Saham BBCA Anjlok ke Rp 4.800, Sentimen Pasar Jadi Pemicu

Ilustrasi, Saham BBCA anjlok ke Rp 4.800 akibat tekanan sentimen pasar dan arus modal. Analis sebut level ini mulai menarik untuk investasi jangka panjang.
Foto: Shutterstock

Saham BBCA anjlok ke Rp 4.800 akibat tekanan sentimen pasar dan arus modal. Analis sebut level ini mulai menarik untuk investasi jangka panjang.

JOSS.CO.ID – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Senin (8/6/2026). Saham bank swasta terbesar di Indonesia ini sempat dibuka di level Rp 5.075 sebelum akhirnya turun ke kisaran Rp 4.800.

Mengutip data RTI, saham BBCA berada di level Rp 4.870 per saham menjelang penutupan perdagangan. Secara keseluruhan, saham ini turun 205 poin atau sekitar 4,04 persen.

Aktivitas Perdagangan Tetap Tinggi

Meski harga terkoreksi cukup dalam, aktivitas perdagangan saham BBCA terpantau sangat tinggi. Volume transaksi mencapai 612,4 juta saham dengan nilai transaksi sekitar Rp 3 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 106.567 kali.

Tingginya volume ini menunjukkan bahwa BBCA masih menjadi salah satu saham paling aktif diperdagangkan oleh investor, baik institusi maupun ritel.

Tekanan Jual Masih Mendominasi

Data antrean bid dan offer menunjukkan tekanan jual masih cukup kuat. Pada penutupan perdagangan, antrean beli (bid) di harga Rp 4.870 tercatat sebanyak 8.047 lot, sedangkan antrean jual (offer) di harga Rp 4.880 mencapai 35.190 lot.

Perbedaan signifikan ini mengindikasikan banyak pelaku pasar yang masih memilih melepas sahamnya, sehingga sentimen pasar terhadap sektor perbankan cenderung negatif dalam jangka pendek.

Sentimen Pasar Jadi Faktor Utama

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama menilai penurunan saham BBCA bukan disebabkan oleh fundamental perusahaan.

“Saham BBCA di Rp 4.800 bukan karena fundamental rusak, tapi masih dipengaruhi market sentiment juga tekanan capital flow,” ujar Elandry.

Menurutnya, kinerja bisnis BCA tetap kuat, sehingga pelemahan harga justru membuat valuasi saham menjadi lebih menarik.

Peluang Akumulasi Jangka Panjang

Elandry menyebut level harga saat ini sudah mulai masuk area akumulasi untuk investor jangka panjang.

“Untuk horizon jangka panjang, level ini sudah mulai masuk area akumulasi bertahap. Namun di jangka pendek, pergerakan masih berpotensi sideways – volatile selama foreign flow belum kembali stabil,” tuturnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dalam jangka pendek, pergerakan saham BBCA masih berpotensi fluktuatif akibat belum stabilnya arus dana asing.

Bank Besar Lain Juga Melemah

Penurunan BBCA terjadi bersamaan dengan pelemahan saham bank besar lainnya. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 4,74 persen ke level 2.610, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melemah 5,30 persen ke level 3.040, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi 3,12 persen ke posisi 3.720.

Baca Juga: Rupiah Melemah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*