AS Setujui Penjualan Darurat 12.000 Bom ke Israel di Tengah Perang dengan Iran

AS menyetujui penjualan darurat 12.000 bom ke Israel senilai US$151,8 juta di tengah perang dengan Iran, melewati Kongres dengan alasan keamanan nasional.

AS menyetujui penjualan darurat 12.000 bom ke Israel senilai US$151,8 juta di tengah perang dengan Iran, melewati Kongres dengan alasan keamanan nasional.

JOSS.CO.ID – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyetujui penjualan darurat 12.000 selongsong bom ke Israel di tengah perang yang kian memanas dengan Iran di kawasan Timur Tengah.

Penjualan bom casings seberat 1.000 pon atau sekitar 450 kilogram ini bernilai sekitar US$151,8 juta dan disahkan oleh Biro Urusan Politik‑Militer Departemen Luar Negeri AS.

“Penjualan ini akan meningkatkan kemampuan Israel untuk menghadapi ancaman saat ini dan di masa mendatang, memperkuat pertahanan dalam negerinya, dan berfungsi sebagai pencegah terhadap ancaman regional,” kata biro tersebut dalam sebuah pernyataan yang dikutip AFP.

Paket ini bukan hanya mencakup selongsong bom, tetapi juga layanan rekayasa, logistik, dan dukungan teknis dari pemerintah AS serta kontraktor pertahanan swasta.

Keputusan tersebut diambil ketika Israel dan AS meningkatkan operasi militer terhadap Iran dan kelompok‑kelompok sekutunya di kawasan, termasuk serangan udara dan rudal lintas batas.

Media internasional menilai volume 12.000 bom menunjukkan persiapan untuk operasi udara berkepanjangan di tengah konflik yang meluas di berbagai front, dari Iran hingga Lebanon dan wilayah lain di Timur Tengah.

Secara normal, penjualan senjata AS ke luar negeri harus melalui proses peninjauan dan persetujuan Kongres. Namun, dalam kasus ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menggunakan kewenangan darurat berdasarkan Arms Export Control Act untuk melewati mekanisme tersebut.

“Menteri Luar Negeri telah menetapkan dan memberikan justifikasi terperinci bahwa keadaan darurat telah terjadi yang mengharuskan penjualan segera barang‑barang pertahanan dan jasa pertahanan di atas kepada Pemerintah Israel demi kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat,” demikian bunyi pernyataan Deplu AS.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan perusahaan‑perusahaan pertahanan utama AS telah sepakat melipatgandakan bahkan melipatempatkan produksi senjata canggih untuk menopang kampanye militer yang sedang berlangsung.

Ia menyebut langkah percepatan penjualan amunisi ke Israel penting untuk menjaga keunggulan militer sekutu utama Washington di Timur Tengah dan mengirim sinyal pencegahan kepada Iran beserta jaringan aliansinya.

Sejumlah media internasional juga menyoroti kritik dari kalangan pegiat hak asasi manusia dan sebagian politisi di AS terhadap pola penggunaan klausul “darurat” untuk mempercepat penjualan senjata ke Israel di tengah konflik berdarah di kawasan.

Meski demikian, pemerintah AS tetap berargumentasi bahwa penjualan darurat 12.000 bom ini sejalan dengan kepentingan keamanan nasional, sekaligus untuk memastikan Israel memiliki stok persenjataan yang cukup menghadapi ancaman di masa kini maupun mendatang.

Baca Juga:

Intelijen Geospasial China Intip Armada AS di Timur Tengah

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*