Moody’s Turunkan Outlook Utang RI, BI Pastikan Stabilitas Keuangan

Moody’s Turunkan Outlook Utang RI, BI Pastikan Stabilitas Keuangan
Moody’s Investors Service

JOSS.CO.ID, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan laju inflasi di tengah meningkatnya tekanan pasar keuangan global. Langkah tersebut ditempuh menyusul laporan Moody’s Investors Service yang turunkan prospek atau outlook surat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.

BI menegaskan kebijakan moneter dan makroprudensial tetap mengarah pada prinsip pro-pertumbuhan ekonomi (pro-growth), sekaligus merespons risiko pembalikan arus modal keluar secara mendadak atau sudden capital reversal pasca penurunan outlook tersebut.

Pasar Surat Utang Tertekan

Berdasarkan data Bloomberg, pasar surat utang negara pada perdagangan Jumat (6/2/2026) mengalami tekanan dan aksi jual. Kondisi ini dipicu oleh penurunan outlook yang dilakukan Moody’s pada malam sebelumnya.

Tekanan terjadi di hampir seluruh tenor, terutama tenor pendek dan menengah, seiring pelaku pasar mengkalkulasi ulang risiko berinvestasi di aset berdenominasi rupiah.

BI Lakukan Stress Test Sistem Keuangan

Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Alexander Lubis mengungkapkan bahwa bank sentral telah melakukan stress test atau evaluasi untuk mengukur ketahanan sistem keuangan nasional.

Hasilnya menunjukkan stabilitas sistem keuangan masih terjaga dengan tingkat permodalan yang kuat, bahkan dinilai dapat menjadi modal penting dalam menghadapi volatilitas ekonomi global.

“Kami melakukan stress test. Intinya permodalan kita masih sangat tinggi. Melihat indikator ini, dibanding peer di ASEAN kita masih aman,” ujar Alexander dalam acara Editor’s Briefing di Pontianak, Jumat (7/2/2026).

Ia menjelaskan, kondisi tersebut tercermin dari rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) yang berada di level 26%, serta rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) yang terjaga di kisaran 28%. Meski terdapat risiko kredit yang perlu dicermati, levelnya dinilai masih jauh dari indikator berbahaya.

BI Tetap Pro-Growth dan Data Dependen

Alexander menegaskan, hingga saat ini BI masih mempertahankan kebijakan pro-pertumbuhan ekonomi karena sejumlah variabel, seperti pertumbuhan kredit, masih berada di bawah level optimal.

“Penilaian BI tetap data dependen (bergantung pada data indikator ekonomi). Sampai saat ini, semua variabel masih mengarah pada stance pro-growth,” kata dia.
“So far dari indikator kami belum menunjukan bahwa harus mengganti stance. karena semua variabel ini masih perlu kita dorong.”

Ia menambahkan, berbagai program pemerintah dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pertumbuhan kredit dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Sejauh ini belum membuat kita keluar dari range itu. Apakah bisa berubah lagi? bisa saja, tapi data dependen. Sejauh datanya tidak memaksa kita dengan cepat, kita juga harus bisa adaptif untuk menjaga stabilitas,” tutur dia.

Yield SBN Naik

Mengacu pada data Bloomberg, yield surat utang negara tenor 1 tahun naik 3,7 basis poin (bps) dan mendekati 5%. Yield tenor 2 tahun meningkat 4 bps ke level 5,08%, sementara tenor 3 tahun naik 2,6 bps ke 5,4%.

Kenaikan yield tertinggi tercatat pada tenor 4 tahun dan 5 tahun, masing-masing melonjak 8,7 bps ke 5,8% dan 11 bps ke 5,78%.

Akumulasi Sentimen Negatif Pasar

Menurut laporan tim riset Bloomberg Technoz, aksi jual di pasar obligasi merupakan akumulasi respons terhadap berbagai sentimen negatif dalam dua pekan terakhir. Tekanan muncul setelah peringatan dari MSCI, disusul penurunan peringkat bursa saham Indonesia oleh Goldman Sachs dan UBS, hingga terbaru penurunan outlook kredit oleh Moody’s.

Alasan Moody’s dinilai cukup jelas, yakni terkait “menurunnya prediktabilitas dalam perumusan kebijakan, yang berisiko melemahkan efektivitas kebijakan serta mengindikasikan pelemahan tata kelola,” katanya.

Risiko bagi Pasar Keuangan

Meski Moody’s tetap mempertahankan peringkat Baa2 untuk utang jangka panjang Indonesia dalam mata uang lokal dan asing—dua tingkat di atas status non-investment grade—perubahan outlook menjadi negatif dinilai berdampak signifikan terhadap kepercayaan investor.

Bagi pasar surat utang, risiko fiskal yang tidak diimbangi reformasi penerimaan negara berpotensi mendorong kenaikan yield dan mempersempit basis investor jangka panjang. Sementara bagi pasar saham, ancaman MSCI untuk menurunkan bobot Indonesia hingga ke status frontier market dapat meningkatkan risiko keluarnya dana institusional global yang selama ini menopang arus masuk portofolio.

Baca Juga:

OJK Dorong Penerapan Universal Banking dalam Revisi UU P2SK

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*