
JOSS.CO.ID – Nilai tukar rupiah (IDR) diproyeksi tertahan di zona merah, hingga mendekati level Rp 17.000 pada Jumat, 9 Januari 2026.
Pada perdagangan Kamis sore (8/1/2026), kurs rupiah ditutup melemah 18 poin terhadap dolar AS (USD), setelah sebelumnya sempat melemah 25 poin di level Rp 16.798 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.780.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.780 – Rp 16.810,” kata Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis pada Kamis (8/1/2026).
Kurs rupiah diproyeksi lanjut melemah setelah Kementerian Keuangan mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 melebar hingga mencapai Rp 695,1 triliun per 31 Desember 2025.
Rupiah juga diproyeksi melemah meski Bank Indonesia (BI) melaporkan kenaikan cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 ke level USD 156,5 miliar.
Kenaikan posisi cadangan devisa tersebut terutama bersumber dari penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global pemerintah, serta penarikan pinjaman pemerintah.
Prospek rupiah juga tertekan sentimen eksternal, salah satunya rilis ekonomi AS yang menunjukkan bahwa aktivitas bisnis membaik, sementara PMI Jasa ISM melonjak dari 52,6 menjadi 54,4, jauh melampaui ekspektasi 52,3.
“Fokus pasar selanjutnya adalah Klaim Pengangguran Awal mingguan yang akan dirilis malam ini dan laporan Nonfarm Payrolls Desember, yang akan dirilis hari Jumat,” ,” papar Ibrahim. Menurutnya, perkembangan tersebut akan menentukan pergerakan rupiah ke depan.
Selain itu, pergerakan rupiah juga dibayangi pelemahan imbas sentimen ketegangan geopolitik antara AS dan Venezuela, di mana Presiden Donald Trump berencana mengendalikan industri minyak negara itu.

Leave a Reply