
JOSS.CO.ID – Serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran memasuki babak baru setelah tiga prajurit AS tewas dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dikonfirmasi terbunuh dalam Operation Epic Fury. Berita ini disusun berdasarkan laporan Globalnews.ca dan sumber resmi terkait.
Tiga prajurit Amerika Serikat dilaporkan tewas saat Operation Epic Fury, operasi militer besar-besaran AS dan Israel yang menargetkan Iran dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Dalam operasi ini, serangan udara menghantam sejumlah lokasi strategis di Teheran yang dikaitkan dengan pusat kekuasaan dan infrastruktur militer Iran.
Di tengah operasi, Komando Pusat AS menyatakan tiga personel militer “killed in action” dan lima lainnya mengalami luka berat, sementara beberapa prajurit lain menderita luka ringan akibat serpihan dan gegar.
Sebagai respons, Iran meluncurkan rudal ke Israel dan beberapa negara di kawasan Timur Tengah, termasuk Yordania, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, dan Qatar.
Serangan ini memicu kerusakan dan korban jiwa, termasuk laporan dua orang tewas di Abu Dhabi akibat serpihan dan puing intersepsi udara yang memicu kebakaran di pelabuhan utama dan pada fasad hotel ikonik.
Eskalasi cepat ini memunculkan kekhawatiran bahwa konflik bisa melebar menjadi konfrontasi regional yang jauh lebih luas, melibatkan berbagai kekuatan di Timur Tengah.
Di sisi politik, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa sebuah dewan kepemimpinan “has begun its work” untuk mencari pengganti Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa tujuan “massive” operasi tersebut adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan “eliminating imminent threats from the Iranian regime.” Ia juga menyerukan rakyat Iran untuk “take over your government,” menyebut bahwa ini “be probably your only chance for generations.” Pernyataan ini menambah tekanan politik terhadap elite di Teheran.
Reaksi keras juga datang dari pejabat Iran. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf memperingatkan, “You have crossed our red line and must pay the price,” serta mengancam, “We will deliver such devastating blows that you yourselves will be driven to beg.”
Di pihak sebaliknya, Trump mengeluarkan ancaman balasan, menulis, “THEY BETTER NOT DO THAT,” dan menegaskan, “IF THEY DO, WE WILL HIT THEM WITH A FORCE THAT HAS NEVER BEEN SEEN BEFORE!” Ia juga menambahkan bahwa pemboman berat akan berlanjut “uninterrupted throughout the week or, as long as necessary.”
Sejumlah pemimpin dunia menyuarakan keprihatinan dan solidaritas menyusul serangan lintas negara tersebut.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan dukungan penuh kepada Yordania, seraya mengatakan bahwa “With Khamenei gone, there is renewed hope for the people of Iran,” namun memperingatkan risiko ketidakstabilan yang bisa mendorong kawasan masuk dalam “spiral of violence.”
Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand dan Perdana Menteri Mark Carney juga menyerukan perlindungan warga sipil dan penguatan stabilitas serta keamanan kolektif di kawasan.
Di saat yang sama, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyebut akan ada “non-stop air train” serangan terhadap target militer dan kepemimpinan di Iran, menandakan bahwa fase pertempuran ini masih jauh dari berakhir.

Leave a Reply