Katy Perry tampil astro chic di Met Gala 2026 dengan gaun Stella McCartney, masker futuristik, dan konsep Fashion Is Art bernuansa kritik era AI.
Katy Perry menghadirkan tampilan yang benar-benar “supernatural” dan “extraterrestrial” saat melangkah di karpet merah Met Gala 2026 di Metropolitan Museum of Art, New York, Senin malam, 4 Mei. Mengusung tema “Costume Art” dengan dress code “Fashion Is Art”, penyanyi “ET” itu datang dengan memaksimalkan nuansa astronot yang langsung mencuri perhatian kamera dan penonton.
Untuk dress code malam itu, “Fashion Is Art”, Katy memilih gaun putih strapless karya Stella McCartney dengan ekor panjang serta sarung tangan putih hingga siku yang memberi kesan elegan dan bersih seperti kanvas kosong. Namun sosoknya hampir tidak bisa dikenali karena perempuan 41 tahun itu mengenakan masker putih dan perak yang mengingatkan pada helm astronot, membuat penampilan terlihat seperti makhluk luar angkasa yang turun khusus untuk mode hajatan paling prestisius ini. Acara tahun ini juga dipandu oleh nama-nama besar seperti Beyoncé, Nicole Kidman, Venus Williams dan Anna Wintour, menambah aura glamor di tangga Met yang ikonik.
Malam Met Gala 2026 ini juga menjadi ajang reuni bagi Katy, Gayle King dan Lauren Sánchez Bezos, setelah sebelumnya mereka sama-sama mengambil bagian dalam peluncuran roket Blue Origin pada tahun lalu. Kehadiran mereka kembali di acara mode bergengsi ini membuat narasi “astronaut vibes” Katy terasa semakin relevan, seolah menyambungkan pengalaman literal ke luar angkasa dengan eksplorasi estetika di dunia mode.
Jelang acara, Katy sudah lebih dulu memancing rasa penasaran penggemar. Ia menulis di X pada 3 Mei, “Haruskah saya pergi ke #TheMet?” dan tak lama kemudian membagikan video di TikTok yang menampilkan tangan bersarungnya mengacungkan jari tengah diiringi lagunya “The One That Got Away,” memberi teaser bahwa ia akan datang dengan sikap penuh pernyataan dan anti-mainstream.
Di karpet merah, penyanyi “California Gurls” itu menaiki tangga Met dalam balutan gaun putih Stella McCartney, sarung tangan opera senada, dan masker jala putih dengan detail cermin berlapis perak. Ujung ekor gaunnya tampak seolah tersengat atau “terbakar”, menambah kesan dramatis seolah baru kembali dari perjalanan antarplanet. Saat berhenti terjadi, Katy membuka bagian depan topeng untuk menampilkan wajahnya, momen yang langsung memicu jepretan kamera secara beruntun.speakuni+1
Penampilan itu merupakan interpretasi pribadi Katy atas dress code tahun ini, “Fashion is Art,” yang mendorong tamu untuk menjadikan tubuh mereka sebagai kanvas hidup. Di tangan Katy, konsep tersebut diterjemahkan menjadi sosok hibrida: antara astronot, robot futuristik, hingga figur fiksi ilmiah yang seolah-olah keluar dari dunia imajinasi AI.
Tak butuh waktu lama, media sosial langsung penuh dengan reaksi. Sebagian besar warganet menjuluki menampilkan “astro-chic”, memuji bagaimana ia memadukan siluet klasik dengan aksesori futuristik. Ada pula yang menganggap gaya itu sebagai komentar tajam terhadap bahaya AI bagi dunia seni, karena masker dan kepalanya mengingatkan pada robot dan citra-citra yang kerap dihasilkan mesin. Seorang pengguna X menulis, “Katy Perry baru saja mendarat di #MetGala2026 2026 menyajikan realitas astro-chic dalam topeng surgawi dan momen serba putih yang memberikan ‘dewi bulan tetapi menjadikannya mode,’” sementara yang lain bercanda, “Siapa yang memakainya lebih baik Katy Perry atau Optimus,” membandingkannya dengan robot Optimus buatan Tesla.
Komentar lain menyebut, “Katy Perry berpura-pura menjadi astronot lagi di Met Gala 2026,” dan, “Katy Perry di Met Gala, mengingatkan semua orang bahwa dia pernah ke luar angkasa.” Di sisi lain, banyak pula yang memuji konsistensinya membawa konsep kuat ke karpet merah: “Katy Perry adalah satu-satunya sejauh ini yang benar-benar membawa konsep dan ide. Sangat sedikit orang lain yang benar-benar mencoba beradaptasi dengan tema tersebut. Saya tidak peduli… selama berjam-jam kami bertanya-tanya apakah yang kami lihat online itu nyata atau AI, dan itulah yang ingin dia capai.”
Makna di balik aksesori kepala Katy ternyata disusun serius. Headpiece tersebut dirancang oleh Miodrag Guberinic sebagai “refleksi literal dan simbolis yang mengundang pengamat untuk mempertimbangkan bahwa persepsi mereka terhadap orang lain dapat mencerminkan dunia internal mereka sendiri, dan sebaliknya menutupi kebenaran,” menurut siaran pers yang ditayangkan kepada People. Dengan kata lain, penutup kepala itu bukan sekadar pelindung futuristik, tetapi juga ajakan untuk memikirkan bagaimana kita melihat orang lain dan bagaimana citra bisa menyembunyikan kenyataan. Seorang penggemar bahkan menulis bahwa “Katy Perry mengejek AI dalam gaun Met Gala-nya dengan berdandan menyerupai Robot AI — dan kemampuannya menghasilkan karya seni dalam hitungan detik adalah pembunuh bentuk seni sejati. PIKIRANNYA,” menekankan pembacaan politis terhadap gaya tersebut.
Bagi Katy, tampil berani di Met Gala bukan hal baru. Ia—yang berbagi seorang putri bernama Daisy, 5 tahun, dengan mantan pertunangannya Orlando Bloom—memiliki rekam jejak panjang soal busana nyentrik di ajang ini. Pada Met Gala 2018 bertemakan “Heavenly Bodies: Fashion and the Catholic Imagination”, Katy memakai sayap malaikat raksasa yang langsung jadi ikon. Setahun kemudian, dalam tema “Camp: Notes on Fashion” 2019, ia muncul dengan gaun chandelier lengkap dengan lampu sebelum berganti menjadi kostum cheeseburger di dalam acara, memberikan “fitur ganda” yang sulit dilupakan.
Katy juga pernah didapuk sebagai co-chair Met Gala 2017. Saat itu ia mengenakan mantel merah custom John Galliano di atas gaun tulle dan chiffon untuk tema “Rei Kawakubo/Comme des Garçons: Art of the In-Between,” mempertegas reputasinya sebagai tamu yang selalu siap mendorong batas mode konvensi. Dalam wawancara bersama Vogue saat mengenang penampakan pada tahun 2023, ia pernah berkata, “Akhirnya aku merasa seperti menjadi bagian dari mode,” sebuah pengakuan yang tampak kian nyata setiap ia menjejak tangga Met dengan konsep baru.
Met Gala 2026 sendiri tidak luput dari kontroversi. Tahun ini, acara tersebut dijuluki “The Bezos Met Gala” oleh para demonstran setelah diumumkan bahwa Jeff Bezos dan Lauren Sánchez Bezos menjadi sponsor utama ajang tersebut, dengan Condé Nast dan Saint Laurent sebagai sponsor sekunder. Peran sebagai sponsor utama itu dikabarkan memberi pengaruh signifikan mulai dari daftar tamu hingga cara keseluruhan acara yang dipresentasikan. Langkah ini memicu gelombang kritik dan seruan boikot yang menuduh banyak orang membeli pengaruh di salah satu mode panggung paling bergengsi di dunia.
Sekelompok aktivis gerilya memasang poster di sekitar Metropolitan Museum di New York dengan tulisan seperti “Bezos Met Gala: Dipersembahkan oleh firma yang memberdayakan ICE” dan “Boycott the Bezos Met Gala.” Kritik tersebut menyasar keterlibatan perusahaan yang disebut-sebut memiliki hubungan dengan kebijakan imigrasi yang kontroversial dan mempermasalahkan bagaimana uang perusahaan teknologi besar masuk ke ruang budaya dan seni. Di tengah polemik itu, penampilan Katy Perry dengan gaun “astro-chic” dan topeng futuristiknya justru terasa semakin relevan, seolah menjadi gambaran visual tentang ketegangan antara teknologi, kekuasaan, dan seni di era digital.
Dengan sejarah panjang sebagai salah satu tamu Met Gala yang paling berani bereksperimen, kehadiran Katy Perry tahun ini kembali menyatakan posisinya sebagai figur yang nyaman menjadikan tubuh dan fesyennya sebagai media opini sosial. Entah dibaca sebagai lelucon tentang astronot, sindiran terhadap AI, atau kritik halus terhadap cara teknologi mengintervensi seni, satu hal yang jelas: di Met Gala 2026, Katy Perry sekali lagi memastikan dia menjadi salah satu yang paling banyak dibicarakan.

Leave a Reply