Kepala BGN: MBG Tekan Pengeluaran Rumah Tangga dan Perkuat Ekonomi Keluarga

Kepala BGN: MBG Tekan Pengeluaran Rumah Tangga dan Perkuat Ekonomi Keluarga
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana mengungkapakan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirancang mampu tekan pengeluaran rumah tangga sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga penerima manfaat.

JOSS.CO.ID, JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga berkontribusi langsung dalam menurunkan beban pengeluaran rumah tangga serta memperkuat ketahanan ekonomi keluarga. Hal ini disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, berdasarkan hasil survei terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Kepala BGN menegaskan bahwa program MBG merupakan bentuk perlindungan sosial produktif yang memberikan manfaat berlapis bagi keluarga penerima manfaat.

“Ketika anak-anak mendapatkan makanan bergizi di sekolah, beban orang tua dalam menyiapkan bekal dan memenuhi kebutuhan pangan harian otomatis berkurang. Inilah bentuk perlindungan sosial yang produktif,” ujar Dadan, dilansir dari Media Indonesia, Jumat, 6 Februari 2026.

Survei BPS: MBG Ringankan Beban Keluarga Penerima Manfaat

Dadan menjelaskan, pernyataan tersebut merujuk pada survei baseline BPS yang melibatkan 81.100 rumah tangga di seluruh Indonesia. Hasil survei menunjukkan mayoritas penerima manfaat MBG merasakan kemudahan dalam memperoleh makanan bergizi, berkurangnya waktu persiapan makan, serta perubahan perilaku konsumsi ke arah yang lebih sehat, terutama di wilayah pedesaan.

Menurut Dadan, dampak ekonomi program ini bersifat langsung dan nyata bagi rumah tangga.

“MBG dirancang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi anak, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi keluarga. Mengurangi pengeluaran rumah tangga membuka ruang bagi keluarga untuk mengalokasi pendapatan pada kebutuhan lain yang lebih produktif, seperti pendidikan, kesehatan, dan tabungan,” ujar Dadan.

Pengamat: MBG Intervensi Sosial Fundamental

Sementara itu, pengamat kebijakan publik Fakhrido Susilo menilai program MBG sangat relevan di tengah dinamika ekonomi global yang tidak menentu. Ia menyebut MBG sebagai intervensi sosial fundamental bagi masa depan bangsa.

“Seluruh negara di dunia juga menempuh ini. Ada India tidak lepas dari gejolak ekonomi dunia, Brazil, dan Amerika. Tapi tetap ada tanggung jawab sosial negara yang harus dipenuhi dan mereka tidak menghentikan program makan tengah hari-nya,” ujar Fakhrido.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik President University tersebut menyoroti realitas sosial orang tua di Indonesia yang kerap memiliki lebih dari satu pekerjaan, sehingga perhatian terhadap gizi anak berpotensi terabaikan.

“Terkadang mereka memiliki pekerjaan utama menjadi buruh di pagi hari dan pengemudi ojek online di sore hari. Ini membuat perhatian terhadap gizi anak sering terabaikan. Adanya MBG justru meringankan beban orang tua, memastikan anak mendapatkan asupan berkualitas tanpa mengganggu produktivitas kerja mereka,” ujar dia.

Gizi Anak dan Daya Saing Bangsa

Fakhrido menambahkan, nutrisi dalam program MBG bukan sekadar soal pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi menjadi fondasi pembentukan kemampuan berpikir anak. Ia menilai intervensi di jenjang pendidikan tinggi tidak akan efektif tanpa pondasi gizi yang kuat sejak usia dini.

“Jika kita punya jalan tol yang luas tapi manusianya tidak berkualitas, bagaimana kita mau bersaing di tahun 2045? Indonesia Emas adalah tentang pembangunan manusia,” ujar dia.

Meski demikian, Fakhrido mendorong pemerintah untuk melakukan studi komparatif guna memperkuat tata kelola program agar lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas gizi.

“Pemerintah perlu menggandeng lembaga penelitian independen untuk melakukan evaluasi dampak,” ujar Fakhrido.

Pakar Kesehatan: MBG Investasi Jangka Panjang

Pakar sekaligus edukator kesehatan Rita Ramayulis menilai MBG sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan manusia Indonesia. Menurutnya, program ini merupakan langkah berani pemerintah dalam menjawab tantangan akses gizi anak.

“Kehadiran program MBG ini sebenarnya untuk mendekatkan dan memudahkan akses ke makanan bergizi,” ujar dia.

Rita menekankan pentingnya diversifikasi menu dan pemanfaatan pangan lokal agar program ini berdampak optimal, baik dari sisi gizi maupun ekonomi.

“Kalau kita fokus pada pangan lokal, aneka ragam pangan anak meningkat, lapangan pekerjaan dan pendapatan penduduk pun tentu ikut naik. Jadi efek ekonominya nyata,” ujar Rita.

Ia menyebut Indonesia memiliki potensi besar dengan 389 jenis buah lokal, 228 jenis sayuran, 77 jenis karbohidrat, 75 jenis protein, serta 26 jenis kacang-kacangan yang dapat dimanfaatkan untuk efisiensi anggaran sekaligus menjaga kualitas gizi.

“Tidak akan ada keluhan kalau kita memanfaatkan pangan lokal. Nah, ini yang harus di-eksplore lebih jauh lagi,” ujar Rita.

Baca Juga:

Menteri PPN/Bappenas: MBG Lebih Mendesak daripada Lapangan Kerja

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*