Haji 2026: Jemaah Haji Semarang Tolak Jasa Pendorong Kursi Roda, Pilih Gotong Royong di Masjidil Haram

Jemaah haji Semarang di Haji 2026 memilih gotong royong mendorong kursi roda lansia di Masjidil Haram demi kekhusyukan ibadah.
Sebanyak 20 jemaah haji lansia Kloter 28 SOC asal Semarang bersiap memasuki Masjidil Haram dari Terminal Syib Amir untuk melaksanakan umrah wajib, Ahad (10/5/2026). (Foto: Dok. TPIHI Kloter 28 SOC).

Jemaah haji Semarang di Haji 2026 memilih gotong royong mendorong kursi roda lansia di Masjidil Haram demi kekhusyukan ibadah.

JOSS.CO.ID – Lautan manusia memadati pelataran Masjidil Haram sejak Ahad (10/5/2026) malam. Di tengah riuh gemuruh itu, rombongan asal Semarang ini menghadirkan pemandangan istimewa. Sebanyak 20 kursi roda melaju dengan ritme syahdu.

Tangan-tangan pekerja bayaran tidak menyentuh kursi-kursi itu. Puluhan saudara seiman justru bergotong royong mengawal perjalanan ini. Mereka ingin menjaga kekhusyukan ibadah para jemaah haji lansia.

Malam itu, suasana di Terminal Syib Amir menjadi saksi keputusan penting rombongan asal Jawa Tengah tersebut. Saat banyak jemaah lain memilih menyewa jasa pendorong kursi roda, mereka justru mengambil jalan berbeda: mengandalkan kekuatan kebersamaan.

Berawal dari Keluhan Layanan

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Sebagaimana dalam berita sebelumnya (Baca: Bikin Haru, Ini Alasan Jemaah Haji Semarang Tolak Jasa Pendorong Kursi Roda di Makkah), sejumlah keluhan muncul dari kloter awal.

Layanan jasa dorong komersial dinilai kurang memuaskan. Pekerja di Masjidil Haram kerap mendorong kursi roda terlalu cepat demi mengejar waktu. Akibatnya, jemaah lansia kesulitan mengikuti bimbingan doa selama prosesi umrah wajib.

Kondisi ini langsung mendapat perhatian dari tim pembimbing KBIHU Muhammadiyah. Mereka tidak ingin pengalaman ibadah para lansia terganggu.

Petugas TPIHI Kloter 28 SOC, Ustadz Drs. H. Nurbini, MSI, menjelaskan latar belakang keputusan tersebut. “Arahan petugas sektor meminta jemaah mendorong sendiri kursi roda. Banyak kloter sebelumnya mengeluhkan layanan jasa dorong dari Masjidil Haram,” jelasnya kepada muhammadiyahsemarangkota.org, Senin (11/5/26).

Melalui rapat bersama Ketua Rombongan dan Ketua Regu, disepakati satu keputusan: menolak jasa pendorong berbayar dan mengandalkan gotong royong.

Estafet Tenaga Demi Lansia

Sebanyak 20 jemaah haji lansia Kloter 28 SOC asal Semarang bersiap memasuki Masjidil Haram dari Terminal Syib Amir untuk melaksanakan umrah wajib. Perjalanan ini tidak mudah.

Rombongan harus menggerakkan 20 kursi roda di tengah kepadatan luar biasa. Kondisi ini semakin menantang karena mereka baru saja menempuh perjalanan darat Madinah-Makkah selama delapan jam sehari sebelumnya.

Namun, kelelahan tidak menghalangi semangat mereka. Para jemaah yang lebih muda justru berebut untuk membantu.

“Bahkan relawan yang mendorong berlebih,” tambah Ustadz Nurbini dengan mata berkaca-kaca.

Setiap kursi roda didorong secara estafet oleh dua hingga tiga orang. Mereka berjalan perlahan, menyesuaikan ritme di tengah padatnya jemaah, sambil membimbing doa dan talbiyah langsung ke telinga para lansia.

Makna Haji Ramah Lansia

Aksi gotong royong ini menjadi gambaran nyata konsep haji ramah lansia. Para jemaah lansia tidak hanya menjalankan ibadah, tetapi juga merasakan dukungan penuh layaknya keluarga sendiri.

Di atas lantai pualam Masjidil Haram, kebersamaan itu menghadirkan makna yang lebih dalam. Ibadah haji tidak sekadar tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang kepedulian dan pengorbanan.

Rombongan jemaah haji asal Semarang ini menunjukkan bahwa kekhusyukan ibadah dapat dijaga melalui solidaritas. Mereka membuktikan bahwa nilai mabrur tidak hanya lahir dari ritual, tetapi juga dari keikhlasan membantu sesama.

Baca Juga: Jemaah Haji Kloter 28 SOC Antisipasi Cuaca Panas Saat Miqat Bir Ali

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*