Iran Tutup Selat Hormuz Usai Serangan Israel ke Lebanon

Iran kembali menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel ke Lebanon selatan dan dugaan pelanggaran kesepakatan dengan AS.
Selat Hormuz (Foto: REUTERS/Stringer)

Iran kembali menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel ke Lebanon selatan dan dugaan pelanggaran kesepakatan dengan AS.

JOSS.CO.ID – Iran menutup kembali Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan Israel ke Lebanon selatan dan dugaan pelanggaran kesepakatan dengan Amerika Serikat. Serangan udara Israel di dekat kota Sidon dilaporkan menewaskan sedikitnya tujuh orang meski gencatan senjata dengan Hizbullah baru saja diumumkan.

Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah komando militer pusat Iran mengumumkan bahwa mereka kembali menutup Selat Hormuz untuk lalu lintas kapal. Langkah ini disebut sebagai respons langsung terhadap serangan Israel ke wilayah Lebanon selatan, yang dinilai Teheran melanggar kesepakatan yang telah dicapai dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang di kawasan.

Dilansir AFP, Sabtu (20/6/2026), Iran menyatakan bahwa serangan Israel ke Lebanon tersebut merupakan pelanggaran terhadap perjanjian Teheran dengan Amerika Serikat (AS). Otoritas militer Iran menilai tindakan Israel di Lebanon selatan sebagai bukti bahwa komitmen gencatan senjata dan kesepakatan yang melibatkan Washington tidak dihormati sepenuhnya.

“Dengan ini diumumkan bahwa Selat Hormuz akan ditutup untuk lalu lintas kapal. Perlu dicatat bahwa langkah pertama ini adalah tanggapan terhadap pelanggaran janji musuh, dan jika agresi berlanjut, langkah-langkah lebih lanjut akan direncanakan dan diambil untuk memaksa musuh mematuhi kewajibannya,” kata Markas Besar Pusat Khatam-al Anbiya dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menjadi rute utama ekspor minyak dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan ini berpotensi mengguncang pasar energi global. Iran menegaskan bahwa penutupan jalur vital ini merupakan “langkah awal” dan memperingatkan kemungkinan tindakan tambahan jika serangan dan pelanggaran kesepakatan terus berlanjut.

Di saat bersamaan, eskalasi di Lebanon selatan terus memakan korban jiwa. Media resmi Lebanon melaporkan bahwa serangan Israel di sebuah desa dekat kota Sidon di wilayah selatan menewaskan sedikitnya tujuh orang pada hari Sabtu. Serangan ini terjadi hanya satu hari setelah pengumuman gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah, yang sebelumnya dimediasi oleh Amerika Serikat dan Qatar.

Menurut Kantor Berita Nasional (NNA) yang dikelola negara, serangan di Qannarit menewaskan “tujuh orang dan melukai 13 lainnya, menurut perkiraan sementara”. Laporan tersebut menyebutkan bahwa korban mencakup warga sipil yang berada di area pemukiman ketika serangan udara berlangsung.

Gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah yang baru saja diumumkan dinilai rapuh sejak awal, karena beberapa insiden kekerasan masih terjadi di sejumlah titik di Lebanon selatan. Sejumlah pejabat di kawasan memperingatkan bahwa pelanggaran berulang terhadap gencatan senjata berisiko menggagalkan upaya diplomatik yang sedang dibangun untuk meredakan konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

Di tingkat internasional, klaim Iran soal penutupan Selat Hormuz menambah kekhawatiran komunitas global terhadap stabilitas jalur perdagangan energi. Sementara itu, Amerika Serikat disebut membantah bahwa jalur tersebut benar-benar tertutup total, namun mengakui situasi di kawasan sangat tegang dan memerlukan pemantauan ketat.

Dengan kondisi seperti ini, perhatian dunia kini tertuju pada respons lanjutan Israel, Iran, Amerika Serikat, dan aktor regional lain, termasuk Hizbullah dan pemerintah Lebanon. Setiap eskalasi baru, baik di Selat Hormuz maupun di Lebanon selatan, berpotensi menyeret konflik ke level yang lebih luas dan berdampak pada keamanan serta ekonomi global.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Usai AS dan Iran Capai Kesepakatan Damai

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*