
Menkeu Purbaya menepis isu pasar mati suri, di Pasar Beringharjo Yogyakarta, transaksi disebut tembus Rp2 triliun dan harga produk UMKM tetap kompetitif.
JOSS.CO.ID, JOGJA – Isu mengenai lesunya pasar tradisional ditepis langsung oleh Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Purbaya Yudhi Sadewa, saat melakukan kunjungan kerja di Pasar Beringharjo dan Teras Malioboro 1, Yogyakarta pada Selasa (17/03). Menteri Purbaya disambut dan didampingi langsung oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Sri Sultan mendampingi Menteri Purbaya meninjau berbagai lapak pedagang untuk melihat langsung aktivitas transaksi di pusat ekonomi kerakyatan Yogyakarta tersebut. Kehadiran Sri Sultan menegaskan komitmen Pemerintah Daerah DIY dalam menjaga stabilitas pasar rakyat di tengah tantangan ekonomi global.
Menkeu Purbaya menyatakan kekagumannya terhadap volume transaksi di pasar legendaris ini. Menurutnya, realita di lapangan sangat kontras dengan narasi “mati suri” yang sering dilontarkan para pengamat ekonomi belakangan ini.
“Ternyata di sini masih ramai dan omzetnya tinggi, perputarannya bisa sampai Rp2 triliun. Jadi kelihatannya tidak semati suri yang dibilang oleh para pengamat itu,” ujar Menkeu Purbaya usai berdialog dengan sejumlah pedagang.
Ia menambahkan bahwa meski pemulihan ekonomi pasca-perlambatan tiga tahun lalu belum sepenuhnya merata, titik-titik vital seperti Beringharjo menunjukkan daya tahan yang kuat. Kondisi serupa juga ia temukan di pusat grosir lain seperti Tanah Abang dan beberapa outlet di Bandung.
Salah satu poin yang menarik perhatian Menkeu Purbaya adalah daya saing produk lokal DIY. Didampingi Sri Sultan, ia sempat berbelanja batik, kain, dan kaos untuk keluarganya sambil berbincang dengan para pedagang.
“Saya belanja cukup banyak karena dibanding Jakarta, harganya di sini sangat bagus. Di Jakarta mungkin berapa juta, di sini sekitar berapa ratus ribu. Saya sempat tanya ke pedagang soal tambahan modal, mereka bilang sudah cukup. Ini sinyal kuat bahwa likuiditas di tingkat pedagang pasar di Jogja sudah membaik,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menkeu juga kembali menegaskan bahwa produk UMKM Yogyakarta memiliki daya saing harga yang kuat. Menurutnya, harga jauh lebih terjangkau dibandingkan kota besar seperti Jakarta, namun kualitas tetap kompetitif.
Sebelum ke Beringharjo, Menteri Purbaya mengunjungi Teras Malioboro 1 guna melakukan monitoring atas pemanfaatan Dana Keistimewaan DIY. Kunjungan ini memberikan pesan bahwa kolaborasi antara kebijakan fiskal pusat dan tata kelola daerah yang dilakukan Pemda DIY mampu menjaga denyut ekonomi tetap stabil dan optimis.
Menanggapi isu ekonomi makro, Menkeu menegaskan bahwa kondisi fiskal nasional saat ini masih sangat sehat dan ekspansif. Ia juga memberi kepastian mengenai stabilitas harga energi yang krusial bagi pedagang pasar.
Menteri Purbaya memastikan bahwa hingga saat ini belum ada rencana kenaikan harga BBM. Pemerintah, kata dia, mengoptimalkan fungsi APBN sebagai penyerap guncangan (shock absorber) untuk melindungi daya beli masyarakat dari fluktuasi harga minyak dunia.
“Kita punya uang masih cukup untuk menahan harga BBM sekarang sampai akhir tahun kalau Presiden menghendaki. Jadi, fungsi anggaran adalah menjaga agar guncangan dari luar tidak langsung dirasakan masyarakat,” tutup Menteri Purbaya.

Leave a Reply