
Kota Jogja menduduki posisi kedua kota termaju versi BRIN 2025. Wali Kota Hasto Wardoyo siap memperkuat daya saing dan investasi.
JOSS.CO.ID, JOGJA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merilis Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 yang menggambarkan kondisi dan kinerja daya saing wilayah di Indonesia. Hasilnya, Kota Jogja menempati posisi kedua sebagai kota paling maju dengan skor 4,42, tepat di bawah Surakarta yang berada di peringkat pertama dengan skor 4,43.
Selisih tipis sebesar 0,01 menunjukkan persaingan yang sangat ketat antara kedua kota. Dari data yang dirilis, Surakarta unggul pada salah satu komponen utama, yakni sumber daya manusia (SDM).
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, menanggapi capaian tersebut dengan menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kinerja daerah.
“Mengemas event-event yang bisa lebih semarak, mungkin kita juga harus harus lebih lagi untuk bisa belajar dengan Solo. Peluang untuk tumbuh dan berinvestasi di Solo itu tidak banyak bergerak, lebih leluasa itu., di Jogja kita juga harus banyak memperhitungkan, mempertahankan, banyak hal yang harus kita perhitungkan,” katanya, di ruang kerja, Rabu, 15 April 2026.
Hasto menilai, salah satu tantangan utama Jogja saat ini masih terbatasnya daya tarik investasi serta pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, Pemkot Jogja akan belajar dari Surakarta dalam memaksimalkan peluang investasi.
Sebagai kota yang dikenal dengan sebutan Kota Festival, Jogja berencana mengoptimalkan berbagai acara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan daya saing daerah.
“Saya kira harus seperti itu, event-event yang harus kita lakukan untuk menaikkan indeks daya saing menjadi kota paling maju,” ujarnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Kebijakan Riset dan Inovasi BRIN, Boediastuti Ontowirjo, menegaskan bahwa IDSD tidak disusun sebagai pemeringkatan semata, melainkan untuk memberikan gambaran kondisi riil daya saing daerah.
Ia menjelaskan bahwa IDSD 2025 mengacu pada kerangka Global Competitiveness Index (GCI) 2019 dari World Economic Forum. Dalam metode tersebut, daya saing daerah dibangun dari empat komponen utama, yakni pendukung lingkungan, sumber daya manusia, pasar, dan ekosistem inovasi.
“Lingkungan pendukung dan sumber daya manusia akan memperkuat pasar, dan pada akhirnya bermuara pada penguatan ekosistem inovasi,” ucapnya.
Berdasarkan data IDSD 2025, terdapat 12 pilar yang menjadi indikator penilaian. Pada komponen lingkungan pendukungnya, Jogja unggul di beberapa pilar, namun Surakarta tetap menunjukkan keunggulan di aspek lain seperti SDM dan pasar.
Persaingan yang ketat ini menjadi sinyal positif bahwa kedua kota terus berkembang dan berupaya meningkatkan kualitas daya saingnya di tingkat nasional.

Leave a Reply