
JOSS.CO.ID, JOGJA – Belum lama ini, GKR Mangkubumi menyampaikan pandangan tegas terkait maraknya pembangunan wisata di Gunungkidul yang disebut-sebut mengusung konsep “Bali style”. Ia menegaskan bahwa derasnya investasi tidak boleh membuat daerah tersebut kehilangan identitasnya sebagai bagian dari Yogyakarta.
“Kita adalah Jogja, bukan Bali. Jangan sampai karena ingin terlihat menarik, kita hanya meniru tempat lain dan kehilangan jati diri,” tegasnya.
Putri sulung Sultan Hamengkubuwono X itu menyoroti tren sejumlah investor yang datang dengan membawa desain dan konsep yang dinilai tidak selaras dengan karakter lokal. Menurutnya, kekuatan Gunungkidul justru terletak pada keaslian lanskap karst, arsitektur tradisional yang sederhana namun berkarakter, serta tata ruang yang tumbuh dari akar budaya Jawa.
“Identitas arsitektur lokal, pola ruang tradisional, hingga bentang alam yang masih alami itu adalah kekuatan. Kalau hilang, apa lagi yang membedakan kita?” ujarnya.
GKR Mangkubumi menegaskan, arah pembangunan harus sejalan dengan visi daerah dan memperhatikan keberagaman budaya serta kelestarian lingkungan. Ia mengingatkan bahwa investasi tidak hanya tentang ekonomi, tetapi juga warisan yang akan ditinggalkan bagi generasi berikutnya.
Sikap ini mendapat dukungan penuh dari Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih. Ia menjelaskan, pemerintah kabupaten telah menerapkan aturan ketat terhadap investor yang ingin berinvestasi di wilayahnya.
“Kami mewajibkan setiap investor menampilkan DED dan SketchUp sebelum membangun. Itu untuk memastikan tidak ada pembangunan di lahan yang dilindungi dan tidak merusak bentang alam,” jelasnya.
Endah menambahkan, langkah tersebut menunjukkan komitmen pemerintah daerah untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Ia menegaskan, Gunungkidul tetap terbuka untuk investasi, namun ada batas yang harus ditaati demi menjaga karakter alam dan budaya lokal.
Menanggapi isu bahwa Pantai Sepanjang akan dibuat menyerupai Jimbaran di Bali, Endah meluruskan bahwa yang diadaptasi bukan bangunannya, melainkan sistem pemberdayaan pelaku usaha.
“Yang kami tiru bukan bangunannya, tapi sistem UMKM-nya. Bagaimana pedagang bisa berjualan sampai malam dengan tertib, tanpa harus membangun bangunan permanen yang merusak pemandangan pantai,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa semua penataan kawasan pesisir akan diatur melalui regulasi jelas agar tidak mengubah karakter alami pantai selatan.
Sementara itu, minat investor terhadap Gunungkidul terus meningkat. Keindahan pantai, potensi wisata alam, serta akses yang semakin mudah menjadikan wilayah ini sebagai magnet baru wisatawan. Namun di tengah geliat itu, muncul kekhawatiran bahwa pertumbuhan yang terlalu cepat dan tidak terkendali justru bisa mengikis kekhasan lokal.
Perdebatan ini melampaui urusan desain bangunan. Ini adalah perbincangan tentang arah pembangunan — apakah Gunungkidul akan tumbuh dengan meniru wajah daerah lain, atau memperkuat jati dirinya sendiri sebagai bagian dari Jogja yang berkarakter, sederhana, dan menyatu dengan alam.
Bagi GKR Mangkubumi dan pemerintah daerah, jawabannya jelas: investasi boleh datang, tapi jati diri harus tetap menjadi fondasi. Sebab, seperti yang ditegaskan GKR Mangkubumi, pada akhirnya yang membuat orang datang bukanlah tiruan, melainkan keaslian.

Leave a Reply