Reza Pahlavi dan Protes Iran: Peran Putra Mahkota Terakhir

Reza Pahlavi dan Protes Iran: Peran Putra Mahkota Terakhir
Reza Pahlavi. Pic Reuters

Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir Iran yang hidup di pengasingan, kembali menjadi sorotan internasional seiring meluasnya demonstrasi anti-pemerintah di Iran. Dari luar negeri, ia tampil sebagai salah satu suara paling vokal yang mendorong warga Iran turun ke jalan dalam apa yang disebut sebagai gelombang protes terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Reza Pahlavi, 65 tahun, menyerukan agar demonstrasi terus berlanjut. Seruannya membantu mengubah protes yang awalnya dipicu oleh melemahnya ekonomi Republik Islam menjadi tantangan serius terhadap sistem teokrasi Iran.

Latar Belakang Reza Pahlavi

Reza Pahlavi lahir pada 31 Oktober 1960 dan dibesarkan sebagai pewaris takhta ayahnya, Shah Mohammad Reza Pahlavi. Ia menjadi putra mahkota setelah ayahnya mewarisi kekuasaan dari kakeknya, seorang perwira militer yang merebut kekuasaan di Iran dengan dukungan Inggris.

Foto-foto masa kecil menunjukkan Reza Pahlavi duduk di samping takhta ayahnya yang bertatahkan permata, mengenakan versi seragam shah untuk anak-anak. Namun, gaya hidup monarki yang mewah kala itu memicu ketidakpuasan di tengah masyarakat Iran yang terdampak kesenjangan ekonomi, inflasi, dan modernisasi cepat ekonomi berbasis minyak.

Menjelang Revolusi Islam 1979, Reza Pahlavi meninggalkan Iran dan pergi ke Amerika Serikat untuk menjalani pelatihan sebagai pilot tempur. Ia kemudian menulis bahwa dirinya sempat menawarkan diri untuk ikut bertempur dalam perang Iran-Irak pada 1980-an, namun tawaran tersebut ditolak.

Kehidupan di Pengasingan

Setelah kematian ayahnya, sebuah istana kerajaan di pengasingan mengumumkan bahwa Reza Pahlavi telah mengambil peran sebagai shah pada 31 Oktober 1980, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-20. Meski bersifat simbolis, pengumuman itu menuai pro dan kontra.

Selama hampir lima dekade di pengasingan—terutama di Los Angeles dan Washington DC—Reza Pahlavi aktif menyerukan referendum dan perubahan non-kekerasan di Iran. Ia juga menyelesaikan studi ilmu politik di University of Southern California, menikah, dan memiliki tiga anak.

Dukungan dan Kontroversi

Nama Reza Pahlavi kembali mencuat selama demonstrasi besar pada 2009 dan 2022, termasuk saat protes atas kematian Mahsa Amini, perempuan muda yang meninggal dalam tahanan polisi moral Iran. Ia secara terbuka mengkritik penguasa Iran dan menyerukan perubahan, yang membuatnya mendapatkan dukungan di kalangan diaspora Iran, khususnya di Amerika Serikat.

Namun, tingkat dukungannya di dalam Iran sulit diukur. Meski terdapat video terverifikasi di media sosial yang menunjukkan sebagian demonstran meneriakkan slogan “long live the shah”, banyak pula demonstran yang menyerukan perubahan politik secara menyeluruh tanpa merujuk pada monarki.

Media pemerintah Iran menggambarkan Reza Pahlavi sebagai sosok yang korup dan tidak memahami realitas Iran saat ini. Mereka juga menuduh “unsur teroris monarkis” berada di balik kerusuhan pada 8 Januari yang melibatkan pembakaran kendaraan dan serangan terhadap pos polisi.

Sikap Internasional dan Pernyataan Politik

Di luar negeri, Reza Pahlavi belum mendapatkan dukungan signifikan dari pemerintah Barat, baik di Washington maupun di ibu kota Eropa. Kunjungannya ke Israel pada 2023, di mana ia bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, justru memperdalam polarisasi di kalangan warga Iran.

Dalam pesannya sejak protes terbaru pecah—yang sebagian terhambat oleh pemutusan internet oleh pemerintah—Ia menyatakan kesiapan memimpin transisi politik. Reza Pahlavi sebelumnya menyampaikan gagasan Iran sebagai monarki konstitusional atau republik, tergantung pilihan rakyat.

“There is only one way to achieve peace: a secular, democratic Iran. I am here today to submit myself to my compatriots to lead them down this road to peace and a democratic transition,” ujar Reza Pahlavi dalam pidato yang diunggah di X pada 23 Juni.

Pernyataan tersebut menegaskan posisinya saat ini: bukan sebagai calon raja semata, melainkan figur simbolis yang menawarkan diri memimpin transisi menuju Iran yang sekuler dan demokratis.

Masa Depan yang Masih Dipertanyakan

Pendukung Reza Pahlavi melihatnya sebagai tokoh oposisi paling dikenal dengan komitmen jangka panjang terhadap perubahan damai. Sebaliknya, para pengkritiknya menilai ia belum berhasil membangun struktur oposisi yang kuat di dalam negeri dan masih bergantung pada dukungan asing.

Tanpa ruang politik terbuka dan jajak pendapat independen, sulit memastikan seberapa besar dukungan nyata terhadap Reza Pahlavi di dalam Iran. Yang jelas, namanya kembali menjadi bagian penting dalam perdebatan tentang masa depan negara yang masih bergulat dengan warisan masa lalu dan ketidakpastian arah politiknya.

Baca Juga:

Trump Tarik AS dari 66 Organisasi Internasional, Klaim Lindungi Kedaulatan dan Kepentingan Nasional

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*