Skrining Kesehatan Komunitas Temukan 33% Warga Berisiko

Skrining kesehatan komunitas Rhemedi di Jakarta Timur deteksi kelainan organ pada 1 dari 3 warga. Program preventif berbasis RT/RW untuk cegah penyakit kronis.

Skrining kesehatan komunitas Rhemedi di Jakarta Timur deteksi kelainan organ pada 1 dari 3 warga. Program preventif berbasis RT/RW untuk cegah penyakit kronis.

JOSS.CO.ID, JAKARTA – Program deteksi dini penyakit kronis di Indonesia masih menghadapi hambatan serius. Banyak kondisi kesehatan seperti gangguan organ dalam baru diketahui saat sudah stadium lanjut dan butuh penanganan medis kompleks.

Rhemedi Medical Services menjalankan program skrining kesehatan berbasis komunitas pada akhir pekan lalu (14/02/26) di kawasan Waringin Permai, Jakarta Timur. Pendekatan preventif ini menarik perhatian karena keberhasilannya menjangkau masyarakat langsung di lingkungan tempat tinggal.

Antusiasme Warga Ikuti Pemeriksaan Gratis

Puluhan warga mengikuti pemeriksaan kesehatan sejak pagi hari. Antrean sudah terbentuk sebelum jadwal pemeriksaan dimulai, menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap layanan kesehatan preventif.

Pemeriksaan difokuskan pada skrining ultrasonografi (USG) organ intra abdomen dan evaluasi risiko kesehatan dasar. Hasilnya mengejutkan: sekitar 1 dari 3 peserta teridentifikasi memiliki kondisi medis yang perlu evaluasi dan tindak lanjut lebih lanjut.

Skrining Komunitas Deteksi Masalah Sebelum Terlambat

Temuan ini membuktikan bahwa skrining di tingkat komunitas bisa menjadi alat penting untuk memetakan risiko kesehatan populasi sebelum berkembang jadi kasus klinis berat. Pendekatan ini mengubah paradigma layanan kesehatan dari kuratif menjadi promotif-preventif.

dr. Rheza Maulana S, BMedSc (Hons), SpRad, SH, MM, MARS, perwakilan tim medis Rhemedi Medical Services, menjelaskan bahwa banyak penyakit tidak menular berkembang tanpa gejala pada tahap awal.

“Tanpa skrining berkala, masyarakat kerap baru menyadari kondisi kesehatannya setelah muncul komplikasi. Peran USG disini adalah sebagai modalitas pencitraan yang tidak sakit, tanpa radiasi, relatof cepat, dan efektif digunakan untuk memberikan gambaran organ dalam abdomen manusia beserta kelainannya seperti organ hati, ginjal, pankreas, kantung empedu, limpa, kandung kemih, maupun prostat (pada pria) atau rahim (pada wanita),” jelasnya.

Peran RT/RW Tingkatkan Partisipasi

dr. Rheza menambahkan bahwa keterlibatan struktur RT/RW dalam kegiatan ini berperan signifikan dalam meningkatkan partisipasi warga. Pendekatan berbasis lingkungan dinilai efektif karena menghadirkan akses layanan kesehatan langsung ke komunitas, sekaligus membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya pemeriksaan berkala.

Jika ditemukan kelainan, warga dapat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk penanganan lebih lanjut sebelum penyakitnya bertambah parah.

“Ke depannya, model skrining komunitas seperti ini berpotensi menjadi bagian dari strategi kesehatan preventif yang lebih luas, terutama di kawasan urban dengan risiko penyakit tidak menular yang terus meningkat,” ujarnya.

Program ini menunjukkan bahwa layanan kesehatan preventif yang menjangkau langsung ke komunitas dapat menjadi solusi efektif untuk deteksi dini penyakit kronis di Indonesia, terutama di area perkotaan dengan mobilitas tinggi dan kesadaran kesehatan yang masih perlu ditingkatkan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*