Airlangga Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,4% pada 2026 di Tengah Gejolak Global

Airlangga Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,4% pada 2026 di Tengah Gejolak Global
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara CNN Indonesia Economic Forum 2026 di Jakarta, Senin (2/03).

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,4% pada 2026, Airlangga Hartarto optimistis ekonomi nasional tetap kuat meski ada ketidakpastian global dan konflik energi dunia.

JOSS.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah tetap optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia meski kondisi global saat ini menghadapi ketidakpastian geopolitik dan tekanan ekonomi dunia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah terus menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui berbagai kebijakan strategis, mulai dari penguatan konsumsi domestik, peningkatan investasi, hingga perluasan kerja sama ekonomi internasional.

Kinerja ekonomi Indonesia pada akhir 2025 menunjukkan hasil yang cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2025 tercatat mencapai 5,39 persen (year on year), yang menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara anggota G20.

Aktivitas sektor riil juga menunjukkan tren positif. Hal ini tercermin dari PMI manufaktur yang berada di level ekspansif 53,8 pada Februari 2026, serta Indeks Keyakinan Konsumen sebesar 127 pada Januari 2026 yang menunjukkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional.

Selain itu, penjualan riil juga tumbuh 7,9 persen (yoy), yang menandakan konsumsi domestik masih menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dari sisi kualitas pertumbuhan, sejumlah indikator sosial ekonomi juga mengalami perbaikan. Tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25 persen, pengangguran menurun menjadi 4,74 persen, sementara rasio Gini membaik ke 0,363, yang menjadi level terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Sepanjang 2025, realisasi investasi juga memberikan dampak signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 2,71 juta orang.

“Pertumbuhan di kuartal pertama tahun ini diharapkan bisa lebih tinggi dari kuartal keempat yang lalu karena berbagai program baik dari stimulus Pemerintah kemudian juga berbagai program lain yang diharapkan bisa mendorong makro ekonomi terutama dari segi konsumsi dan kedua dari segi belanja Pemerintah juga akan terus didorong,” tutur Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara CNN Indonesia Economic Forum 2026 di Jakarta, Senin (2/03).

Antisipasi Dampak Gejolak Global

Di tengah dinamika global, pemerintah juga mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan, termasuk konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi stabilitas distribusi energi dunia.

Airlangga menjelaskan bahwa kondisi fiskal Indonesia masih dalam kondisi aman dengan asumsi harga minyak dalam APBN sebesar USD70 per barel. Saat ini harga minyak dunia dinilai masih berada pada level yang relatif terkendali.

Pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) juga menyiapkan langkah antisipasi dengan melakukan diversifikasi sumber pasokan energi, termasuk menjajaki kerja sama pengadaan minyak dengan Amerika Serikat guna memperkuat ketahanan energi nasional.

Target Pertumbuhan Ekonomi 2026

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mencapai 5,4 persen. Target tersebut akan didorong melalui sektor-sektor prioritas yang dinilai memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Sektor tersebut meliputi pertanian, industri manufaktur, ekonomi digital, serta ketahanan energi.

Selain itu, berbagai program prioritas nasional juga terus dilanjutkan, seperti program Makan Bergizi Gratis, penguatan Koperasi Merah Putih, komersialisasi Danantara, peningkatan investasi asing langsung (FDI), serta pembangunan tiga juta rumah.

Program-program tersebut diharapkan dapat meningkatkan permintaan domestik sekaligus memperluas penciptaan lapangan kerja di berbagai wilayah.

Reformasi Investasi dan Hilirisasi Industri

Untuk memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia, pemerintah juga terus mempercepat reformasi struktural melalui deregulasi dan penyederhanaan perizinan usaha.

Sistem perizinan berbasis Online Single Submission (OSS) terus diperkuat agar proses investasi menjadi lebih cepat dan efisien.

Selain itu, pemerintah juga membentuk satuan tugas debottlenecking untuk mengatasi berbagai hambatan investasi yang selama ini menjadi kendala bagi dunia usaha.

Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) serta program hilirisasi industri juga terus dipacu agar Indonesia tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

Di sektor keuangan, pemerintah mendorong pendalaman pasar keuangan melalui peningkatan transparansi pasar modal serta perluasan partisipasi investor domestik.

Peluncuran bullion bank juga menjadi salah satu langkah strategis untuk menyediakan alternatif instrumen investasi berbasis emas di tengah volatilitas ekonomi global.

Stimulus Ekonomi Jelang Idulfitri

Untuk menjaga momentum pertumbuhan dalam jangka pendek, pemerintah juga menyiapkan berbagai stimulus ekonomi menjelang Idulfitri.

Stimulus tersebut meliputi diskon transportasi, bantuan pangan kepada 35,04 juta keluarga penerima manfaat, serta penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR).

Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan konsumsi masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I-2026 hingga sekitar 5,5 persen (yoy).

Perluasan Kerja Sama Ekonomi Global

Di tingkat global, pemerintah juga terus memperluas kerja sama perdagangan dan investasi dengan berbagai negara dan kawasan.

Beberapa di antaranya termasuk penyelesaian perundingan kemitraan ekonomi dengan Uni Eropa, Kanada, dan kawasan Eurasia, serta upaya aksesi Indonesia untuk bergabung dengan OECD dalam beberapa tahun mendatang.

Indonesia juga telah menandatangani kesepakatan Agreement on Reciprocal Tariff dengan Amerika Serikat yang bertujuan menciptakan struktur tarif perdagangan yang lebih kompetitif bagi produk Indonesia di pasar global.

“Salah satunya bagaimana implementasi yang harus diawasi yaitu Coretax. Karena kalau Coretax-nya jalan, itu dari PPN aja mungkin kita bisa dapet tambahan 2-3%. Jadi kita tetap optimis dengan perbaikan penerimaan, maka perekonomian akan lebih solid,” pungkas Menko Airlangga.

Baca Juga:

THR ASN 2026 Capai Rp55 Triliun, Ini Jadwal dan Besaran Tunjangan PNS, TNI-Polri

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*