingga iritasi. Selain itu, daya tahan tubuh juga cenderung menurun jika masyarakat tidak menjaga kondisi fisik dengan baik.

Di sisi lain, suhu tinggi pada siang hari memicu ancaman dehidrasi dan heat stroke. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan menjadi pihak yang paling berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat perubahan suhu ekstrem ini.

Mengantisipasi dampak yang lebih luas, BPBD Kota Jogja mengaktifkan langkah siaga dengan mengoptimalkan peran Pos BPBD Tegal Turi serta Tim Reaksi Cepat (TRC). Kedua unsur ini disiagakan selama 24 jam untuk memantau kondisi lapangan dan mempercepat respons jika terjadi keadaan darurat.

“BPBD telah meningkatkan kesiapsiagaan melalui Pos BPBD Tegal Turi dan Tim Reaksi Cepat yang bersiaga selama 24 jam untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan sekaligus mempercepat penanganan apabila terjadi keadaan darurat,” katanya.

Selain persoalan kesehatan, musim kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran. Vegetasi yang mengering, suhu udara tinggi, dan angin kencang menjadi kombinasi yang dapat mempercepat penyebaran api, terutama di lahan terbuka maupun kawasan permukiman padat.

Untuk itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati dalam aktivitas sehari-hari. BPBD mengingatkan agar tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di area kering, serta memastikan instalasi listrik rumah dalam kondisi aman.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di lahan kering, serta memastikan instalasi listrik di rumah dalam kondisi aman untuk mencegah terjadinya kebakaran,” katanya.

Sebagai langkah preventif, warga juga dianjurkan menjaga kesehatan selama fenomena bediding berlangsung. Penggunaan pakaian hangat pada malam hari, konsumsi air putih yang cukup, serta asupan makanan bergizi menjadi hal penting untuk menjaga daya tahan tubuh.

Selain itu, penggunaan masker saat berada di lingkungan berdebu dan pembatasan aktivitas luar ruangan pada siang hari juga disarankan, terutama ketika suhu sedang tinggi.

BPBD Kota Jogja juga terus memperkuat upaya mitigasi melalui sosialisasi di tingkat kemantren serta pengembangan Program Kampung Tangguh Bencana. Kolaborasi lintas instansi dilakukan agar penanganan potensi bencana selama musim kemarau dapat berjalan lebih cepat dan terkoordinasi.

Sebagai informasi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memperkirakan musim hujan tahun ini berpotensi datang lebih lambat akibat pengaruh El Nino. Kondisi tersebut membuat durasi musim kemarau menjadi lebih panjang, sehingga risiko yang ditimbulkan, termasuk bediding dan kebakaran, juga meningkat.

Kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama untuk meminimalkan dampak. Adaptasi terhadap perubahan cuaca ekstrem dinilai penting agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan tanpa mengorbankan kesehatan maupun keselamatan.

Baca Juga: Gemarikan Bantul Capai 87 Persen, Sasar Pelajar

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*