Lahir Sezaman Nabi Muhammad, Kongo Gumi Bisnis Keluarga Tertua Jepang

Kongo Gumi adalah bisnis keluarga tertua di Jepang yang berdiri pada 578 M, lahir sezaman dengan masa kecil Nabi Muhammad dan tetap bertahan sebagai spesialis konstruksi kuil Buddha.
Hasil Karya, Awalnya dibangun atas perintah Pangeran Shōtoku pada abad keenam, Hōryū Gakumonji adalah kompleks kuil besar yang berfungsi sebagai seminari dan biara di Ikaruga. Pagoda kuil ini secara luas diakui sebagai salah satu bangunan kayu tertua yang masih ada di dunia, dan terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. (Foto: Asanuma, Departemen Perkeretaapian)

Kongo Gumi adalah bisnis keluarga tertua di Jepang yang berdiri pada 578 M, lahir sezaman dengan masa kecil Nabi Muhammad dan tetap bertahan sebagai spesialis konstruksi kuil Buddha.

KEGIATAN wirausaha sudah hadir jauh sebelum era modern dan bahkan berjalan sejajar dengan perjalanan para nabi. Salah satu contoh paling menarik datang dari Jepang, melalui Kongo Gumi, sebuah bisnis keluarga yang diakui sebagai salah satu perusahaan tertua di dunia dan menjadi simbol ketahanan usaha lintas generasi. Berbasis di Osaka, Kongo Gumi dikenal sebagai spesialis konstruksi kuil Buddha yang usianya menembus lebih dari 1.400 tahun.

Uniknya, sejarah Kongo Gumi berkaitan erat dengan garis waktu kehidupan Nabi Muhammad SAW. Perusahaan ini berdiri pada 578 Masehi, ketika Nabi Muhammad diperkirakan masih berusia sekitar tujuh hingga delapan tahun di Mekkah. Artinya, Kongo Gumi sudah mulai beroperasi sejak masa kecil Nabi, lalu terus bertahan melewati masa turunnya wahyu, hijrah ke Madinah, hingga Islam berkembang menjadi salah satu agama terbesar di dunia.

Sebelum dilikuidasi, Kongō Gumi adalah perusahaan tertua yang beroperasi secara terus-menerus di dunia. Didirikan hanya sekitar satu abad setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi, perusahaan ini melewati perubahan ekstrem dalam budaya, pemerintahan, dan ekonomi Jepang sambil mempertahankan teknik konstruksi tradisional serta nilai-nilai keluarga selama lebih dari 1.400 tahun. Awalnya dibangun atas perintah Pangeran Shōtoku pada abad keenam, “Hōryū Gakumonji adalah kompleks kuil besar yang berfungsi sebagai seminari dan biara di Ikaruga.” Pagoda kuil ini diakui sebagai salah satu bangunan kayu tertua di dunia dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Asal-usul Kongo Gumi berawal dari kebutuhan Jepang akan tukang kayu khusus kuil Buddha. Ketika Pangeran Shōtoku Taishi memerintahkan pembangunan kuil Buddha pertama di Jepang, Shitennō-ji, Jepang masih didominasi kepercayaan Shinto dan belum memiliki miyadaiku, tukang kayu yang terlatih untuk arsitektur kuil. Sang pangeran kemudian memanggil tiga pengrajin dari Baekje, kerajaan Buddha di wilayah Korea sekarang, dan dari sinilah keluarga Kongō mulai membangun fondasi bisnis yang kelak dikenal sebagai Kongo Gumi.

Perusahaan Kongo Gumi didirikan oleh keluarga perajin kayu asal Korea yang datang ke Jepang untuk membantu pembangunan kuil Shitenno-ji, salah satu kuil Buddha tertua di Jepang. Sejak awal, mereka memposisikan diri sebagai spesialis konstruksi bangunan religius, fokus yang terbukti bertahan selama berabad-abad. Pendirian Kongo Gumi juga bertepatan dengan menguatnya Buddhisme sebagai agama dominan pada periode Asuka (592–710 M), yang membuat permintaan pembangunan kuil meningkat tajam.

Beragam kuil megah di Jepang tercatat sebagai hasil karya perusahaan ini. Selain Shitennō-ji, Kongo Gumi ikut berkontribusi pada pembangunan komplek kuil di Hōryū-ji (607 M) dan Koyasan (816 M), serta proyek penting seperti Kastil Osaka yang mulai dibangun pada 1583. Selama Keshogunan Tokugawa (1603–1867), ketika kuil Buddha mendapat dukungan keuangan besar, perusahaan ini berkembang pesat dan memperkuat reputasinya sebagai rujukan utama pertukangan kayu religius.

Kekuatan utama Kongo Gumi terletak pada kombinasi nilai tradisi dan fleksibilitas. Mereka mempertahankan teknik sambungan kayu tanpa paku, yang memungkinkan komponen bangunan diganti satu per satu dan membuat struktur seperti kuil tetap terjaga selama ratusan tahun. Di sisi lain, ketika pendapatan dari proyek kuil menurun, terutama pada era Restorasi Meiji, perusahaan berani melakukan diversifikasi ke proyek perkantoran dan perumahan, serta menggabungkan konstruksi kayu tradisional dengan beton dan perangkat lunak desain modern.

Sebagai bisnis keluarga tertua di Jepang, pola kepemimpinan Kongo Gumi juga menarik. Meski tradisi menghendaki kepala keluarga memimpin perusahaan, faktor keterampilan dan kesehatan tetap menjadi pertimbangan utama. Dalam beberapa periode, ketika tidak ada pewaris laki-laki yang memadai, keluarga mengadopsi menantu laki-laki yang kemudian memakai nama Kongō dan memimpin perusahaan, menjaga nama keluarga sekaligus kesinambungan teknik pertukangan.

Fleksibilitas ini diuji keras selama krisis ekonomi dan periode kelam lainnya. Pada masa Depresi Shōwa, pemimpin ke-37, Haruichi Kongō, melakukan bunuh diri ritual karena merasa gagal menafkahi keluarganya dan keluarga para pengrajin. Karena tidak ada pemimpin laki-laki yang dianggap layak, jandanya, Yoshie, tampil sebagai perempuan pertama dan satu-satunya yang memimpin Kongo Gumi, memperluas cakupan bisnis hingga produksi peti mati kayu dan memisahkan fungsi manajerial dari fungsi pertukangan.

Memasuki abad ke-20 akhir, Kongo Gumi harus berhadapan dengan tantangan baru: gelembung ekonomi Jepang. Godaan keuntungan cepat di sektor properti membuat perusahaan ikut berinvestasi besar dengan pembiayaan utang, namun ketika gelembung real estat pecah pada 1990-an, pendapatan dari kuil turun dan nilai aset jatuh, menyulitkan perusahaan untuk bangkit. Pada 2006, Kongo Gumi akhirnya mengalami proses likuidasi dan diakuisisi oleh Takamatsu Construction Group.

“Pada 2006, Kongo Gumi resmi menjadi anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki Takamatsu, namun tetap mempertahankan nama, tradisi kerajinan, serta spesialisasi konstruksi kuilnya.” Perusahaan ini tetap beroperasi, mempekerjakan sekitar 100 miyadaiku dan masih melibatkan setidaknya satu anggota keluarga Kongō sebagai simbol kontinuitas warisan. Moto mereka, “Pewarisan teknik dari 1.400 tahun yang lalu untuk masa depan”, merangkum keseimbangan antara pelestarian tradisi dan adaptasi terhadap zaman.

Di tengah keberhasilan panjang Kongo Gumi, perusahaan-perusahaan tua Jepang kini menghadapi ancaman generasi baru berupa penurunan angka kelahiran, keterbatasan tenaga kerja, dan tekanan biaya. Tanpa regenerasi yang kuat, dukungan kebijakan pemerintah, dan keberanian berinovasi, banyak bisnis tradisional berisiko kesulitan mempertahankan diri di era ekonomi digital. Pengalaman Kongo Gumi menunjukkan bahwa warisan budaya, manajemen keluarga yang adaptif, dan fokus kualitas jangka panjang adalah kunci untuk bertahan lebih dari sekadar satu atau dua generasi.

Baca Juga:

Maharaja Bhupinder Singh, Raja Patiala dengan 10 Istri dan 350 Selir

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*