
Anak punk bercocok tanam di sawah Gunungkidul lewat komunitas Petani Punk. Mereka hidupkan lahan tidur, dampingi 120 pemuda, dan kolaborasi program MBG. Inspirasi bertani mandiri.
JOSS.CO.ID, JOGJA – Di Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul, muncul gerakan menarik dari kalangan anak punk. Mereka membentuk komunitas bernama Petani Punk, yang digagas Pratisna Sibag sejak 2018. Ide ini lahir dari keprihatinan melihat pematang sawah sepi karena pemuda enggan bertani.
“Kami miris. Rata-rata petani hari ini usianya sudah 50 sampai 60 tahun. Saya berpikir, 15 tahun lagi mungkin tidak ada petani lagi kalau kita tidak bergerak sekarang,” ujarnya saat ditemui di Kota Jogja, Sabtu (11/4).
Sibag cerita, komunitas ini langsung ramai. Sekitar 40 anak punk bergabung, meski biasanya mereka lebih akrab dengan hiruk-pikuk kota. Kini, mereka belajar bergelut dengan lumpur sawah. Di Padukuhan Kalangan, mereka sudah bantu 120 pemuda menggarap lahan. Tujuannya jelas: buktikan bertani bisa hasilkan uang tanpa jadi buruh di kota besar.
“Itu aneh bagi saya. Daripada menghabiskan waktu di kota tapi hasilnya tidak jelas, lebih baik garap lahan di dusun. Kami buktikan kalau bertani itu bisa menghidupi,” tuturnya.
Hasilnya terlihat cepat. Warga mulai percaya dan hibahkan lahan tidur seluas 800-1.500 meter persegi secara gratis. Panenannya jadi sumber dana karang taruna untuk acara seperti 17 Agustus atau Tahun Baru.
Kini, Petani Punk ambil langkah baru: ikut program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah. Alasannya, untuk awasi program itu dari dalam sebagai kontrol sosial.
“Kami ini kalau salah ya bilang salah, kalau benar ya jalan terus. Kalau besok di dapur MBG ada yang tidak beres, suara kami akan lebih kencang dari siapa pun. Karena kami ada di dalamnya,” bebernya.
Langkah ini dapat sambutan hangat dari Yayasan Bijana Paksi Sitengsu. Mereka ingin kerjasama agar petani Gunungkidul jadi pemasok utama bahan MBG.
“Ke depan akan ada lima dapur MBG yang ada di Gunungkidul, dan itu akan tepat sasaran menjadi penyuplai atau yang ikut mencari rejeki di sana benar-benar petani lokal,” ucap Sekjen Yayasan Bijana Paksi Sitengsu Teddy Anggoro.
Gerakan ini tunjukkan anak punk bercocok tanam di sawah bukan isapan jempol. Mereka ubah citra bertani jadi pilihan keren bagi generasi muda.

Leave a Reply