Pemkot Jogja Kembangkan Program Bule Mengajar ke 40 Kampung Wisata

Pemkot Yogyakarta akan mengembangkan Program Bule Mengajar ke 40 kampung wisata untuk dorong pariwisata dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati dalam Focus Group Discussion (FGD) Program Bule Mengajar di Kantor Kemantren Kotagede, Rabu (13/5/2026). (Sumber: Pemkot Yogyakarta)

Pemkot Jogja akan mengembangkan Program Bule Mengajar ke 40 kampung wisata untuk dorong pariwisata dan pemberdayaan masyarakat lokal.

JOGJA, JOSS.CO.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta berencana mengembangkan Program Bule Mengajar dan mereplikasikannya ke 40 kampung wisata di wilayah tersebut. Program ini menjadi salah satu strategi untuk mendorong pariwisata berkelanjutan sekaligus meningkatkan pemberdayaan masyarakat.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai bentuk kolaborasi antara wisatawan dan warga lokal. Saat ini, Program Bule Mengajar masih dipilotkan di kawasan Kotagede.

Mengutip keterangan tertulis Pemkot Yogyakarta, Jumat (15/5/2026), program tersebut akan terus dikembangkan ke berbagai kampung wisata lain di Kota Yogyakarta.

“Program ini tidak hanya memperkuat sektor pariwisata, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat agar manfaat ekonomi dan sosial dapat dirasakan lebih luas,” ujarnya dalam Focus Group Discussion (FGD) Program Bule Mengajar di Kantor Kemantren Kotagede, Rabu (13/5/2026).

Program Bule Mengajar mengusung konsep wisata berbasis pengalaman, di mana wisatawan terlibat langsung dalam aktivitas masyarakat setempat. Konsep ini dinilai mampu memperkuat identitas kampung wisata sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga.

“Kami ingin seluruh kampung wisata memiliki ciri khas dan pengalaman unik yang bisa dirasakan wisatawan. Jadi dampaknya tidak hanya pada kunjungan wisata, tetapi juga pemberdayaan masyarakat di kampung,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar menghadirkan wisatawan asing, tetapi juga mendorong interaksi langsung dengan masyarakat.

“Pariwisata itu harus berdampak langsung kepada masyarakat. Wisatawan datang bukan hanya melihat-lihat, tetapi ikut berinteraksi, belajar budaya, masuk kampung, hingga berbagi ilmu. Dari situ ada dampak ekonomi, sosial, dan pemberdayaan warga,” tuturnya.

Ia menambahkan, keterlibatan wisatawan dalam aktivitas kampung dapat meningkatkan lama tinggal wisatawan (length of stay) serta mendorong peningkatan belanja produk UMKM lokal.

“Kalau wisatawan tinggal lebih lama, mereka makan di warung warga, membeli produk UMKM, ikut aktivitas kampung, maka manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.

Meski demikian, Wawan menegaskan pentingnya menjaga nilai budaya lokal di tengah interaksi dengan wisatawan mancanegara.

“Walaupun mereka tamu dan wisatawan, kita tetap harus punya prinsip. Mereka harus mengikuti aturan, budaya, dan norma yang dimiliki Yogyakarta. Jangan semuanya dibebaskan, karena identitas dan nilai budaya lokal tetap harus dijaga,” ucapnya.

Sebagai lokasi percontohan, Kotagede menawarkan beragam potensi wisata yang terintegrasi dalam program ini. Di antaranya kawasan Between Two Gates Purbayan, Kompleks Masjid Gede dan Makam Raja-Raja Mataram, sentra kerajinan perak, Pasar Legi, hingga kuliner tradisional seperti kipo dan kembang waru.

Baca Juga: Tarif Khusus KAI Jogja Solo Mulai Rp45.000, Ini Daftar Rutenya

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*