Donasi Masjid Al Huda Gunungkidul Tembus Rp 100 Juta Usai Prank Donatur Rp 1,8 Miliar

Donasi Masjid Al Huda Gunungkidul Tembus Rp 100 Juta Usai Prank Donatur Rp 1,8 Miliar Baca artikel detikjogja, Nestapa Warga Wonosari Telanjur Robohkan Masjid Al Huda gegara Prank Donasi selengkapnya httpswww.detik.comjogjaberitad-8294637nestapa-warga-wonosari-telanjur-robohkan-masjid-al-huda-gegara-prank-donasi. Foto Masjid Al Huda Gunungkidul
Masjid Al Huda Gunungkidul pada saat dirobohkan (Foto: Istimewa)

JOSS.CO.ID, Gunungkidul – Masjid Al Huda yang berada di Padukuhan Gari, Wonosari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini justru mendapatkan gelombang solidaritas luas dari masyarakat setelah sempat menjadi korban prank donatur. Donasi pembangunan masjid terus mengalir dan telah mencapai ratusan juta rupiah, mayoritas berasal dari luar daerah.

Masjid Al Huda sebelumnya terpaksa dibongkar usai dua oknum menjanjikan donasi senilai Rp 1,8 miliar untuk pembangunan masjid baru. Namun, janji tersebut tidak pernah terealisasi sehingga warga harus beribadah di musala-musala kecil.

Donasi Masjid Al Huda Terkumpul Rp 100 Juta

Ketua II Takmir Masjid Al Huda, Budi Antoro, mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang terus berdatangan dari berbagai pihak.

“Alhamdulillah untuk donasi yang masuk sudah banyak, sementara ini kurang lebih terkumpul Rp 100 juta,” ujarnya.

Menurut Budi, dana donasi yang terkumpul saat ini digunakan untuk pembangunan talut, pondasi, serta pembayaran upah para pekerja. Proses pembangunan awal dilakukan secara bertahap menyesuaikan dengan ketersediaan dana.

Kisah Masjid Al Huda Gunungkidul ini pun menjadi pengingat bahwa kepedulian dan solidaritas umat mampu mengalahkan kekecewaan akibat prank donasi yang sempat mengguncang warga.

Kronologi Prank Donasi Masjid Al Huda

Warga Gari, Wonosari, Gunungkidul, harus gigit jari setelah terbuai janji donasi Rp 1,8 miliar untuk pembangunan masjid. Janji tersebut belakangan diketahui hanya prank, padahal bangunan masjid sudah telanjur dirobohkan.

Budi Antoro menjelaskan bahwa pembongkaran Masjid Al Huda bermula pada November 2025. Saat itu, dua orang yang mengaku berasal dari Gari dan Ngawen datang menanyakan rencana pembangunan masjid dan menemui sesepuh serta takmir.

“Syaratnya masjid kami harus dibongkar, dan akhirnya dalam waktu dua hari masjid kami bongkar pada bulan November,” kata Budi kepada detikJogja, Senin (5/1/2026).

Warga akhirnya menyetujui pembongkaran masjid. Namun setelah bangunan rata dengan tanah, donasi yang dijanjikan tidak kunjung datang.

“Tapi tidak ada sama sekali, tidak ada dana masuk sama sekali setelah pembongkaran itu,” ujarnya.

Dilarang Cari Donatur Lain

Kecurigaan pengurus masjid mulai muncul ketika pihak donatur melarang takmir mencari sumber bantuan lain. Oknum tersebut mengklaim akan menanggung hampir seluruh biaya pembangunan.

“Pada waktu itu kami mau mencari donatur saja tidak boleh, karena 99% sudah dari sana. Sehingga kami tidak punya persiapan apapun,” ucap Budi.

Oknum donatur juga sempat membawa sebuah yayasan untuk melakukan survei lokasi. Namun, survei tersebut ternyata tidak berujung pada persetujuan pendanaan.

“Kemudian karena kami sudah berkomunikasi langsung dengan yayasan, mereka menyatakan tadinya berminat menjadi donatur tapi mereka tidak bisa memutuskannya sendiri karena harus ada persetujuan dari komisaris dan pengurus lain. Lalu bulan Desember dihubungi kalau pengajuan kita tidak disetujui,” ujarnya.

Warga Terpaksa Beribadah di Musala

Akibat peristiwa tersebut, sekitar 320 kepala keluarga dengan total 850 jiwa di Padukuhan Gari kini beribadah di musala-musala kecil. Hal ini terjadi karena Masjid Al Huda merupakan satu-satunya masjid di wilayah tersebut.

“Karena posisi masjid sekarang rata dengan tanah,” katanya.

Janji Donasi Rp 1,8 Miliar

Budi mengungkapkan bahwa dua oknum tersebut menjanjikan pembangunan masjid hampir secara menyeluruh.

“Kalau bantuan yang dijanjikan dua okbum itu pembangunan masjid dari 0 Sampai 99 persen,” kata Ketua II Takmir Masjid Al Huda, Budi Antoro kepada wartawan di Gari, Wonosari, Gunungkidul, Selasa (6/1).

Ia menjelaskan bahwa pengurus masjid semakin yakin karena pihak donatur mengaku siap menanggung seluruh anggaran pembangunan.

“Bahkan kita mau membuat panitia pembangunan tidak boleh, kita mau buka donasi juga tidak boleh. Alasannya itu katanya mau dicukupi dari sana, dan itu yang membuat kami yakin,” ujar Budi.

“Jadi anggaran dan gambar berapapun siap, desain dari kita. Kalau dari kami anggarannya itu Rp 1,8 miliar karena masjidnya ada basemennya,” sambungnya.

Meski demikian, Budi menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin memperpanjang persoalan dengan dua oknum tersebut. Ia menyebut, rencana pembangunan masjid memang sudah lama ada di benak warga.

“Kita tidak salah-salahan, saat itu kita butuh dan tiba-tiba ada orang menawari lalu yakin saja,” ujarnya.

Baca Juga:

Prof Zainal Arifin Mochtar UGM Diteror Telepon Mengatasnamakan Polisi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*