Bahlil Lahadalia Cerita Sulit Tidur Pakai AC karena Lama Miskin, Singgung Masa Kecil Tanpa Listrik

Bahlil Lahadalia Cerita Sulit Tidur Pakai AC karena Lama Miskin, Singgung Masa Kecil Tanpa Listrik
Tangkapan Layar Youtube

JOSS.CO.ID, JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, membagikan kisah hidupnya yang penuh keterbatasan di masa lalu. Ia mengaku tumbuh besar di kampung halaman dengan kondisi serba kekurangan, termasuk tanpa akses listrik yang memadai. Pernyataan ini disampaikan saat rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI pada Kamis, 22 Januari 2026.

Pengalaman hidup tersebut, menurut Bahlil, membentuk cara pandangnya hingga kini menjabat sebagai menteri dan pimpinan partai politik nasional.

Perjalanan dari Kampung hingga Menjadi Menteri

Bahlil menegaskan bahwa latar belakang keluarga dan kondisi ekonomi tidak menjadi penghalang untuk meraih cita-cita besar. Ia menyampaikan pesan tersebut sebagai motivasi bagi generasi muda, khususnya yang berasal dari desa-desa terpencil.

“Saya lahir di kampung enggak punya mimpi jadi Menteri ESDM enggak punya mimpi jadi ketua umum Golkar tapi karena Allah Subhanahu wa taala dan perjuangan mengantarkan saya seperti ini,” ujar Bahlil.

Ia juga menyebut bahwa anak-anak desa yang saat ini hidup tanpa listrik memiliki peluang yang sama untuk menjadi pemimpin nasional di masa depan.

“Mungkin generasi kita ke depan mereka akan jadi presiden Republik Indonesia suatu saat,” katanya.

Sulit Tidur Pakai AC karena Terbiasa Hidup Sederhana

Dalam kesempatan tersebut, Bahlil turut mengungkap kebiasaan pribadinya yang masih terbawa hingga sekarang. Meski telah menjadi pejabat negara, ia mengaku tidak nyaman tidur menggunakan pendingin ruangan atau AC.

“Saya kalau tidur di AC itu enggak bisa Pak karena lama miskin gitu ya jujur aja saya di rumah itu tidur di AC enggak bisa dingin Pak,” ungkapnya.

Bahlil menyebut dirinya lebih nyaman tidur dengan kondisi sederhana seperti saat berada di kampung halaman di Papua.

“Saya biasa tidur di para-para apa namanya tempat kalau di Papua itu Kak Alvos yang para-para tidur di situ itu lebih nyenyak saya saking lama miskinnya,” tambah Bahlil.

Empati Rakyat Kecil dan Program Bela Rakyat

Pengalaman hidup di tengah keterbatasan tersebut, menurut Bahlil, menjadi alasan kuat di balik komitmennya menjalankan program-program yang berpihak kepada masyarakat kecil, khususnya di sektor energi.

Ia menegaskan tidak ingin masyarakat merasakan kesulitan yang sama seperti yang pernah ia alami di masa lalu.

“Saya tidak pengin saudara-saudara saya juga masih merasakan hal seperti itu ketika saya menjadi menteri di bidang energi,” pungkasnya.

Baca Juga:

Arcandra Tahar: Indonesia Masih Perlu Impor Minyak Mentah dan BBM

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*