
Bank Dunia menyebut dampak perang Iran menjadi pukulan terbesar terhadap ekonomi global sejak Covid-19, menekan pertumbuhan hingga 2,5 persen pada 2026.
JOSS.CO.ID – Perang Iran kini disebut sebagai salah satu guncangan terbesar bagi ekonomi global sejak pandemi Covid-19. Dalam laporan terbaru, Bank Dunia memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat menyeret puluhan negara berkembang ke dalam stagnasi ekonomi.
Bank Dunia menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 diperkirakan hanya mencapai 2,5 persen, turun dari 2,9 persen dalam dua tahun sebelumnya. Angka ini menjadi laju paling lambat sejak awal pandemi pada 2020.
Lonjakan harga energi dan komoditas menjadi pemicu utama perlambatan ini. Penutupan hampir total Selat Hormuz menyebabkan kenaikan tajam harga minyak, gas, pupuk, dan bahan kimia industri. Bank Dunia menyebut kondisi ini sebagai “the biggest supply shock in 50 years,” yang menekan ekonomi negara maju maupun berkembang.
Melansir dari Washingtonpost.com, Deputi Kepala Ekonom Bank Dunia Ayhan Kose mengatakan, “The global economy is not falling off of a cliff, but it has downshifted sharply and many developing economies are entering this shock with thinner buffers and fewer shock absorbers,”.
Proyeksi terbaru ini lebih suram dibandingkan laporan Januari sebelumnya. Bank Dunia memangkas perkiraan pertumbuhan untuk dua pertiga negara di dunia, termasuk Turki, Bangladesh, dan Afrika Selatan.
Negara-negara di sekitar kawasan Teluk diperkirakan terdampak paling parah. Kuwait, Irak, dan Qatar diproyeksikan mengalami pertumbuhan mendekati nol pada 2026. Sementara Uni Emirat Arab hanya tumbuh sekitar 2,4 persen, jauh di bawah ekspektasi sebelum perang.
Laporan Global Economic Prospects juga menyebut dekade 2020-an berpotensi menjadi “lost decade” bagi banyak negara berkembang yang gagal mengejar ketertinggalan ekonomi dari negara maju.
Di sisi lain, Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan ekonomi berkat investasi besar di sektor kecerdasan buatan. Ekonomi AS diperkirakan tumbuh 2,2 persen, lebih baik dibanding Eropa dan Jepang. Sementara China diproyeksikan tumbuh 4,2 persen, turun dari 5 persen tahun sebelumnya.
Kepala Ekonom Bank Dunia Indermit Gill menegaskan, “The world economy is a lot less resilient today,”, mengingat tekanan jangka panjang seperti penuaan populasi, penurunan investasi, dan utang publik yang meningkat.
Bank Dunia memperkirakan harga minyak Brent rata-rata mencapai 94 dolar per barel tahun ini jika konflik mereda pada Juli. Namun jika perang berlanjut, harga bisa naik ke 115 dolar per barel dan menekan pertumbuhan global hingga 2,1 persen.
Dalam skenario terburuk, guncangan energi yang memicu penurunan pasar saham dan obligasi dapat membuat pertumbuhan global hanya mencapai 1,3 persen.
Selain itu, tingginya utang publik menjadi risiko tambahan. Banyak negara memiliki ruang fiskal terbatas untuk merespons krisis, berbeda dengan saat pandemi atau krisis finansial 2008.
Sebagai langkah mitigasi, Bank Dunia menyiapkan pembiayaan minimal 50 miliar dolar untuk mendukung program sosial di negara berkembang. Jika krisis berlanjut, jumlah ini bisa meningkat dua kali lipat dalam 15 bulan.
Presiden Bank Dunia Ajay Banga mengatakan, “Our job is to help countries steady the ship, keep reforms moving, and emerge stronger on the other side,”.

Leave a Reply