
Lebih dari satu juta warga Uni Eropa menandatangani inisiatif “Justice for Palestine” yang mendesak penangguhan Perjanjian Asosiasi UE-Israel, menyoroti desakan publik terhadap kebijakan luar negeri Uni Eropa.
JOSS.CO.ID – Warga Eropa mulai bergerak menyerukan penangguhan Perjanjian Asosiasi Uni Eropa-Israel. Dalam pengumuman terbaru Selasa (15/4/2026), Inisiatif Warga Eropa (European Citizens’ Initiative/ECI) tercatat telah mengumpulkan lebih dari satu juta tanda tangan. Langkah ini menjadikannya inisiatif tercepat yang menembus ambang batas dukungan sejak mekanisme tersebut diperkenalkan di Uni Eropa, mengutip laporan Anadolu.
Kampanye bertajuk “Justice for Palestine” ini diluncurkan sejak Januari 2026 dan kini berhasil melampaui ambang batas tanda tangan nasional di 10 negara anggota Uni Eropa, melebihi ketentuan minimum di tujuh negara yang disyaratkan agar bisa divalidasi.
Inisiatif ini dipimpin oleh European Left Alliance dan didukung kelompok masyarakat sipil serta gerakan pro-Palestina di berbagai negara Eropa. Mereka mendesak Uni Eropa menangguhkan Perjanjian Asosiasi UE-Israel, dengan alasan pelanggaran hukum internasional dan hak asasi manusia.
“Satu juta orang telah berbicara: Uni Eropa harus sepenuhnya menangguhkan Perjanjian Asosiasinya dengan Israel – Uni Eropa harus menjunjung tinggi hukum internasional dan menghentikan keterlibatannya dengan genosida Israel,” ujar pihak penyelenggara dalam pernyataan resmi.
Mereka menyerukan agar dukungan terus digalang untuk mencapai target baru 1,5 juta tanda tangan.
Menurut ketentuan, setiap inisiatif warga di Uni Eropa (ECI) harus mengumpulkan minimal 1 juta tanda tangan sah dan memenuhi ambang batas di tujuh negara anggota agar Komisi Eropa wajib meninjau dan memberi tanggapan resmi. Meski begitu, lembaga tersebut tidak berkewajiban secara hukum untuk langsung membuat regulasi.
Dalam pernyataannya, penyelenggara menambahkan,
“Kesenjangan antara tuntutan warga Eropa dan kebijakan kepemimpinan Uni Eropa tentang Palestina terus bertambah – Uni Eropa harus bertindak.”
Co-chair European Left Alliance, Catarina Martins, juga mengkritik Uni Eropa yang dinilai masih mempertahankan hubungan ekonomi dengan Israel. Menurutnya, kesepakatan dagang itu melemahkan komitmen Uni Eropa terhadap hak asasi manusia.
Sebagai informasi, Perjanjian Asosiasi UE-Israel yang berlaku sejak tahun 2000 mengatur kerja sama di berbagai bidang, termasuk politik, ekonomi, dan perdagangan. Uni Eropa diketahui merupakan mitra dagang terbesar Israel, dengan total transaksi barang mencapai €42,6 miliar atau sekitar US$50,2 miliar pada tahun 2024. Perjanjian itu juga memuat klausul penghormatan terhadap hak asasi manusia dan prinsip demokrasi sebagai dasar hubungan kedua pihak.
Baca Juga:
Nvidia Tetap Bertahan di Israel Tengah Perang Timur Tengah AS-Israel-Iran

Leave a Reply