Pasar Senen Jogja, Pasar Unik di Gang Sempit Bertahan Sejak 1970-an

Pasar Senen Jogja hadir unik di gang sempit Kampung Pathuk, tetap bertahan sejak 1970-an dengan pedagang tradisional dan harga terjangkau.

Pasar Senen Jogja hadir unik di gang sempit Kampung Pathuk, tetap bertahan sejak 1970-an dengan pedagang tradisional dan harga terjangkau.

JOSS.CO.ID, JOGJA – Pasar identik dengan deretan kios yang berjajar di dalam sebuah gedung. Namun tidak dengan Pasar Senen. Salah satu pasar tradisional di sudut Kota Yogyakarta ini menghadirkan suasana yang berbeda.

Pasar Senen Yogyakarta tidak menempati bangunan sebagaimana pasar pada umumnya. Pasar ini justru tumbuh di gang sempit di kawasan Kampung Pathuk, Ngampilan, dan menyatu dengan kehidupan warga sekitar.

Para pedagang membuka lapak di sepanjang gang kampung yang memanjang. Kondisi ini menjadikan Pasar Senen dikenal sebagai salah satu pasar terpanjang di Yogyakarta, sekaligus memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat maupun pengunjung.

Salah satu pedagang senior, Poniyem, menjadi saksi perjalanan panjang pasar ini. Ia mulai berjualan sejak tahun 1972, tepat setelah lulus sekolah dasar.

“Dari dulu memang di gang kecil, tapi dulu belum bagus. Dulu masih gedek, belum tembok,” ujar Poniyem.

Tak jauh dari lapaknya, Kasinem juga memiliki cerita serupa. Penjual jamu tradisional ini telah berjualan sejak tahun 1975 dan tetap setia mempertahankan cara produksi tradisional.

Setiap hari, Kasinem meracik jamu sendiri menggunakan bahan alami. Prosesnya masih dilakukan secara manual, mulai dari menumbuk hingga merebus bahan.

“Jamunya bikin sendiri, 2 kilogram kunyit ditumbuk sama asem, terus direbus. Temulawak juga begitu. Semuanya matang,” kata Kasinem.

Dengan biaya sewa kios sekitar Rp4 juta per tahun, ia bersama suaminya tetap bertahan menjual jamu dan rempah-rempah di tengah persaingan modern.

Harga jamu yang ditawarkan pun masih terjangkau, mulai dari Rp3.000 per gelas hingga Rp10.000 per botol. Meski demikian, kenaikan harga bahan baku turut memengaruhi harga jual.

“Harga kencur sekarang mahal, dulu per botol dijual Rp8.000, sekarang Rp10.000. Harga plastik juga mahal, kalau pakai plastik itu Rp5.000,” ucapnya.

Aktivitas Pasar Senen Yogyakarta sudah dimulai sejak dini hari dan biasanya ramai hingga siang hari. Berbagai kebutuhan pokok tersedia di pasar ini, mulai dari sembako, sayuran segar, hingga aneka kuliner khas.

Keberadaan Pasar Senen menjadi bukti bahwa pasar tradisional masih mampu bertahan di tengah arus modernisasi. Kesederhanaan dan kedekatannya dengan warga justru menjadi kekuatan utama yang menjaga denyut ekonomi rakyat tetap hidup di lorong-lorong kecil Kota Yogyakarta.

Baca Juga: Tol Yogyakarta-Bawen Pacu Aksesibilitas dan Wisata Jogja Solo Semarang

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*