
Ibu di Mamuju melahirkan di jalan rusak viral di medsos. Netizen bandingkan dengan istri pejabat, BPTD Sulbar siapkan solusi angkutan dan perbaikan akses.
JOSS.CO.ID — Video seorang ibu melahirkan di tengah jalan rusak di pedalaman Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, viral di media sosial dan memicu gelombang kritik terhadap buruknya infrastruktur di daerah tersebut. Warganet di berbagai platform ramai membandingkan kondisi itu dengan fasilitas kesehatan yang dinilai jauh lebih mudah diakses oleh keluarga dan istri pejabat.
Peristiwa itu terjadi di Desa Kopeang dan Bela, Kecamatan Tapalang, ketika keluarga korban berjuang membawa sang ibu ke fasilitas kesehatan terdekat. Dalam perjalanan yang melewati jalan terjal dan berlubang, sang ibu tak lagi mampu menahan kontraksi hingga akhirnya melahirkan di tengah jalan yang rusak berat.
Video dan foto kejadian tersebut dengan cepat menyebar di Instagram dan TikTok, memancing ribuan komentar yang menyoroti ketimpangan akses layanan kesehatan antara warga biasa dan kalangan pejabat. Banyak netizen menyayangkan, “ibu di desa harus bertaruh nyawa di jalan rusak, sementara istri pejabat melahirkan dengan fasilitas lengkap di rumah sakit modern.”
Menanggapi situasi ini, Balai Pengelolaan Transportasi Darat (BPTD) Sulawesi Barat (Sulbar) bergerak cepat. Kepala BPTD Sulbar, Ahmad, mengatakan pihaknya telah menerima instruksi langsung dari Kementerian Perhubungan untuk meninjau kondisi lapangan dan mencari solusi konektivitas bagi warga di wilayah terpencil tersebut.
Menindaklanjuti perintah pusat, tim BPTD Sulbar melakukan survei pendahuluan pada Minggu (29/3/2026). Ahmad menceritakan betapa sulitnya medan yang harus ditempuh untuk menjangkau desa-desa tersebut. “Kami berangkat bersama tim dan GM Damri. Awalnya kami mencoba menggunakan mobil 4×4 (Hilux), namun hanya bisa masuk sekitar 4 kilometer sebelum akhirnya tertahan. Jalannya sangat ekstrem,” ujar Ahmad kepada wartawan, Rabu (1/4/2026).
Karena kendaraan roda empat tidak mampu menembus jalur, tim terpaksa menyewa lima sepeda motor untuk melanjutkan perjalanan. Namun, hingga pukul 13.00 WITA, tim hanya dapat mencapai titik Sungai Taupe sebelum akhirnya memutuskan kembali ke Tapalang. Kondisi ini mempertegas betapa beratnya akses yang selama ini harus dilalui warga ketika sakit, hamil, atau membutuhkan layanan darurat.
Ahmad mengakui bus perintis standar tidak mungkin dipaksakan melewati jalur menuju Kopeang dan Bela. Sebagai solusinya, BPTD akan mengusulkan skema Kerja Sama Operasional (KSO) antara Damri dengan pihak ketiga. “Bus perintis biasa tidak akan bisa masuk. Maka nanti Damri akan mencari kendaraan yang sesuai dengan medan di sana. Kami akan rapatkan ini dengan pimpinan di Jakarta,”jelasnya.
Jika usulan ini disetujui, anggaran angkutan perintis akan dialokasikan untuk melayani warga di Desa Kopeang, Bela, dan Taan. Selama ini, warga di pedalaman Tapalang harus merogoh kocek dalam-dalam untuk menyewa kendaraan (carter) jika ingin keluar desa, termasuk untuk keperluan medis. Dengan hadirnya angkutan perintis subsidi, biaya tersebut diharapkan bisa ditekan seminimal mungkin.
“Insya Allah, nanti biaya sewa mobil yang selama ini dibayar masyarakat akan kami tanggulangi melalui subsidi perintis. Tujuannya agar konektivitas tumbuh dan harga-harga kebutuhan di sana bisa turun,” tambah Ahmad.
Dalam waktu dekat, BPTD Sulbar berencana menggelar pertemuan dengan Pemerintah Kecamatan Tapalang dan pemangku kepentingan terkait untuk melakukan uji coba angkutan perintis. “Kami tidak bisa asal terabas karena ada aturan yang membatasi, tapi kami berupaya maksimal untuk melayani masyarakat di daerah terpencil sesuai perintah pimpinan,” pungkasnya.
Di sisi lain, diskursus di media sosial terus menguat. Warganet menilai kasus ibu melahirkan di jalan rusak di Mamuju menjadi potret nyata kesenjangan akses dibandingkan dengan istri pejabat yang melahirkan dalam kondisi serba tercukupi. Narasi ini membuat tagar dan konten terkait “ibu melahirkan di jalan rusak” bertahan di berbagai linimasa Instagram dan TikTok selama beberapa hari terakhir.

Leave a Reply