Banjir Bandang Buleleng Bali 2026: Kayu Bukan Illegal Logging, Bupati Fokus Cari Korban

Banjir bandang Buleleng Bali 2026 seret potongan kayu, Bupati bantah illegal logging dan perintahkan tim gabungan fokus cari warga hilang di sungai sampai pantai.
Foto Antara

JOSS.CO.ID, BALI – Banjir bandang Buleleng Bali 2026 melanda Kecamatan Banjar setelah hujan lebat mengguyur wilayah hulu pada Jumat (6/3/2026) sore hingga malam. Terjangan air bercampur lumpur menghantam permukiman warga, merusak ratusan rumah dan menyeret material kayu serta bambu dalam jumlah besar.

Fenomena banyaknya potongan kayu yang ikut terseret banjir bandang ini sempat memicu spekulasi di media sosial bahwa bencana di Buleleng dipicu “illegal logging” di hulu sungai. Menanggapi hal tersebut, Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menegaskan material kayu yang terlihat berserakan bukan hasil “illegal logging”. Ia menjelaskan kayu-kayu itu merupakan pohon tumbang di sekitar bantaran sungai yang tercabut bersama akarnya akibat tekanan air yang sangat kuat ketika banjir terjadi.

“Material yang terbawa hanyalah sisa-sisa pohon yang tumbang, banyak pohon besar di sekitar sungai yang ikut terbawa arus, termasuk bambu,” kata Sutjidra saat meninjau penanganan bencana di Kecamatan Banjar. Menurutnya, jika ada pembalakan liar, material yang terbawa biasanya berupa kayu gelondongan yang sudah dipotong rapi, bukan pohon beserta akar dan rumpun bambu.

Di beberapa titik aliran sungai, tim di lapangan menemukan tumpukan bambu dan batang pohon yang menyangkut di bebatuan dan jembatan. Salah satu korban banjir sebelumnya bahkan ditemukan dalam kondisi tertimbun di antara tumpukan bambu yang tersangkut di aliran sungai sehingga menyulitkan proses evakuasi. Petugas terpaksa menggunakan alat berat untuk memotong dan memindahkan material kayu berukuran besar yang menghalangi akses pencarian.

Bupati Buleleng meminta tim gabungan penanggulangan bencana fokus mencari warga terdampak banjir bandang yang masih hilang. “Sedang diupayakan (pencarian tiga warga yang hilang) dengan tim yang terdiri dari anggota BPBD, TNI/Polri, Basarnas, Polair. Semua kita libatkan untuk bisa menyisir bantaran sungai sampai pantai di Kalianget,” ujar Sutjidra.

Pemerintah Kabupaten Buleleng menurunkan sedikitnya dua alat berat untuk membantu pembersihan material kayu, lumpur, dan sampah di bantaran sungai serta lingkungan warga. Pembersihan difokuskan pada titik-titik yang berpotensi menjadi lokasi tersangkutnya material sekaligus untuk mencegah penyumbatan aliran sungai jika hujan deras kembali turun.

Data BPBD Buleleng mencatat banjir bandang Buleleng Bali 2026 merusak sekitar 253 rumah warga. Dampak terparah terjadi di Kecamatan Banjar, dengan laporan korban jiwa dan warga hilang terseret arus. Sedikitnya dua warga dilaporkan meninggal dunia, sementara ibu dan dua anaknya masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian tim SAR.

Koordinator Basarnas Buleleng Kadek Donny Indrawan menyebut pihaknya menerima laporan darurat dari beberapa titik pada Jumat malam. Laporan itu mencakup warga hanyut bersama kendaraan di Banjar Santal, keluarga yang terjebak di Banjar Sekar, serta warga hilang di Dusun Ambengan, Kecamatan Banjar. Satu korban ditemukan warga dalam keadaan meninggal, sedangkan tiga lainnya hingga Sabtu pagi belum ditemukan.

Karena kondisi malam hari dan debit air yang masih tinggi, pencarian sempat dibatasi di area yang dinilai aman. Operasi diperluas pada Sabtu pagi dengan menyisir sepanjang aliran sungai hingga muara, melibatkan tim dari BPBD, Basarnas, TNI, Polri, dan Polair. Tim juga memeriksa titik-titik penumpukan kayu dan sampah yang dicurigai menjadi lokasi korban tersangkut.

Di sisi lain, Pemkab Buleleng melalui Dinas Sosial mulai menyalurkan bantuan darurat berupa tenda, selimut, alas tidur, dan paket sembako bagi warga terdampak banjir bandang Buleleng Bali 2026. Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan camat di empat kecamatan terdampak, yaitu Busungbiu, Seririt, Sukasada, dan Banjar, untuk memantau kondisi cuaca dan potensi bencana susulan.

Sutjidra mengimbau warga tetap waspada mengingat prakiraan cuaca masih menunjukkan potensi hujan lebat di wilayah Buleleng dan sekitarnya. Ia menegaskan perlunya menjaga kawasan bantaran sungai, memperkuat tebing, dan mengelola vegetasi agar tidak mudah longsor dan ikut terseret ketika debit air meningkat. Evaluasi tata ruang dan penataan kembali area rawan banjir di sepanjang aliran sungai di Buleleng disebut akan menjadi fokus pembahasan pemerintah daerah bersama instansi terkait setelah fase darurat selesai.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*