Tanah Bergerak di Guwo Bantul, 20 Rumah Perumahan Taman Semesta Asri Rusak

Tanah gerak Bantul di Perumahan Taman Semesta Asri merusak 20 rumah, satu roboh, kerugian Rp4 miliar. Warga diminta mengungsi dan waspada saat musim hujan.

Tanah bergerak di Guwo, Bantul, merusak 20 rumah di Perumahan Taman Semesta Asri. Tanah turun 2,5 meter, warga diminta mengungsi dari lokasi rawan bencana.

JOSS.CO.ID, BANTUL – Sebanyak 20 rumah di Perumahan Taman Semesta Asri di Guwo, Kalurahan Triwidadi, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul, rusak diduga akibat tanah bergerak. Peristiwa ini langsung menyita perhatian warga karena terjadi di kawasan perumahan yang baru berkembang dan viral di media sosial.

Pantauan di lokasi pada Selasa (10/3), akses menuju perumahan melewati jalan yang cukup curam. Kompleks perumahan berada di bawah Jalan Pule, dikelilingi wilayah perbukitan dan cukup jauh dari permukiman penduduk lain. Sesampainya di lingkungan perumahan, tampak retakan-retakan besar di tembok rumah, beberapa bangunan sudah tidak berdiri tegak, dan suasana sepi dengan hanya beberapa tukang yang masih bekerja.

Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata, menyampaikan data BPBD Bantul yang mencatat ada 20 rumah rusak berat dan satu di antaranya roboh. Berdasarkan catatan BPBD, tanah mengalami penurunan hingga kurang lebih 2,5 meter di kawasan perumahan tersebut.

Pemerintah Kabupaten Bantul bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY dan tim ahli geologi masih berupaya menelusuri penyebab gerakan tanah di perumahan di Kalurahan Triwidadi ini. Lokasi yang berada di perbukitan dengan kontur miring diduga jadi salah satu faktor risiko.

Jogoboyo Kalurahan Triwidadi sekaligus FPRB (Forum Pengurangan Risiko Bencana) Triwidadi, Giyanta, menjelaskan bahwa lokasi perumahan dulunya merupakan tanah miring yang kemudian diratakan menggunakan alat berat. “Tadi, dari ahli geologi menyampaikan tanah di sana seperti wadas tetapi tidak keras. Jadi, nanti kalau kena panas pecah. Kalau kena hujan lumpur. Jadi, seakan-akan tanahnya licin. Tapi iya area itu perbukitan,” katanya, Rabu (11/3/2026).

Pihak BPBD DIY dan BPBD Bantul mengimbau pemilik rumah di lokasi gerakan tanah untuk tidak menempati rumah mereka terlebih dahulu. Potensi gerakan tanah dinilai masih bisa terjadi, apalagi saat intensitas hujan tinggi. Saat ini tanah di area tersebut terpantau mengalami retakan dengan kedalaman sekitar dua meter, dengan sebaran retakan yang luas dan diperkirakan mengenai 20–30 rumah di dalam perumahan.

“Jumlah yang dihitung itu yang ada di perumahan. Tapi, ada juga potensi retakan ke rumah warga non perumahan sekitar delapan rumah. Cuma, memang sekarang sudah ada dua rumah warga yang juga terdampak dari gerakan tanah itu,” jelas Giyanta. Untuk dua rumah warga yang terdampak di luar perumahan, penghuninya masih memilih bertahan dan belum mengungsi, sedangkan pemilik rumah di dalam perumahan sudah mengungsi ke tempat yang lebih aman.

“Yang jelas untuk area perumahan yang terdampak gerakan tanah, belum bisa ditempati. Tapi, untuk delapan rumah non perumahan disarankan relokasi ke tempat yang lebih aman,” ucap Giyanta.

Sebagai penanganan lanjutan, BPBD DIY, BPBD Bantul, dan sejumlah pihak terkait tengah berdiskusi mengenai kemungkinan rekayasa teknik. Opsi yang dibahas antara lain pembuatan terasering dan selokan besar permanen untuk mengalirkan air hujan, karena selama ini aliran air hujan masih liar dan mengalir deras ke bawah hingga sebagian masuk ke kawasan perumahan. Rekayasa teknik ini berpotensi memerlukan anggaran besar.

Untuk penanganan dampak kerusakan tanah bergerak ini, diperkirakan tidak ada alokasi dana dari pemerintah. Fasilitas umum seperti jalan di area perumahan belum diserahkan ke pemerintah, sementara jalan di dalam perumahan juga ikut rusak akibat gerakan tanah. “Jadi, nanti penanganan kerusakan nanti pyur dari pengembang, dari developer perumahan,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, puluhan rumah di area perumahan di Guwo, Kalurahan Triwidadi, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul, rusak akibat terdampak gerakan tanah yang dipicu intensitas hujan tinggi. Panewu Pajangan, Anjar Arintaka Putra, menjelaskan hujan lebat sejak Jumat (27/2/2026) mengakibatkan penurunan permukaan tanah sedikit demi sedikit, dengan kecepatan pergerakan tanah diperkirakan mencapai 10 sentimeter per hari ke arah bawah permukiman. “Kedalaman tanah ambles saat ini mencapai sekitar 2,5 meter sebab, kurangnya resapan air, struktur tanah gembur dan labil (tanah berkapur), kontur lahan tidak ada sengkedan (terasering), pembatas, dan tidak adanya tanggul penahan (talud) yang memadai,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).

Baca Juga:

Jamin Keselamatan Warga, Ahmad Luthfi Serahkan 36 Unit Rumah untuk Warga Terdampak Tanah Gerak

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*