Kasus dokter Icha berlanjut, Bupati TTU membekukan izin operasional RSU Leona hingga persoalan selesai dan investigasi tuntas.
JOSS.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, resmi menghentikan sementara proses perpanjangan izin operasional RSU Leona Kefamenanu. Kebijakan ini diambil sebagai respons atas kasus dokter Icha yang hingga kini belum menemukan kejelasan.
Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo, menjelaskan bahwa pembekuan izin RSU Leona dilakukan sampai seluruh persoalan terkait meninggalnya dr Icha benar-benar selesai. Keputusan ini juga dipicu oleh belum adanya laporan resmi dari pihak rumah sakit kepada pemerintah daerah.
Menurut Yosep, Pemkab TTU justru harus mencari informasi sendiri terkait kejadian tersebut. Hal ini dinilai sebagai bentuk kurangnya tanggung jawab dari manajemen rumah sakit.
“Kami yang kemudian mencari sendiri informasi kejadian ini. Hal ini tidak boleh terjadi. Sehingga kami berpikir bahwa kamu (pihak RS Leona) jangan hanya ingin menggunakan tenaga nakes saja, tetapi berikan tanggung jawab sedikit,” ujar Yosep, Minggu (28/6/2026).
Ia menegaskan bahwa rumah sakit tidak hanya bertugas menyediakan tempat kerja bagi tenaga kesehatan, tetapi juga wajib memberikan perlindungan saat tenaga medis menghadapi tekanan atau masalah serius.
“Ini yang kami sesalkan. Jadi, jangan hanya mau menerima dokter yang berpraktik di sana, tetapi juga harus bertanggung jawab memberikan perlindungan ketika hal seperti ini terjadi,” katanya.
Dugaan Intimidasi dalam Kasus Dokter Icha
Kasus dokter Icha menjadi sorotan publik setelah muncul dugaan adanya intimidasi saat ia bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU Leona. Saat itu, dr Icha menangani pasien anak korban gigitan ular.
Paman almarhumah, Victor Manbait, menyebut bahwa seluruh tindakan medis yang dilakukan sudah sesuai standar operasional prosedur (SOP) serta arahan dokter spesialis. Namun situasi memanas ketika keluarga pasien meminta pemberian vaksin tertentu yang belum direkomendasikan secara medis dan tidak tersedia di rumah sakit.
Victor mengungkapkan bahwa dua pria yang mengaku sebagai anggota DPRD TTU datang ke ruang pelayanan dan mempertanyakan tindakan medis dengan nada tinggi. Salah satunya bahkan disebut menunjuk wajah dr Icha.
Peristiwa tersebut diduga menimbulkan tekanan psikologis yang berat bagi korban.
“Dokter Icha mengaku masih ketakutan dan mengalami tekanan psikologis akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas,” kata Victor.
Klarifikasi Anggota DPRD TTU
Dalam perkembangan kasus dokter Icha, tiga anggota DPRD TTU yang disebut-sebut terlibat yakni Therensius Lazakar, Norbertus Tubani, dan Veronika Lake telah memberikan klarifikasi.
Therensius mengakui sempat berbicara dengan nada tinggi, namun menegaskan bahwa situasi saat itu penuh kepanikan dan bukan bentuk intimidasi. Sementara Norbertus menyatakan bahwa dirinya hanya meminta penjelasan terkait kondisi pasien, lalu menyampaikan terima kasih dan permintaan maaf kepada pihak rumah sakit.
Veronika Lake juga menjelaskan bahwa kehadirannya di RSU Leona tidak direncanakan. Ia hanya ikut dalam rombongan dan sempat melihat perdebatan, sebelum akhirnya ikut menanyakan terkait pelayanan medis.
Pemkab TTU Minta Transparansi
Bupati Yosep berharap manajemen RSU Leona bersikap terbuka dan kooperatif dalam mengungkap fakta sebenarnya. Ia menegaskan bahwa penanganan kasus dokter Icha harus dilakukan secara objektif dan menyeluruh.
Langkah pembekuan izin operasional RSU Leona ini menjadi bentuk tekanan dari pemerintah daerah agar proses investigasi berjalan serius dan transparan, sekaligus memastikan perlindungan bagi tenaga kesehatan di masa depan.

Leave a Reply