Harga Minyak Dunia Tekan Belanja Online, Shopee dan TikTok Terimbas

Harga minyak di atas US$100 per barel menekan daya beli dan berpotensi turunkan transaksi e-commerce hingga 9% di Asia Tenggara.

Harga minyak di atas US$100 per barel menekan daya beli dan berpotensi turunkan transaksi e-commerce hingga 9% di Asia Tenggara.

JOSS.CO.ID – Kenaikan harga minyak mentah dunia di atas US$100 per barel tidak hanya berdampak pada inflasi, tetapi juga mengubah pola konsumsi masyarakat di Asia Tenggara. Lonjakan biaya energi dan pangan membuat masyarakat lebih fokus pada kebutuhan pokok, sehingga belanja barang non-esensial mulai dikurangi.

Dampaknya, nilai transaksi e-commerce atau gross merchandise value (GMV) berpotensi turun 8-9% di kawasan ini. GMV merupakan total nilai barang yang terjual di platform digital. Penurunan ini mencerminkan pergeseran prioritas konsumen di tengah tekanan biaya hidup.

Biaya Hidup Naik, Belanja Tertekan

Menurut perhitungan tim Bloomberg Economics, potensi kerugian GMV industri e-commerce Asia Tenggara dapat mencapai US$13 miliar jika harga minyak Brent bertahan di kisaran US$100 per barel.

GMV Shopee diperkirakan turun sekitar 8%, sementara TikTok Shop bisa tertekan hingga 8,6%. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi kenaikan biaya hidup hingga 70% akibat mahalnya energi dan pangan, yang mendorong rumah tangga mengurangi pengeluaran diskresioner.

Pengeluaran diskresioner adalah pengeluaran bersifat opsional yang tidak penting dan umumnya tidak berhubungan dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Dalam kondisi tekanan ekonomi, kategori ini menjadi yang pertama dipangkas.

Dalam skenario terburuk, ketika seluruh kenaikan biaya diteruskan ke konsumen, potensi penurunan GMV bahkan bisa mencapai US$19 miliar. Dampaknya langsung terasa pada pendapatan platform, terutama dari sisi komisi penjualan.

TikTok Shop Lebih Rentan

Analisis Bloomberg Economics menunjukkan Shopee dan TikTok Shop menyumbang sekitar 82% GMV e-commerce Asia Tenggara pada 2025. Namun, TikTok Shop dinilai lebih rentan terhadap tekanan inflasi karena porsi produk non-esensialnya lebih besar.

Produk seperti fesyen dan elektronik yang dominan di TikTok Shop cenderung lebih mudah ditinggalkan saat daya beli menurun. Sebaliknya, Shopee memiliki komposisi produk yang sedikit lebih beragam, termasuk kategori semi-esensial.

Indonesia dan Vietnam Paling Terdampak

Dampak kenaikan harga minyak tidak merata di seluruh kawasan. Indonesia dan Vietnam menjadi negara yang paling berisiko karena sebagian besar pengeluaran rumah tangga masih terserap untuk kebutuhan dasar.

Dalam kondisi harga minyak tinggi, pengeluaran diskresioner di Indonesia diperkirakan turun 14,1%, sementara Vietnam mencapai 14,6%. Filipina, Thailand, Malaysia, dan Singapura mengalami tekanan lebih rendah.

Di Indonesia, sekitar 41% pengeluaran rumah tangga digunakan untuk makanan, sementara hanya 22% untuk belanja diskresioner. Kondisi ini membuat ruang konsumsi barang sekunder semakin sempit saat harga kebutuhan pokok naik.

Pola Konsumsi Berubah

Kenaikan harga minyak mendorong biaya transportasi dan pangan lebih tinggi, sehingga masyarakat harus menyesuaikan pengeluaran. Bloomberg Economics mengacu pada data Center for Global Development yang menunjukkan bahwa secara global, kenaikan harga minyak dapat mendorong harga pangan hingga 26%.

Akibatnya, masyarakat mulai mengurangi pembelian barang sekunder dan memilih produk yang lebih terjangkau. Meski begitu, kategori semi-esensial seperti kebutuhan rumah tangga, kesehatan, dan produk bayi masih menjadi penopang transaksi e-commerce.

Pertumbuhan Kawasan Lebih Merata

Di sisi lain, pertumbuhan e-commerce Asia Tenggara mulai lebih terdiversifikasi. Momentum Works mencatat Thailand dan Malaysia menjadi pasar dengan pertumbuhan tercepat pada 2025, masing-masing 52% dan 48%.

Indonesia masih menjadi pasar terbesar dengan kontribusi 37%, namun pertumbuhannya melambat di kisaran 2%. Diversifikasi ini membantu meredam tekanan regional, meskipun risiko tetap tinggi di negara dengan daya beli lebih rentan.

Kebijakan Energi Jadi Penentu

Dampak kenaikan harga minyak juga dipengaruhi kebijakan energi masing-masing negara. Indonesia dan Malaysia relatif mampu menahan kenaikan harga melalui subsidi BBM.

Sebaliknya, Thailand dan Filipina lebih cepat merasakan dampak karena menggunakan mekanisme harga pasar. Vietnam berada di tengah dengan penyesuaian harga berkala.

Pengalaman krisis energi 2022 menunjukkan pola yang sama, di mana kebijakan subsidi dan fiskal sangat menentukan seberapa besar tekanan dirasakan masyarakat.

Harga Minyak Dunia Tekan Belanja Online, Shopee dan TikTok Terimbas

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*