Bank Indonesia menegaskan cadangan devisa Indonesia masih kuat meski turun jadi 146,2 miliar dolar AS pada April 2026 di tengah pelemahan rupiah.
JOSS.CO.ID – Bank Indonesia menegaskan posisi cadangan devisa Indonesia masih memadai untuk menjaga stabilitas rupiah, meski terjadi penurunan sekitar 8,4 miliar dolar AS sejak awal tahun. Pada akhir April 2026, cadangan devisa tercatat sebesar 146,2 miliar dolar AS, terendah sejak Juli 2024 namun masih dinilai cukup kuat oleh bank sentral.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan penjelasan di hadapan anggota DPR di tengah sorotan tajam atas pelemahan rupiah ke rekor terendah. Ia menekankan bahwa posisi cadangan devisa masih mampu menjadi bantalan bagi perekonomian nasional dan mendukung kepercayaan pasar.
Cadangan Devisa Turun, Rupiah Tertekan
Data berbagai lembaga menunjukkan cadangan devisa Indonesia turun menjadi 146,2 miliar dolar AS pada akhir April 2026 dari 148,2–148,3 miliar dolar AS pada Maret. Penurunan ini membuat cadangan devisa berada di level terendah hampir dua tahun terakhir, seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan dan intervensi pasar.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah derasnya aliran keluar modal dari negara berkembang, ketegangan geopolitik, dan suku bunga tinggi di Amerika Serikat. Rupiah sempat bergerak di kisaran 17.600–17.700 per dolar AS pada pertengahan Mei 2026, jauh melemah dibanding asumsi pemerintah di APBN.
Sumber Tekanan dan Penggunaan Cadangan
BI menjelaskan, penurunan cadangan devisa terutama disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah, kewajiban valas lainnya, serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah. Selain itu, faktor musiman seperti kebutuhan impor dan repatriasi dividen juga menambah tekanan pada arus valas.
Dalam beberapa bulan terakhir, BI lebih banyak mengandalkan kombinasi intervensi di pasar spot, transaksi Domestic Non‑Deliverable Forward (DNDF), serta instrumen lindung nilai untuk menahan gejolak rupiah. Strategi ini dirancang agar cadangan devisa tidak cepat terkuras meski tekanan pasar keuangan global masih tinggi.
Rasio Kecukupan Masih Di Atas Standar
Meski turun, BI menegaskan cadangan devisa saat ini masih jauh di atas standar kecukupan internasional. Posisi 146,2 miliar dolar AS pada April 2026 setara dengan pembiayaan sekitar 5,8 bulan impor, atau 5,6 bulan impor sekaligus pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Angka tersebut melampaui acuan Organisasi internasional yang biasanya mensyaratkan minimal sekitar tiga bulan impor. Dengan rasio itu, BI menilai ketahanan sektor eksternal Indonesia masih terjaga dan ruang kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas tetap tersedia.
Strategi Pemerintah dan BI Meredam Gejolak
Di sisi fiskal, pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan dan berencana mengaktifkan kembali **Bond Stabilization Fund** untuk menstabilkan pasar obligasi negara. Dana ini akan digunakan sebagai “pembeli siaga” (buyer of last resort) surat berharga negara di pasar sekunder agar imbal hasil tidak melonjak tajam saat terjadi aksi jual asing.
Purbaya menyebut BSF akan difokuskan untuk menjaga kepercayaan investor dan mencegah gejolak berlebihan di pasar surat utang, sementara aktivasi penuh instrumen ini disiapkan bila tekanan pasar berubah menjadi krisis. Pemerintah juga membuka opsi memperluas sumber pendanaan BSF dari berbagai kanal di bawah Kementerian Keuangan.
Optimisme Pemulihan Rupiah
Gubernur BI Perry Warjiyo dan jajaran otoritas moneter menyatakan tetap optimistis tekanan terhadap rupiah bersifat sementara dan akan mereda seiring normalisasi sentimen global. Ia bahkan memproyeksikan nilai tukar rupiah pada akhir 2026 dapat menguat menuju rata‑rata sekitar 16.500 per dolar AS dengan rentang 16.200–16.800 per dolar AS.
Optimisme ini didukung ekspektasi masuknya kembali aliran modal asing, prospek pertumbuhan ekonomi domestik yang positif, serta imbal hasil aset keuangan Indonesia yang dinilai masih menarik. BI menegaskan akan terus berada di pasar dengan bauran kebijakan suku bunga, intervensi valas, dan pengelolaan likuiditas untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.

Leave a Reply