Harga Emas Dunia Naik, Gejolak Timur Tengah Picu Reli Bullish

Harga emas dunia naik terdorong konflik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak. Analis memprediksi tren bullish berlanjut di tengah krisis energi global.

Harga emas dunia naik terdorong konflik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak. Analis memprediksi tren bullish berlanjut di tengah krisis energi global.

JOSS.CO.ID – Ketegangan geopolitik yang meruncing di kawasan Timur Tengah kembali menjadi motor utama penguatan harga emas dunia. Pada perdagangan Selasa (10/3/2026), logam mulia (XAU/USD) diproyeksikan melanjutkan tren penguatan (bullish) seiring meningkatnya permintaan aset aman (safe-haven) di tengah krisis energi global.

Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, mengungkapkan bahwa pergerakan emas saat ini menunjukkan dominasi minat beli yang kuat meskipun sempat mengalami volatilitas di awal pekan.

Guncangan di pasar komoditas ini dipicu oleh gangguan pengiriman minyak di Selat Hormuz. Situasi tersebut melambungkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) hingga lebih dari 30%, mendekati angka US$ 113 per barel. Saat ini, emas sendiri diperdagangkan di kisaran level US$ 5.090 per troy ounce.

“Secara teknikal pada timeframe H1, kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan tren bullish yang semakin solid,” jelas Andy dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa (10/3/2026).

Ia memproyeksikan jika momentum pembelian tetap terjaga, harga emas berpotensi menguji level resistance di kisaran US$ 5.245. Namun, pelaku pasar tetap diminta waspada terhadap risiko koreksi. Jika harga melemah, level US$ 5.126 diperkirakan akan menjadi area support atau titik pantulan harga.

Meski didukung sentimen perang, laju kenaikan emas tidak sepenuhnya mulus. Penguatan Indeks Dolar AS (DXY) ke level 99,11, posisi tertinggi dalam tiga bulan terakhir, menjadi tantangan tersendiri. Lonjakan harga minyak yang memicu inflasi memunculkan kekhawatiran bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang secara teori dapat menekan harga emas.

Kini, fokus pasar tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat pada Rabu mendatang. Jika inflasi tercatat lebih tinggi dari proyeksi 2,4%, dolar AS berpotensi menguat lebih jauh dan mengerem reli harga emas.

Secara historis, emas telah dianggap sebagai instrumen perlindungan nilai (hedging) utama di masa ketidakpastian. Ketika konflik militer pecah, seperti yang saat ini terjadi di Iran dan Beirut, investor cenderung menghindari aset berisiko seperti saham atau mata uang tertentu dan beralih ke emas yang dinilai memiliki nilai intrinsik lebih stabil.

Krisis di Selat Hormuz menambah lapisan risiko baru bagi ekonomi global. Sebagai jalur distribusi bagi hampir seperlima minyak mentah dunia, penutupan atau gangguan di selat ini tidak hanya menghambat pasokan energi, tetapi juga berpotensi memicu kenaikan inflasi secara luas.

Dalam perspektif ekonomi makro, kekhawatiran akan stagflasi—yakni kondisi ketika pertumbuhan ekonomi melambat namun inflasi tetap tinggi—sering kali menjadi katalis pendorong harga logam mulia menuju level tertinggi baru karena perannya sebagai penyimpan kekayaan yang relatif aman. Hal ini membuat minat investor terhadap emas kian menguat saat ketidakpastian global meningkat.

Baca Juga:

Rupiah Melemah, Kurs Dolar Hari Ini Dekati Rp17.000

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*