Mahasiswa UI Belum Dapat Perlindungan Kampus Usai Teror dan Doxing

Mahasiswa UI Belum Dapat Perlindungan Kampus Usai Teror dan Doxing

JOSS.CO.ID, DEPOK – Salah satu mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Jordan Vito, mengaku belum mendapatkan perlindungan apa pun dari pihak kampus setelah mengalami teror dan doxing. Teror yang diterimanya berupa pengiriman paket berisi kain kafan dan senjata tajam jenis keris, serta upaya peretasan terhadap akun media sosial pribadinya.

Jordan mengungkapkan bahwa teror tersebut telah terjadi berulang kali. Ia menyebut sudah menerima lima paket mencurigakan, empat di antaranya diunggah ke media sosial untuk mendapatkan perhatian publik.

“Sudah lima kali saya dapat paket pengiriman. Empat kasus saya up ke media sosial. Tapi belum ada inisiatif langsung dari rektorat sebelum saya mengontak langsung pihak rektoratnya,” kata Jordan saat dihubungi pada Ahad, 18 Januari 2025.

Menurut Jordan, kasus teror yang dialaminya mendapat respons luas dari publik setelah ia membagikannya melalui akun X pribadi. Meski demikian, hingga kini belum ada langkah lanjutan dari pihak kampus. Ia mengaku telah menghubungi Direktorat Kemahasiswaan UI, namun belum memperoleh kejelasan tindak lanjut.

Jordan juga menyampaikan bahwa ia telah berkomunikasi langsung dengan rektor UI terkait kejadian tersebut.

“Kata rektor, rektor sudah berkoordinasi dengan PLK (Pengamanan Lingkungan Kampus), sudah berkoordinasi dengan Dirmawa. Baru sebatas itu,” ujarnya.

Ia menambahkan, setidaknya terdapat lima mahasiswa yang mengalami teror dan doxing dalam momentum pemilihan umum raya (pemira) UI. Namun, tidak semua mahasiswa yang menjadi korban telah mendapatkan perlindungan dari pihak kampus.

“Sejauh ini belum ada tindakan konkret yang dilakukan oleh pihak kampus dan fakultas. Tetapi saya masih coba terus update situasinya, kondisi saya secara pribadi ke mereka sebagai pihak yang berwenang. Karena saya mahasiswa di kampusnya begitu,” kata Jordan.

Jordan mengaku pengalaman ini merupakan kali pertama dirinya menghadapi teror dan doxing. Ia juga tidak dapat memastikan apakah rangkaian teror tersebut berkaitan langsung dengan pemira UI atau tidak. Meski demikian, ia berharap tidak ada lagi ancaman serupa di kemudian hari.

Sementara itu, pihak rektorat Universitas Indonesia menyatakan tengah membentuk tim investigasi gabungan untuk mengusut teror dan ancaman fisik terhadap kandidat Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI terpilih serta mahasiswa pendukungnya dalam pemilihan raya (pemira) BEM UI 2026. Langkah ini diambil menyusul meningkatnya intimidasi yang dinilai mencederai demokrasi kampus dan membahayakan keselamatan sivitas akademika.

Direktur Humas, Media, Pemerintah, dan Internasional UI, Erwin Panigoro, menegaskan bahwa kampus tidak menoleransi segala bentuk intimidasi dan kekerasan di lingkungan akademik.

“Pendampingan ini bukan wacana. Laporan resmi telah tercatat di Polres Metro Depok. Kami memastikan mahasiswa tidak berjalan sendirian menghadapi proses hukum ini,” ujar Erwin dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Ahad, 18 Januari 2026.

Baca Juga:

Terbukti Menghasut, Akun IG Laras Faizati Dimusnahkan, iPhone Dirampas

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*